Membiasakan Siswa Beraturan
Berbicara tentang peraturan sekolah sangat berkaitan erat dengan
nilai dan budaya yang melekat dalam lingkungan masyarakat. Tidak benar jika
peraturan sekolah bertolak belakang dengan nilai dan etika masyarakat. Aturan
sekolah diberlakukan dalam rangka mengatur dan membiasakan siswa untuk belajar
bertanggungjawab dalam berprilaku. Bukan sekadar membatasi gerak siswa namun
lebih kepada pembiasaan untuk berprilaku luhur, baik dalam lingkungan sekolah
maupun dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Membiasakan siswa artinya
menginternalkan setiap nilai dan norma agar menjadi akhlak yang melekat dalam
diri siswa. Paraturan sekolah menjadi salah satu bentuk akomodasi sekolah dalam
rangka penanaman karakter siswa. Peraturan sekolah harus menjadi pijakan dalam
mencerdaskan karaktersiswa bukan sekadar memaksa dengan aturan dan hukuman.
Hakikat dari adanya peraturan sekolah adalah untuk menjadikan siswa
taat dan patuh terhadap peraturan (disiplin) dan dan melakukan pembiasaan-pembiasaan
yang lebih baik (mengatur dan membiasakan) dalam beribadah, belajar dan
berakhlak terlepas seperti apa lingkungan dan kebiasaan siswa di luar sekolah.
Sehingga dalam setiap tempat, waktu dan kondisi, siswa dapat menunjukkan cerminan
diri yang baik.
| kedisiplinan itu menyahatkan.. |
Beribadah menyangkut hubungan horizontal dengan Tuhan, belajar menjadi
kebutuhan primer siswa untuk berprestasi di sekolah. Sedangkan pembiasaan siswa
untuk berakhlak mulia ini lah yang menjadi tugas berat guru. Akhlak siswa
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kebiasaan ibadah dan belajar
siswa. Lebih luas lagi akhlak memberi warna dalam pergaulan dan pembentukan
budaya sekolah pada umumnya.
Penegakan peraturan sekolah tidak boleh terkesan memaksa. Peraturan
sekolah terkadang dipandang sebelah mata oleh siswa. Mainset siswa terhadap
peraturan cenderung negative dan bersifat memaksa. Keluar dari sekolah seakan
keluar dari penjara yang mengekang lagi membosankan. Dunia luar sekolah menjadi
tempat pelampiasan untuk bergerak bebas melakukan apapun semaunya. Bukan
seperti itu gambaran sekolah yang telah banyak mencetak orang-orang besar di
Indonesia. Sekolah harus dipahami sebagai sarana yang asyik untuk happy fun,
belajar dan bermain. Sekolah harus menjadi sarana untuk mendapatkan
pengalaman-pengalaman menarik yang belum pernah didapatkan siswa. Sehingga
siswa dapat menikmati sekolah.
Dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang teratur, disiplin
dan dinamis membutuhkan peran guru, wali siswa dan pihak-pihak yang terkait. Peran
guru adalah menstrasformasikan peraturan menjadi pebiasaan yang menginternal
dalam diri siswa. Peraturan sekolah akan lemah jika guru tidak kompak dalam
penegakan peraturan atau bahkan malah melanggarnya. Guru sebagai pendidik
mempunyai tanggungjawab moral sekaligus menjadi tauladan dalam penegakan
kedisiplinan dan pembiasaan yang baik kepada siswa. Guru yang melakukan
kesalahan akan sangat mudah untuk diketahui siswa. Sehingga sebagai seorang
guru harus memperhatikan norma, etika dan adab dalam setiap tindak, tanduk dan
tutur katannya. Seperti pepatah orang jawa bahwa “guru iku diggugu lan
ditiru”. Guru harus senantiasa menunjukkan kesan yang baik dan menjadi
inspirator siswa untuk melakukan kebaikan.
Terlepas dari kewajiban siswa untuk berdisiplin, peraturan sekolah
tidak boleh bersifat mengekang. Artinya, penegakan aturan sekolah perlu
mempertimbangkan hak dan kewajiban siswa. Peraturan sekolah tidak harus selalu
saklek atau pun fleksibel. Suatu ketika harus bersifat saklek dan tidak dapat
ditawar namun suatu ketika dapat pula berubah sesuai kebijakan guru dengan
menyesuaikan kondisi. Peraturan sekolah harus tetap mempunyai kekuatan hukum
yang menjadi landasan setiap elemen sekolah dalam menciptakan budaya sekolah
yang baik dan mendidik siswa.
Penegakan peraturan sekolah yang kaku dan memaksa akan menimbulkan
kesan negative pada siswa. Guru dapat menegakkan pearturan dengan cara yang
lebih halus dan dapat diterima siswa. Pendekatan yang dapat dilakukan dalam
mempermudah penegekan peraturan sekolah adalah dengan pendekatan spiritual, psikologi,
personal dan hukuman.
Pendekatan spiritual ini untuk menggugah jiwa dan memahamkan siswa
dengan melakukan pendekatan ketaatan kepada Tuhan. Ibadah adalah kewajiban yang
harus dibiasakan kepada siswa sejak dini. Ibadah disini dapat diartikan secara
luas baik ibadah mahdoh maupun ghoiru mahdoh. Siswa yang taat dalam beribaah
cenderung mudah untuk diatur dan dinasehati. Kebiasaan siswa yang taat dalam
menjalankan perintah agama akan berdampak pada budi pekerti dan prilakunya.
Pendekatan psikologi adalah dengan memahami psikologi/prilaku anak
terhadap lingkungannya, baik lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Sekolah
sebaiknya mampu mendominasi pengaruh-pengaruh yang lebih besar dalam
membiasakan akhlak yang baik kepada siswa dibanding dengan kebiasaan siswa yang
tidak baik di lingkungan luar sekolah. Maka, penting bagi guru memahami
ilmu psikologi untuk mengetahui kondisi
psikologi anak. Dan tidak semua pelanggaran yang dilakukan oleh siswa bersumber
dari siswa itu sendiri, faktor lain dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk
tidak taat pada peraturan sekolah.
Pendekatan personal, adalah
kedekatan guru dan siswa dalam batas-batas yang wajar. Guru menjadi orang tua
siswa di sekolah yang memahami siswa secara personal. Nuansa kekeluargaan dalam
lingkungan sekolah akan mendukung nyamannya siswa untuk belajar. Kedekatan guru
dan siswa akan berdampak pada kecenderungan siswa untuk patuh dan taat dengan
perkataan guru. Kondisi ini memudahkan guru untuk memberikan pengaruh yang baik
pada siswa dan meminimalisisr pemberontakan.
Pendekatan hukum/punisment ini adalah pemberian sanksi
terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. hukuman ini dapat berpengaruh
negative dan positif terhadap siswa. Siswa yang baik dapat memaknai hukuman
sebagai teguran agar tidak menlanggar lagi. Siswa lain dapat memaknai hukuman
dengan pemahaman lain, sehingga tidak bosan untuk melanggar dan dihukum.
Hukuman fisik terkadang tidak memberikan pengaruh baik terhadap siswa sehingga
sekolah harus cerdas dalam menentukan hukuman dalam setiap pelanggaran.
Sekolah adalah saran untuk membelajarkan siswa dengan sesuatu yang
mendidik. Salah satunya adalah membiasakan siswa untuk disiplin mengikuti
aturan. Aturan akan terasa mengekang jika guru tidak mampu mentransformasikan
aturan sekolah sebagai pembiasaan yang mengintergral dalam diri siswa.
Kebiasaan-kebiasaan yang baik di sekolah akn berpengaruh terhadap perkembangan
siswa dalam hidup bersama keluarga dan bermasyarakat. Sehingga penanaman nilai
kepada siswa sangat penting untuk menancapkan kepribadian yang mulia. Guru juga
harus bijak dalam memandang siswa yang bermasalah dan juga harus adil untuk
memberikan reward atas setiap keberhasilan siswa.
2 komentar:
iya bagus juga, saya setuju dengan peraturan ini.. salam kenal
terimakasih atas coment nya..
Posting Komentar
Komentar anda kami tunggu...