Rabu, 07 November 2012

Membiasakan Siswa Beraturan

Membiasakan Siswa Beraturan


Berbicara tentang peraturan sekolah sangat berkaitan erat dengan nilai dan budaya yang melekat dalam lingkungan masyarakat. Tidak benar jika peraturan sekolah bertolak belakang dengan nilai dan etika masyarakat. Aturan sekolah diberlakukan dalam rangka mengatur dan  membiasakan siswa untuk belajar bertanggungjawab dalam berprilaku. Bukan sekadar membatasi gerak siswa namun lebih kepada pembiasaan untuk berprilaku luhur, baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Membiasakan siswa artinya menginternalkan setiap nilai dan norma agar menjadi akhlak yang melekat dalam diri siswa. Paraturan sekolah menjadi salah satu bentuk akomodasi sekolah dalam rangka penanaman karakter siswa. Peraturan sekolah harus menjadi pijakan dalam mencerdaskan karaktersiswa bukan sekadar memaksa dengan aturan dan hukuman.
Hakikat dari adanya peraturan sekolah adalah untuk menjadikan siswa taat dan patuh terhadap peraturan (disiplin) dan dan melakukan pembiasaan-pembiasaan yang lebih baik (mengatur dan membiasakan) dalam beribadah, belajar dan berakhlak terlepas seperti apa lingkungan dan kebiasaan siswa di luar sekolah. Sehingga dalam setiap tempat, waktu dan kondisi, siswa dapat menunjukkan cerminan diri yang baik.
kedisiplinan itu menyahatkan..
Beribadah menyangkut hubungan horizontal dengan Tuhan, belajar menjadi kebutuhan primer siswa untuk berprestasi di sekolah. Sedangkan pembiasaan siswa untuk berakhlak mulia ini lah yang menjadi tugas berat guru. Akhlak siswa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kebiasaan ibadah dan belajar siswa. Lebih luas lagi akhlak memberi warna dalam pergaulan dan pembentukan budaya sekolah pada umumnya.
Penegakan peraturan sekolah tidak boleh terkesan memaksa. Peraturan sekolah terkadang dipandang sebelah mata oleh siswa. Mainset siswa terhadap peraturan cenderung negative dan bersifat memaksa. Keluar dari sekolah seakan keluar dari penjara yang mengekang lagi membosankan. Dunia luar sekolah menjadi tempat pelampiasan untuk bergerak bebas melakukan apapun semaunya. Bukan seperti itu gambaran sekolah yang telah banyak mencetak orang-orang besar di Indonesia. Sekolah harus dipahami sebagai sarana yang asyik untuk happy fun, belajar dan bermain. Sekolah harus menjadi sarana untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman menarik yang belum pernah didapatkan siswa. Sehingga siswa dapat menikmati sekolah.
Dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang teratur, disiplin dan dinamis membutuhkan peran guru, wali siswa dan pihak-pihak yang terkait. Peran guru adalah menstrasformasikan peraturan menjadi pebiasaan yang menginternal dalam diri siswa. Peraturan sekolah akan lemah jika guru tidak kompak dalam penegakan peraturan atau bahkan malah melanggarnya. Guru sebagai pendidik mempunyai tanggungjawab moral sekaligus menjadi tauladan dalam penegakan kedisiplinan dan pembiasaan yang baik kepada siswa. Guru yang melakukan kesalahan akan sangat mudah untuk diketahui siswa. Sehingga sebagai seorang guru harus memperhatikan norma, etika dan adab dalam setiap tindak, tanduk dan tutur katannya. Seperti pepatah orang jawa bahwa “guru iku diggugu lan ditiru”. Guru harus senantiasa menunjukkan kesan yang baik dan menjadi inspirator siswa untuk melakukan kebaikan.
Terlepas dari kewajiban siswa untuk berdisiplin, peraturan sekolah tidak boleh bersifat mengekang. Artinya, penegakan aturan sekolah perlu mempertimbangkan hak dan kewajiban siswa. Peraturan sekolah tidak harus selalu saklek atau pun fleksibel. Suatu ketika harus bersifat saklek dan tidak dapat ditawar namun suatu ketika dapat pula berubah sesuai kebijakan guru dengan menyesuaikan kondisi. Peraturan sekolah harus tetap mempunyai kekuatan hukum yang menjadi landasan setiap elemen sekolah dalam menciptakan budaya sekolah yang baik dan mendidik siswa.
Penegakan peraturan sekolah yang kaku dan memaksa akan menimbulkan kesan negative pada siswa. Guru dapat menegakkan pearturan dengan cara yang lebih halus dan dapat diterima siswa. Pendekatan yang dapat dilakukan dalam mempermudah penegekan peraturan sekolah adalah dengan pendekatan spiritual, psikologi, personal dan hukuman.
Pendekatan spiritual ini untuk menggugah jiwa dan memahamkan siswa dengan melakukan pendekatan ketaatan kepada Tuhan. Ibadah adalah kewajiban yang harus dibiasakan kepada siswa sejak dini. Ibadah disini dapat diartikan secara luas baik ibadah mahdoh maupun ghoiru mahdoh. Siswa yang taat dalam beribaah cenderung mudah untuk diatur dan dinasehati. Kebiasaan siswa yang taat dalam menjalankan perintah agama akan berdampak pada budi pekerti dan prilakunya.
Pendekatan psikologi adalah dengan memahami psikologi/prilaku anak terhadap lingkungannya, baik lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Sekolah sebaiknya mampu mendominasi pengaruh-pengaruh yang lebih besar dalam membiasakan akhlak yang baik kepada siswa dibanding dengan kebiasaan siswa yang tidak baik di lingkungan luar sekolah. Maka, penting bagi guru memahami ilmu  psikologi untuk mengetahui kondisi psikologi anak. Dan tidak semua pelanggaran yang dilakukan oleh siswa bersumber dari siswa itu sendiri, faktor lain dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk tidak taat pada peraturan sekolah.
 Pendekatan personal, adalah kedekatan guru dan siswa dalam batas-batas yang wajar. Guru menjadi orang tua siswa di sekolah yang memahami siswa secara personal. Nuansa kekeluargaan dalam lingkungan sekolah akan mendukung nyamannya siswa untuk belajar. Kedekatan guru dan siswa akan berdampak pada kecenderungan siswa untuk patuh dan taat dengan perkataan guru. Kondisi ini memudahkan guru untuk memberikan pengaruh yang baik pada siswa dan meminimalisisr pemberontakan.
Pendekatan hukum/punisment ini adalah pemberian sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. hukuman ini dapat berpengaruh negative dan positif terhadap siswa. Siswa yang baik dapat memaknai hukuman sebagai teguran agar tidak menlanggar lagi. Siswa lain dapat memaknai hukuman dengan pemahaman lain, sehingga tidak bosan untuk melanggar dan dihukum. Hukuman fisik terkadang tidak memberikan pengaruh baik terhadap siswa sehingga sekolah harus cerdas dalam menentukan hukuman dalam setiap pelanggaran.
Sekolah adalah saran untuk membelajarkan siswa dengan sesuatu yang mendidik. Salah satunya adalah membiasakan siswa untuk disiplin mengikuti aturan. Aturan akan terasa mengekang jika guru tidak mampu mentransformasikan aturan sekolah sebagai pembiasaan yang mengintergral dalam diri siswa. Kebiasaan-kebiasaan yang baik di sekolah akn berpengaruh terhadap perkembangan siswa dalam hidup bersama keluarga dan bermasyarakat. Sehingga penanaman nilai kepada siswa sangat penting untuk menancapkan kepribadian yang mulia. Guru juga harus bijak dalam memandang siswa yang bermasalah dan juga harus adil untuk memberikan reward atas setiap keberhasilan siswa.

2 komentar:

obat kelenjar getah bening mengatakan...

iya bagus juga, saya setuju dengan peraturan ini.. salam kenal

Susanti mengatakan...

terimakasih atas coment nya..

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Komentar anda kami tunggu...