Bagaimana
sejarah adanya Tuhan? Filsafat adalah ilmu olah pikir, sehingga jika filsafat
diukur dengan kitab suci belum tentu tepat. Tuhan mendahului segala sesuatu
yang diciptakan-Nya. Maka hanya Tuhan sendirilah yang mempunyai sejarah,
sedangkan sejarah manusia itu relative.
Sebenar-benar sejarah adalah hanya
milik Tuhan. Sehingga manusia tak mampu memahami hakikatnya sendiri. Bahkan
manusia tidak akan mampu memahami sejarah dirinya sendiri. Sejarah tuhan berada
di luar jangkauan pemahaman manusia, ini sudah termasuk wilayah spiritual.
Sejarah itu merentang dalam ruang dan waktu.
Sifat manusia tak dapat absolut,
karena manusia itu “multifaced”. Manusia tahu arti hidupnya karena itu adalah
kekurangannya. Manusia pluralisme ketika diturunkan ke dunia dan menjadi satu
ketika naik ke langit yaitu kuasamu. Secara filsafat, sikap manusia adalah
predikat dari subyek (wadah nya).
Bagaimanakah
pengetahuan dapat muncul dari keragu-raguan? Pengetahuan bisa muncul dari
keragu-raguan. Epicuranism yaitu keragu-raguan pertama yang dialami (oleh Riene
Descartes). Keragu-raguan itu mempunyai dimensi. Rene Descartes meragukan
semuanya tanpa terkecuali yang ada di dunia ini termasuk Tuhan. Keragu-raguan
itu muncul, dalam rangka untuk menemukan Tuhan. Jadi dalam berfikir filsafat,
harus komprehensif, bukan parsial atau setengah-setengah. Karena berpikir
filsafat itu, seperti proses menemukan yang ada dan mungkin ada.
Ada sebuah cerita, suatu saat
Rene Descartes bermimpi tentang sesuatu yang berkesan dan seperti sesuatu yang
nyata, hal ini menjadikan Rene Descartes bingung dan membuatnya tidak bisa
membedakan antara mimpi dan kenyataan. Kemudian tidak percaya dengan apa yang
dilihatnya, didengar, dan disentuh. Dari situ Rene Descartes dapat menyimpulkan
dan menemukan satu kepastian, yaitu bahwa yang mencari ketidakpastian tadi
adalah diriku.
“Aku ada karena aku bertanya dan memikirkannya”.
Berdasarkan
pernyataan inilah munculnya landasan Foundalisme.
Jumat, 11 Oktober 2013

0 komentar:
Posting Komentar
Komentar anda kami tunggu...