Bulan April kemarin menjadi waktu yang begitu mencekam di
lingkungan sekolah tingkat SMP dan SMA sederajat di seluruh tanah air
Indonesia. Tetesan air mata mengiringi doa kesuksesan untuk menempuh ujian
nasional. Ujian nasional seakan menjadi momok bagi guru, siswa dan orang tua.
Semuanya menunggu pengumuman UN (Ujian Nasional) yang tidak lama lagi diumumkan tanggal 26 Mei besok untuk SMA sederajat, 2 Juni untuk SMP sederajat, sedangkan untuk SD tergantung
daerahnya..
Hiruk-pikuk UN telah membentuk satu paket fenomena psiko-sosio-kultural UN
dalam lingkungan masyarakat, sekolah, dan lembaga pendidikan. Ada yang
memandang UN secara wajar, sehingga respon prilaku yang ditimbulkan dalam
menghadapi UN pun dengan cara-cara yang rasional. Misalnya, dengan belajar
lebih rajin dan drill soal menjelang UN sesuai dengan kisi-kisi UN dan
memperbanyak ibadah. Namun, ada juga yang berlebihan pergi ke dukun, meminta
mantra dan rajah kepada orang pintar agar lulus. Kemudian di setiap sekolah
akan menggembleng para siswanya dengan
berbagai macam soal latihan dan memberikan motivasi untuk mempersiapkan
mental siswa menghadapi ujian nasional. Gambaran tersebut merupakan fenomena
yang sering terjadi di waktu-waktu menjelang ujian nasional.
Kemudian, dalam
pelaksanaan ujian nasional yang telah lalu-lalu tidak pernah luput dari
kejadian-kejadian curang dari pihak guru, pengawas maupun siswa. Banyak siswa
yang mencontek waktu UN berlangsung. Tidak sekedar lirik kanan-kiri atau
bertanya kepada temannya, namun menggunakan cara-cara yang lebih cerdas hingga saling
bertukar kunci jawaban tanpa diketahui pengawas. Entah siapa yang mengajari
mereka, namun inilah realitanya. Kemudian dari pihak guru maupun pengawas,
tidak semuanya memperlakukan siswa sesuai dengan peraturan ujian. Mungkin ada sebagian
kecil dari mereka yang menjalankan peraturan dengan baik, memperketat penjagaan
UN sehingga siswa tidak berkesempatan untuk melakukan kecurangan. Mengajari
siswa untuk jujur dan percaya pada hasil pemikiran diri sendiri. Namun, di luar
sana lebih banyak lagi guru yang bekerjasama dengan pengawas untuk memberikan
kunci jawaban kepada siswa. Atau melakukan usaha lain untuk membantu siswa
dengan alasan kasihan jika tidak lulus. Alasan apapun yang mendasari prilaku
curang tersebut tetap merupakan pelanggaran etika, ketidak jujuran akademik.
Tidak kalah hebohnya ketika masa-masa pengumuman kelulusan UN.
Dimanapun selalu diwarnai dengan corat-coret sebagai penanda kelulusan, pawai sepeda
motor para pelajar, histeria bagi yang lulus maupun tidak lulus, bahkan ada
yang sampai bunuh diri karena tidak di luluskan.
![]() |
| Perayaan lulus UN |
Selama ini ada pandangan keliru yang menganggap kelulusan siswa itu
menentukan masa depan siswa. Tidak lulus UN seakan dianggap telah gagal.
Kemudian siswa yang tidak lulus UN adalah siswa yang bodoh dan sebagainya.
Semua sekolah berusaha mati-matian untuk mengusahakan tingkat kelulusan 100%
dengan cara apapun untuk mempertahankan pestise sekolah. Sehingga sekolah
selama tiga tahun seakan hanya mengejar untuk mencapai target lulus.
Padahal tujuan UN bukan sekadar pemenuhan target kelulusan, tapi
sebagai tolak ukur mutu pendidikan di sekolah. Kemudian, kelulusan ujian
nasiona dapat menunjukkan prestasi Indonesia dalam skala nasional. Selama belum
ditemukan barometer yang lebih baik dari pada UN, maka UN tetap menjadi alat
evaluasi pendidikan yang terbaik keberhasilan peningkatan mutu pendidikan.
Selama ini proses belajar di sekolah hanya sebatas memenuhi target
UTS, UAS, ataupun UN, sehingga menjelang ujian disibukkan dengan program
bimbingan belajar dan pelatihan soal-soal yang diuji. Siswa tidak belajar untuk bagaimana untuk
menemukan dan memahami ilmu secara komprehensif, namun siswa diajari untuk sekadar
menjawab soal dan mendapatkan nilai yang baik pada setiap ulangan dan ujian.
Proses belajar ini kurang memberi bimbingan terhadap kreativitas dan
pola pikir anak didik, sehingga pengembangan rasa ingin tahu, wawasan, sikap
dan moral anak didik sudah terabaikan. Artinya sistem pendidikan sekarang ini
telah mengabaikan tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Pada tahun 2010 dan sebelumnya indeks pendidikan Indonesia di
tingkat dunia ditentukan oleh kelulusan dan nilai UN. Berdasarkan laporan
UNESCO badan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2010 yang membidangi pendidikan
dan kebudayaan, indeks pendidikan Indonesia di tingkat dunia menurun padahal
secara kuantitatif persentase lulusan pada tahun 2010 mengalami peningkatan.
Namun ternyata prestasi pendidikan tidak membaik, tetapi dalam indeks
pendidikan dunia terus menurun. Hingga ada evaluasi dari pemerintah untuk
memperbaiki sistem kelulusan pelajar. Mulai tahun 2011 nilai UN dan US menjadi
penentu kelulusan siswa SD, SMP dan SMA dengan perbandingan 60% : 40% untuk
nilai UN dan US. Peraturan ini muncul dengan landasan bahwa penilaian kemampuan
siswa mencakup tiga aspek, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat
dilakukan oleh guru yang mengetahui secara langsung kondisi siswa. Sehingga
dapat di wakili dengan nilai US yang diberikan oleh guru.
Pada 2011 kemarin angka kelulusan UN naik secara signifikan. Hampir
setiap daerah mencapai angka kelulusan lebih dari 99,5%. Seperti di Jayapura
angka kelulusan anak SMA mencapai 99,9% melebihi Jakarta yang hanya 99,52%. Secara
kulitas dapat dilihat lebih bagus dan secara kuantitatif menunjukkan angka
kelulusan lebih banyak dr tahun sebelumnya. Namun, jika dilogikakan bukankah
ada peluang kecurangan dalam nilai US 40% yang dapat dilakukan oleh guru.
Entahlah apakah memang ini menjadi pertanda bahwa ada perbaikan mutu pendidikan
di Indonesia??? Ataukah malah sistem ini menperluas peluang kecurangan yang
akan menjadikan semakin kaburnya tujuan pendidikan selama ini. Sehingga kita
sulit untuk meraba-raba kembali bagaimana kondisi mutu pendidikan di Indonesia.
Yang jelas, ujian nasional (UN) adalah satu bagian terkecil dari
proses ujian hidup. Masih terdapat ujian yang lebih besar lagi setelah lulus
UN. Namun, bukan berarti ujian nasional tidak ada artinya. Karena saat ini ujian
nasional menjadi salah satu penentu indeks prestasi Indonesia dalam skala
nasional. Semoga UN tahun ini memberikan dampak yang signifikan terhadap
perbaikan proses pembelajaran di Indonesia.

0 komentar:
Posting Komentar
Komentar anda kami tunggu...