Minggu, 05 Agustus 2012

Dimana Puncak Kesabaran Kita???

Sering kali kita mendengar teman-teman kita yang mengeluhkan bahwa kesabaran saya benar-benar sudah habis atau dalam kondisi tertentu pernah mengatakan kepada orang lain bahwa saya ini kurang sabar apa coba?, dan lain sebagainya. Kata-kata itu mungkin tidak hanya sering kita dengar dari orang lain tetapi secara tidak sadar kita sendiri juga sering mengatakannya. Hingga kita merasa bahwa pada saat itu kesabaran kita telah habis dan merasa ini lah puncak kesabaran untuk menghadapi dinamika hidup yang kita hadapi.

Kesabaran itu tidak dapat habis namun akan terus bertambah. Seperti hukum kekekalan energi, bahwa energi tidak dapat dimusnahkan tetapi dapat diciptakan. Pun kesabaran, kesabaran manusia tidak akan pernah habis. Kesabaran itu dapat diciptakan dengan belajar mengendalikan ego dan keinginan kita. Jika kesabaran itu habis, maka kita tidak akan mampu menghadapi cobaan hidup setelah kehabisan kesabaran. Setiap cobaan dapat terselesaikan seiring dengan kemampuan menjaga kesabaran.

Keharusan bersabar tidak hanya terhadap musibah yang hadir dalam hidup kita, namun dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat juga membutuhkan kesabaran. Bersabar adalah menerima perlakuan dan aturan Allah atas diri kita sebagai makhluknya. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, sabar adalah menahan jiwa dari berputus asa, meredam amarah yang bergejolak, mencegah lisan berkeluh-kesah, menahan anggota badan dari berbuat kemungkaran.

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR Muslim)

Hadits diatas menggambarkan pesona manusia sebagai sosok seorang mukmin. Tidak mudah untuk mencapai derajad tersebut, karena hanya Allah lah yang Maha Mengetahui atas diri setiap manusia. Apakah kita sudah benar-benar beriman kepada Nya? Ujian kesabaran menjadi salah satu sarana Allah untuk menilai keimanan manusia. Seberapa mampu kita menerima musibah Allah. Seberapa besar kesungguhan kita dalam berserah diri kepada Nya. Seberapa besar usaha yang kita ikhtiarkan dalam mendapatkan keridhaan Nya. Dan seberapa kuat keistiqomahan kita dalam menjalankan ibadah pada kondisi tersebut.


success.....!!!
Salah satu hikmah dalam menjaga kesabaran itu adalah sifat bijak dalam memandang setiap cobaan. Memberikan keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah tidak lepas dari kehendak Allah. Allah lah Sang  sutradara hidup yang maha mengatur segalanya. Dengan demikian maka kita akan selalu berkhusnuzan terhadap kehendak Allah, belajar ikhlas untuk mengambil hikmah dalam setiap musibah. Berusaha menerima keadaan yang ada namun tetap semangat untuk terus berusaha dan berdoa memohon yang terbaik dalam hidup kita. Dan akhirnya mengazamkan diri untuk mempersembahkan prestasi terbaik dalam hidup ini menuju kesuksesan yang hakiki.

Kesabaran manusia akan terus bertambah seiring dengan kemampuan dalam melewati tantangan hidup. Semakin banyak tantangan yang menuntut kita untuk bersabar maka semakin banyak pengalaman kita dalam mencari strategi pmecahan masalah. Tingkat kesabaran itu akan semakin bertambah seiring dengan beratnya lika-liku hidup yang dialami.

Lalu dimana puncak kesabaran kita???

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Komentar anda kami tunggu...