Sering kali kita mendengar teman-teman kita yang mengeluhkan bahwa
kesabaran saya benar-benar sudah habis atau dalam kondisi tertentu pernah
mengatakan kepada orang lain bahwa saya ini kurang sabar apa coba?, dan lain sebagainya.
Kata-kata itu mungkin tidak hanya sering kita dengar dari orang lain tetapi
secara tidak sadar kita sendiri juga sering mengatakannya. Hingga kita merasa
bahwa pada saat itu kesabaran kita telah habis dan merasa ini lah puncak
kesabaran untuk menghadapi dinamika hidup yang kita hadapi.
Kesabaran itu tidak dapat habis namun akan terus bertambah. Seperti
hukum kekekalan energi, bahwa energi tidak dapat dimusnahkan tetapi dapat
diciptakan. Pun kesabaran, kesabaran manusia tidak akan pernah habis. Kesabaran
itu dapat diciptakan dengan belajar mengendalikan ego dan keinginan kita. Jika
kesabaran itu habis, maka kita tidak akan mampu menghadapi cobaan hidup setelah
kehabisan kesabaran. Setiap cobaan dapat terselesaikan seiring dengan kemampuan
menjaga kesabaran.
Keharusan bersabar tidak hanya terhadap musibah yang hadir dalam
hidup kita, namun dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat
juga membutuhkan kesabaran. Bersabar adalah menerima perlakuan dan aturan Allah
atas diri kita sebagai makhluknya. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, sabar adalah
menahan jiwa dari berputus asa, meredam amarah yang bergejolak, mencegah lisan berkeluh-kesah, menahan
anggota badan dari berbuat kemungkaran.
“Sungguh
menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik
baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang
mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia
mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia
tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut
merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR Muslim)
Hadits diatas menggambarkan pesona manusia sebagai sosok seorang
mukmin. Tidak mudah untuk mencapai derajad tersebut, karena hanya Allah lah
yang Maha Mengetahui atas diri setiap manusia. Apakah kita sudah benar-benar
beriman kepada Nya? Ujian kesabaran menjadi salah satu sarana Allah untuk
menilai keimanan manusia. Seberapa mampu kita menerima musibah Allah. Seberapa
besar kesungguhan kita dalam berserah diri kepada Nya. Seberapa besar usaha
yang kita ikhtiarkan dalam mendapatkan keridhaan Nya. Dan seberapa kuat
keistiqomahan kita dalam menjalankan ibadah pada kondisi tersebut.
![]() |
| success.....!!! |
Kesabaran manusia akan terus bertambah seiring dengan kemampuan
dalam melewati tantangan hidup. Semakin banyak tantangan yang menuntut kita untuk
bersabar maka semakin banyak pengalaman kita dalam mencari strategi pmecahan
masalah. Tingkat kesabaran itu akan semakin bertambah seiring dengan beratnya lika-liku
hidup yang dialami.
Lalu dimana puncak kesabaran kita???

0 komentar:
Posting Komentar
Komentar anda kami tunggu...