Hidup manusia tidak mungkin tidak atau tanpa masalah. Masalah akan
selalu hadir dalam setiap hari-hari kita. Ketika kita mempunyai masalah pasti
kita berfikir untuk menyelesaikannya secepat mungkin. Setelah masalah itu
selesai maka seakan beban berat itu telah hilang, terasa ploooong, ada
perasaan senang dalam diri kita. Namun terkadang kita merasakan masalah itu
tidak bersahabat dengan kita, datang tiba-tiba dalam waktu yang tidak tepat bertubi-tubi
banyaknya hingga membuat kita bosan dengan masalah. Seakan-akan yang kita
lakukan dalam hidup kita adalah hanya bergerak menghadapi masalah, masalah dan
masalah...
Jika sudah demikian maka kita tidak akan bisa menikmati anugrah
hidup yang Allah berikan. Tenaga dan fikiran kita akan terforsir hanya untuk
menghadapi permasalahan hidup. Sehingga kita perlu mencari sisi menarik dari
setiap permasalahan hidup kita agar dapat menikmati setiap detik-detik
kehidupan.
“… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya
tiada berputus asa dari rahmat Allah, melaikan kaum yang kafir”.
Masalah ini adalah bukti adanya kehidupan dalan diri kita, bukti
bahwa ada proses berfikir dalam otak kita. ketika kita dapat memandang suatu
ketidaknyamanan itu menjadi suatu masalah artinya ada respon dalam diri kita
terhadap fenomena yang terjadi dalam lingkungan kita. Semakin mudah kita
menyadari adanya masalah itu artinya semakin peka terhadap kondisi lingkungan.
Kemampuan inilah yang akan membentuk jiwa sosial dalam diri kita sehingga kita
mempunyai kepekaan sosial yang tinggi.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padaahal itu amat baik bagimu,
dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu; Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (2:216)”.
Tidak lulus ujian nasional itu adalah masalah, karena akan sulit
terbuka jalan untuk melanjutkan kuliyah di PT negeri. Tapi apakah kita dapat
menjamin ketika kita dapat bersekolah di PT negeri maka kita akan sukses?
Tidak! karena masih banyak cara untuk melajutkan kuliyah dan menjadi orang
sukses. Jika kita menjadi orang yang miskin kemudian banyak hutang di
mana-mana, apakah patut bagi kita untuk terus mengeluh saja? Tidak! mengeluh
hanya akan membuang-buang waktu saja. Pastinya yang harus kita lakukan adalah
terus bekerja keras untuk dapat melunasi hutang dan kemudian membangun ekonomi
keluarga. Atau ketika mempunyai penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan,
dalam kondisi keluarga yang kurang mampu hingga terasa sulit bagi kita
datangnya kesembuhan, apakah kita hanya berdiam diri menunggu kematian? Tidak!
Kita masih diuji Allah untuk terus berusaha, berdoa dan berserah diri.
Ingatlah firman Allah bahwa:“Janganlah kamu bersikap lemah, dan
janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling
tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”.
Sering kita terlalu berlebihan dalam memandang masalah. Sesuatu
yang kecil menjadi terasa berat dan besar hanya karena cara pandang kita yang
salah terhadap masalah. Terlalu banyak berfikir tentang solusi tanpa ada aksi itulah
yang menjadikan masalah terasa rumit. Mungkin, masalah yang kecil hanya akan
membutuhkan satu langkah penyelesaian saja. Namun, untuk permasalahan hidup
yang kompleks akan membutuhkan usaha dan langkah penyelesaian yang lebih
banyak. Maka tidak ada pilihan yang dapat kita lakukan selain bersabar, berdiri
tegak menghadapi masalah dan step by step berusaha untuk menghadapi
masalah tersebut dan doa. Karena lari dari masalah adalah ciri orang yang tidak
bertanggungjawab. Lari dari masalah bukan menghasilkan solusi tetapi hanya akan
menimbulkan masalah baru.
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah
kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah
kepada Allah supaya kamu beruntung (3:200)”.
Jalan hidup manusia itu laiknya iman yang digambarkan dengan kurva
persamaan kuadrat. Jika iman kita naik maka kita dapat bergerak ke atas
mencapai titik tertinggi (puncak) dan jika iman kita turun kita dapat jatuh
sampai padaa titik terendah. Bagaimana posisi keiman kita itu ditentukan oleh
seberapa kuat kita menghadapi masalah daam kehidupan kita. karena masalah itu
tidak lain adalah cobaan dan nikmat yang dianugrahkan Allah dalam hidup kita.
Jika kita tidak pernah mempunyai masalah dan selalu merasakan titik
aman dalam kehidupan kita, maka secara psikologis berpengaruh terhadap
kemampuan diri dalam mempertahankan diri. Posisi nyaman dan tenang akan
menjadikan manusia rentan terhadap masalah. Sedikit mempunyai masalah kecil
akan dirasakan sebagai pukulan berat. Hingga akan mudah putus asa, down,
dan sakit lahir batin. padahal setiap masalah pasti ada solusi yang menyertainya.
![]() |
| temukan solusi mu..... |
Ada kalanya kita mempunyai permasalahan menghadapi suatu masalah
yang kemudian menuntut kita untuk banyak bersabar. Setiap masalah dalam jalan
hidup ini adalah wujud cobaan, dan kasih sayang Allah kepada setiap hambanya. Dari
masalah inilah kita mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman hidup. Ketika
kita mampu melewati ujian Allah sepahit apapun itu maka sebagai hadiahnya Allah
akan menganugrahkan kesabaran dan kualitas diri yang baik dalam diri kita.
Ketika kita mendapatkan cobaan yang berat, terkadang kita berfikir
bahwa Allah tidak adil pada kita. Hingga memberikan cobaan dan masalah yang
rumit, padahal Allah sudah berfirman:
“Allah tidak akan membebani seseorang sesuai dengan
kesanggupannya…(2:286)”.
![]() |
| never ever give up! |
Sehingga kita perlu yakin bahwa Allah akan senantiasa membantu kita
jika kita mau. Seberapa besar usaha kita meminta pertolongan Allah itulah yang
menentukan. Semakin sungguh-sungguh dan banyak meminta maka Allah akan semakin
mudah membantu kita, karena Alah senang ketika hambanya berserah diri dan
banyak meminta. Sehingga perlu bagi kita untuk berhusnuzan terhdap datangnya
cobaan hidup. Bisa saja Allah memberikan cobaan berat karena ingin kita lebih
banyak dalam bersyukur. Dapat memandang orang lain yang nasibnya tidak sebaik
kita. Atau masalah itu menjadi teguran bagi kita karena semakin melupakan Allah
dan terlalu bersibuk diri dengan dunia hingga Allah menginginkan kita untuk
kembali mengingat Nya.
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya
yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu (2:45)”.
Puncak masalah dalam hidup kita bukanlah menjadi akhir dari hidup
kita, karena kita masih mempunyai Allah di atas sana. Dia lah sebaik-baik
tempat, sebaik-baik sandaran untuk kita berserah diri menghadirkan kekuatan
dalam menghadapi hidup. Jika suatu ketika kita menghadapi masalah besar maka,
kuatkanlah hati dan katakanlah bahwa kekuasaan Allah lebih besar. Sehingga
masalah dan ujian hidup ini dapat kita jadikan sebagai sarana kita untuk
mendekatkan diri kepada Allah swt.



