Tanda Kesyukuran
Pernahkan
terfikirkan oleh kita, berapa banyak nikmat yang telah diberikan kepada kita?
Bagaimana kita bisa menghitung nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada
kita. Dan apa yang harus kita lakukan untuk mensyukuri nikmat-nikmat tersebut.
Apakah kita sudah termasuk hamba-hamba Allah yang bersyukur ataukah malah
sebaliknya kufur terhadap nikmat Allah. Na’uzubillah…
Terkadang
kita merasa butuh Allah ketika kita sedang menghadapi dan mendapatkan berbagai
macam masalah, dan cobaan. Dan merasa berat dengan apa yang telah ditimpakan
Allah kepada kita. Mata jadi sering menagis, hati jadi sering mudah
tersinggung, dan ibadahpun jadi lebih khusyuk. Kita seakan-akan sangat
membutuhkan bantuan Allah pada saat itu. Selalu ingat Allah ketika kita
membutuhkan energi kekuatan dariNya.
Atau
terkadang kita malah merasa bahwa Allah tidak adil sama kita. KarenaNya kita
ditimpakan musibah tersebut. Merasa menjadi orang yang paling menderita.. Apalagi
jika Allah memberikan musibah yang bertubi-tubi itu datang kepada kita.
Seakan-akan ingin rasanya kita meninggalkan masalah tersebut atau menghindar
dari masalah tersebut. Dan menganggapnya tidak pernah ada dalam kehidupan kita.
Hingga kita berfikiran bahwa Allah sudah tidak tidak perduli lagi. Dan menyalahkan
Allah atas diciptakannya kita kedunia ini.
Orang
hidup itu tidak akan pernah ada yang tidak mempunyai masalah. Setiap orang
pasti mengalaminnya. Hanya tergantung dari bagaimana kita bisa menghadapai
masalah tersebut dengan sabar dan bijaksana. Masalah dan musibah yang diberikan
Allah kepada hambanya adalah wujud dari sayang Allah kepada kita. Sebagai
latihan bagi kita untuk dapat meningkatkan kualitas diri kita. Maka selalu
berkhusnuzan kepada Allah dalam segala hal adalah wajib.
Allah telah menjelaskan
di dalam Al-Qur’an bahwa musibah yang di timpakan kepada seorang hamba adalah
sesuai dengan kekuatan yang ia miliki. Allah lebih tau tentang tentang
segala-galanya. Jadi jangan pernah khawatir ketika kita mendapatkan musibah
atau cobaan. Tapi tetaplah optimis, dan sandarkan semuanya kepada Allah.
Yakinkan diri bahwa segala sesuatu itu pasti ada hikmah dan jalan keluarnya.
Dan hanya kepada Allahlah kita berlindung. Jika sudah demikian maka yang dapat
kita lakukan adalah bertawakal kepadaNya.
Jika
kita mampu menghadapi masalah tersebut berarti kita telah lulus dari ujian.
Jadi kita dapat mengambil hikmah apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan Allah
kepada kita. Karena mungkin, dengan cara melalui masalah tersebut kita bisa
lebih pandai lagi dalam bersyukur. Hingga menbuat hati kita menjadi tenang dan
tentram. Karena selalu merasa bahwa ada Allah yang akan selalu menbantu kita.
Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin untuk Allah jika itu sudah menjadi
kehendaknya.
Sebaliknya
jika kita memandang masalah tersebut dari sudut pandang yang negative maka yang
akan muncul hanyalah rasa sakit. Yang berawal dari hati kita dan akhirnya akan
menyerang tubuh kita pula. Bahkan jika masalah yang kita alami difikirkan
terus-menerus tanpa kita berusaha untuk menyandarkan diri kepada yang Kuasa.
Yang timbul adalah stress. Selalu merasa kurang dan tidak dapat mencari celah
untuk mensyukuri nikmat Allah. Sehingga hati tidak dapat merasa tenang.
Akhirnya adalah tidak dapat merasakan indahnya hidup. Padahal hidup ini hanya
sekali.
Jika
kita dapat merekam kembali ingatan kita. Betapa Allah telah memberikan banyak
kenikmatan dan kemudahan. Yang tidak dapat kita kalkulasikan dengan angka
berapa jumlahnya. Dari awal kita ada di dalam kandungan, kita dilahirkan
kedunia, hingga besar seperti sekarang.
Allah
memberi fasilitas udara gratis, air yang banyak dan melimpah, kekayaan alam
yang dapat kita manfaatkan untuk hidup manusia, orang tua yang menyayangi kita,
teman-teman kita, keimanan dan petunjukNya, semua nikmat Allah tidak dapat disebutkan
satu persatu karena banyaknya. Baik itu nikmat yang berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan jasmani kita, rohani kita ataupun, nikmat yang lain.
“Maka nikmat Tuhan
kamu yang manakah yang kamu dustakan?”(Ar-Rahman:13).
Patutkah
kita menyalahkan Allah lagi?
Jika
kita dapat merenungkan dengan baik, Allah itu sebenarnya selalu menuntun
manusia untuk dapat memahami dan menghargai sesuatu. Melalui cobaan sakit
misalnya, jika kita dapat merasakan betapa tidak enaknya sakit itu. Sehingga
dapat membuat kita sadar bahwa nikmat kesehatan itu harganya mahal sekali.
Sehingga ketika kita dalam keadaan sehat dapat mensyukuri nikmat kesehatan
tersebut. Padahal sehat hanyalah salah satu nikmat dari Allah. Itupun sudah
sangat berarti sekali bagi kita.
Orang
yang banyak mendapatkan cobaan dan permasalahan dalam hidupnya akan memiliki
kekuatan yang lebih dibandingkan orang yang jarang mempunyai masalah. Masalah
melatih kita untuk bersabar. Melatihkita untuk dapat berfikir tentang bagaimana
cara kita menghadapi masalah tersebut, bagaimana cara kita mencari solusi
terbaik. Dan membuat kita menjadi orang yang kuat, tidak mudah mengeluh dan
putus asa. Karena sudah terbiasa menghadapi sesuatu yang berat. Jadi masalah
dapat menjadikan kita menjadi lebih bijaksana dan dewasa dalam menghadapi
berbagai hal.
Jika
kita dalam keadaan sempit, kekurangan materi. Bersyukurlah dengan apa yang
telah kita punya. Maka Alllah akan menambah nikmat tersebut tanpa kita sadari.
Sebagaimana firman Allah (dalam
surat Ibrahim, 7): Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih".
Jika
kita merasa kurang ini, kurang itu, dan kurang, kurang dan kurang…
Berfikirlah bahwa masih banyak orang
yang lebih kurang lagi dan lebih menderita dari pada kita. Tapi mereka bahagia
dan dapat bersyukur kepada Allah. Lalu kenapa kita tidak? Orang yang tidak
dapat mensyukuri nikmat yang Allah berikan adalah orang yang kufur. Didalam
hatinya selalu gundah karena selalu merasa kurang, kurang dan kurang terus …
Rasulullah
bersabda: Llihatlah orang-orang yang ada
di bawah kalian dan janganlah melihat orang-orang yang atas kalian karena hal
itu lebih pantas agar kalian tidak mengganggap rendah nikmat Allah yang telah
di anugrahkan kepada kalian” (HR.Bukhari dan Muslim).
Lalu bagaimanakah cara
kita untuk mengungkapkan rasa syukur kita? Dengan mengucapkan kalimat hamdalah,
Alhamdulillahhirabbil’alamin (Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam)
ketika mendapat kenikmatan adalah salah satu wujud dari kesyukuran kita.
Cara
mengungkapkan syukur dengan lesan saja tidak menjamin bahwa kita telah
bersyukur karena hati manusia itu tidak dapat berbohong. Syukur dapat
diwujudkan dengan mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita dengan diiringi
dengan menggunakannya untuk melakukan kebaikan dan amalan. Memanfaatkan sarana
yang kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Harta kita untuk beramal
semampu kita, waktu kita untuk melakukan hal-hal yang mendatangkan pahala.
Sebagimana dalam hadits nabi disebutkan:“Dua
kenikmatan yang menbuat manusia lalai adalah nikmat waktu luang dan nikmat
kesehatan”.
Tulisan
ini semoga dapat dijadikan evaluasi bersama sekaligus mengingtkan kepada kita
betapa banyak nikma-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Hingga kita
tidak menyadarinya bahwa semua itu adalah sangat penting bagi kita. Dan kita
sering lupa untuk selalu mensyukurinya.

0 komentar:
Posting Komentar
Komentar anda kami tunggu...