Kamis, 03 Mei 2012

Tanda Kesyukuran


Tanda Kesyukuran

Pernahkan terfikirkan oleh kita, berapa banyak nikmat yang telah diberikan kepada kita? Bagaimana kita bisa menghitung nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Dan apa yang harus kita lakukan untuk mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Apakah kita sudah termasuk hamba-hamba Allah yang bersyukur ataukah malah sebaliknya kufur terhadap nikmat Allah. Na’uzubillah…
            Terkadang kita merasa butuh Allah ketika kita sedang menghadapi dan mendapatkan berbagai macam masalah, dan cobaan. Dan merasa berat dengan apa yang telah ditimpakan Allah kepada kita. Mata jadi sering menagis, hati jadi sering mudah tersinggung, dan ibadahpun jadi lebih khusyuk. Kita seakan-akan sangat membutuhkan bantuan Allah pada saat itu. Selalu ingat Allah ketika kita membutuhkan energi kekuatan dariNya.
            Atau terkadang kita malah merasa bahwa Allah tidak adil sama kita. KarenaNya kita ditimpakan musibah tersebut. Merasa menjadi orang yang paling menderita.. Apalagi jika Allah memberikan musibah yang bertubi-tubi itu datang kepada kita. Seakan-akan ingin rasanya kita meninggalkan masalah tersebut atau menghindar dari masalah tersebut. Dan menganggapnya tidak pernah ada dalam kehidupan kita. Hingga kita berfikiran bahwa Allah sudah tidak tidak perduli lagi. Dan menyalahkan Allah atas diciptakannya kita kedunia ini.
            Orang hidup itu tidak akan pernah ada yang tidak mempunyai masalah. Setiap orang pasti mengalaminnya. Hanya tergantung dari bagaimana kita bisa menghadapai masalah tersebut dengan sabar dan bijaksana. Masalah dan musibah yang diberikan Allah kepada hambanya adalah wujud dari sayang Allah kepada kita. Sebagai latihan bagi kita untuk dapat meningkatkan kualitas diri kita. Maka selalu berkhusnuzan kepada Allah dalam segala hal adalah wajib.
Allah telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa musibah yang di timpakan kepada seorang hamba adalah sesuai dengan kekuatan yang ia miliki. Allah lebih tau tentang tentang segala-galanya. Jadi jangan pernah khawatir ketika kita mendapatkan musibah atau cobaan. Tapi tetaplah optimis, dan sandarkan semuanya kepada Allah. Yakinkan diri bahwa segala sesuatu itu pasti ada hikmah dan jalan keluarnya. Dan hanya kepada Allahlah kita berlindung. Jika sudah demikian maka yang dapat kita lakukan adalah bertawakal kepadaNya.
            Jika kita mampu menghadapi masalah tersebut berarti kita telah lulus dari ujian. Jadi kita dapat mengambil hikmah apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan Allah kepada kita. Karena mungkin, dengan cara melalui masalah tersebut kita bisa lebih pandai lagi dalam bersyukur. Hingga menbuat hati kita menjadi tenang dan tentram. Karena selalu merasa bahwa ada Allah yang akan selalu menbantu kita. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin untuk Allah jika itu sudah menjadi kehendaknya.
            Sebaliknya jika kita memandang masalah tersebut dari sudut pandang yang negative maka yang akan muncul hanyalah rasa sakit. Yang berawal dari hati kita dan akhirnya akan menyerang tubuh kita pula. Bahkan jika masalah yang kita alami difikirkan terus-menerus tanpa kita berusaha untuk menyandarkan diri kepada yang Kuasa. Yang timbul adalah stress. Selalu merasa kurang dan tidak dapat mencari celah untuk mensyukuri nikmat Allah. Sehingga hati tidak dapat merasa tenang. Akhirnya adalah tidak dapat merasakan indahnya hidup. Padahal hidup ini hanya sekali.
            Jika kita dapat merekam kembali ingatan kita. Betapa Allah telah memberikan banyak kenikmatan dan kemudahan. Yang tidak dapat kita kalkulasikan dengan angka berapa jumlahnya. Dari awal kita ada di dalam kandungan, kita dilahirkan kedunia, hingga besar seperti sekarang.
            Allah memberi fasilitas udara gratis, air yang banyak dan melimpah, kekayaan alam yang dapat kita manfaatkan untuk hidup manusia, orang tua yang menyayangi kita, teman-teman kita, keimanan dan petunjukNya, semua nikmat Allah tidak dapat disebutkan satu persatu karena banyaknya. Baik itu nikmat yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani kita, rohani kita ataupun, nikmat yang lain.
            “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”(Ar-Rahman:13).

            Patutkah kita menyalahkan Allah lagi?
            Jika kita dapat merenungkan dengan baik, Allah itu sebenarnya selalu menuntun manusia untuk dapat memahami dan menghargai sesuatu. Melalui cobaan sakit misalnya, jika kita dapat merasakan betapa tidak enaknya sakit itu. Sehingga dapat membuat kita sadar bahwa nikmat kesehatan itu harganya mahal sekali. Sehingga ketika kita dalam keadaan sehat dapat mensyukuri nikmat kesehatan tersebut. Padahal sehat hanyalah salah satu nikmat dari Allah. Itupun sudah sangat berarti sekali bagi kita.
            Orang yang banyak mendapatkan cobaan dan permasalahan dalam hidupnya akan memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan orang yang jarang mempunyai masalah. Masalah melatih kita untuk bersabar. Melatihkita untuk dapat berfikir tentang bagaimana cara kita menghadapi masalah tersebut, bagaimana cara kita mencari solusi terbaik. Dan membuat kita menjadi orang yang kuat, tidak mudah mengeluh dan putus asa. Karena sudah terbiasa menghadapi sesuatu yang berat. Jadi masalah dapat menjadikan kita menjadi lebih bijaksana dan dewasa dalam menghadapi berbagai hal.
            Jika kita dalam keadaan sempit, kekurangan materi. Bersyukurlah dengan apa yang telah kita punya. Maka Alllah akan menambah nikmat tersebut tanpa kita sadari.
            Sebagaimana firman Allah (dalam surat Ibrahim, 7): Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
            Jika kita merasa kurang ini, kurang itu, dan kurang, kurang dan kurang…
Berfikirlah bahwa masih banyak orang yang lebih kurang lagi dan lebih menderita dari pada kita. Tapi mereka bahagia dan dapat bersyukur kepada Allah. Lalu kenapa kita tidak? Orang yang tidak dapat mensyukuri nikmat yang Allah berikan adalah orang yang kufur. Didalam hatinya selalu gundah karena selalu merasa kurang, kurang dan kurang terus …
            Rasulullah bersabda: Llihatlah orang-orang yang ada di bawah kalian dan janganlah melihat orang-orang yang atas kalian karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak mengganggap rendah nikmat Allah yang telah di anugrahkan kepada kalian” (HR.Bukhari dan Muslim).
Lalu bagaimanakah cara kita untuk mengungkapkan rasa syukur kita? Dengan mengucapkan kalimat hamdalah, Alhamdulillahhirabbil’alamin (Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam) ketika mendapat kenikmatan adalah salah satu wujud dari kesyukuran kita.
            Cara mengungkapkan syukur dengan lesan saja tidak menjamin bahwa kita telah bersyukur karena hati manusia itu tidak dapat berbohong. Syukur dapat diwujudkan dengan mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita dengan diiringi dengan menggunakannya untuk melakukan kebaikan dan amalan. Memanfaatkan sarana yang kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Harta kita untuk beramal semampu kita, waktu kita untuk melakukan hal-hal yang mendatangkan pahala. Sebagimana dalam hadits nabi disebutkan:“Dua kenikmatan yang menbuat manusia lalai adalah nikmat waktu luang dan nikmat kesehatan”.
            Tulisan ini semoga dapat dijadikan evaluasi bersama sekaligus mengingtkan kepada kita betapa banyak nikma-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Hingga kita tidak menyadarinya bahwa semua itu adalah sangat penting bagi kita. Dan kita sering lupa untuk selalu mensyukurinya. 

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Komentar anda kami tunggu...