Kamis, 03 Mei 2012

Kecurangan di Lingkungan Para Pelajar


Kecurangan di Lingkungan Para Pelajar


Dalam perjalanan sejarah Indonesia, tidak lepas dari permasalahan yang disebut korupsi. Perbuatan curang opnum-opnum yang tidak bertanggungjawab ini bukan hanya mengakibatkan kerugian bangsa yang tidak terhitung jumlahnya tetapi juga menjadi virus utama yang menyebar dan membudaya dalam otak-otak kalangan atas yang memiliki kedudukan.
Kecurangan dalam bentuk korupsi tidak hanya terbatas kepada orang-orang yang duduk dalam kekuasaan yang tinggi saja, diparlemen misalnya, orang yang duduk dalam jajaran anggota DPR maupun MPR. Namun ini juga telah menular kepada perangkat-perangkat negara dikalangan bawah. Seperti kepala dusun, lurah dan lainnya.
Kecurangan dikalangan pejabat adalah korupsi untuk uang, sedangkan kecurangan dikalangan pelajar adalah menyontek untuk nilai. Ini adalah dua budaya yang berasal dari dua lingkungan yang berbeda namun sangat berkitan. Kecurangan-kecurangan yang kecil akan membentuk kebiasaan buruk dan akhirnya berani untuk melakukan kecurangan yang beasr.
 Dalam proses belajar, nilai bukanlah satu-satunya pengukur yang utama. Nilai hanya menunjukkan kemampuan siswa dalam ranah kognitifnya. Tidak dapat mengukur kemampuan afektif dan psikomotorik siswa.  Namun nilai merupakan parameter yang menunjukkan tingkat pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Menyontek merupakan tindak kejahatan sepele di kalangan pelajar yang paling mewabah dalam pendidikan di Indonesia. Perbuatan yang menipu dan membohongi kemampuan diri sendiri. Tidak hanya dalam masa-masa ujian kelulusan saja atau ujian kenaikan kelas seperti pada saat-saat sekarang namun juga dalam ulangan harian biasa. Perbuatan ini menunjukkan sikap tidak percaya diri atas kemampuan yang dimiliki. Tujuannya adalah untuk mendapatkan penghargaan atas nilai yang tidak terlalu buruk, sehingga tidak dicap sebagai siswa yang tertinggal dari temannya dan selamat dari teguran guru dan orang tua.  Inilah sikap yang terbentuk dikalangan pelajar saat ini. Lebih suka mencontoh hasil pemikiran orang lain, bukan menciptakan hasil pemikiran sendiri.
Budaya merupakan perbuatan yang terbentuk oleh kebiasaan masyarakat yang ada didalamnya. Jika budaya ini telah mengakar kuat dalam jiwa maka akan sangat sulit untuk menghilangkannya. Begitu pula menyontek jika perbuatan ini telah membudaya dalam diri pelajar maka akan sangat susah untuk menghilangkanya sampai ia belajar pada tingkat mahasiswa. Karena didalam diri pelajar tersebut telah terbentuk sikap dan kebiasaan yang tidak menghargai kemampuan dirinya. Menimbulkan sikap malas dan bergantung kepada orang lain.
      Tujuan dari pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak akan terealisasi, jika  banyak pelajar generasi penerus bangsa belajar hanya untuk main-main saja, tidak serius untuk belajar. Jika dulu pelajar tidak menyontek atau curang ketika ulangan karena takut dan malu jika dimarahi gurunya didepan kelas. Namun sekarang pelajar tidak takut dan malu lagi akan hal tersebut. Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia dapat tercapai jika pelajarnya seperti demikian.
        Budaya menyontek terjadi bukan hanya karena ada keinginan, namun juga karena peluang kesempatan yang mendorong perbuatan tersebut. Kepercayaan diri merupakan kunci dalam proses belajar. Itu artinya para pendidik perlu mengevaluasi diri, sudahkan ia mengajari dan mengarahkan siswa pada sikap mandiri, percaya diri, serta memahamkan siswa tentang arti dari sebuah belajar dan ilmu? Ataukah malah mengajari mereka untuk berbuat curang dalam ujian?
          Kondisi diatas merupakan PR besar bagi para guru dan pendidik di Indonesia. Kebiasaan menyontek dan kecurangan lainnya tidak dapat dikatakan sebagai perilaku yang sepele. Jika perbuatan ini terus dibiarkan maka akan semakin membudaya perbuatan curang dalam lingkungan sekolah dan akademik. Efeknya adalah sangat berbahaya bagi pribadinya dan orang lain. Akan muncul insan-insan Indonesia yang mempunyai kebiassaan curang. Perusak massa depan bangsa.
Dalam proses belajar perlu ditekankan penanaman sikap percaya diri dan objektif dalam diri pelajar sehingga akan terbentuk sikap penghargaan terhadap kemampuan diri sendiri dan menghilangkan sikap ketergantungan terhadap orang lain. Dalam lingkungan sekolah juga perlu diciptakan suasana kompetitif yang sehat dan objektif. Memang tidak mudah untuk menciptakan suasana tersebut. Namun hal ini dapat dilakukan dengan benar-benar menerapkan aturan dan tatatertib yang ada. selain melatih untuk bersikap disiplin penerapan tata tertib juga melatih siswa untuk patuh dan konsekuen terhadap aturan.
Tindakan strategis yang dapat dilakukan seorang guru dan tenaga pendidikan diberbagai tingkatan adalah dengan menciptakan kondisi yang sehat dalam setiap ulangan harian maupun ujian dengan tidak menciptakan peluang bagi pelajar untuk menyontek. Tindakan kecil ini merupakan latihan untuk membiasakan diri bagi palajar dan mahasiswa untuk memanfaatkan kecerdasan otaknya untuk berfikir dan menciptakan idenya sendiri. Bukan hanya mencontoh hasil pemikiran orang lain. Senantiasa memupuk semangat siswa untuk menguasai ilmu. Jika sudah demikian akan terbentuk pemahaman dalam diri pelajar bahwa yang terpenting dalam belajar adalah untuk mendapatkan pemahaman ilmu bukan untuk nilai.
Jika kondisi kompetitif yang objektif ini sedikit demi sedikit diterapkan diberbagai sekolah di Indonesia maka akan terbentuklah budaya yang baik dikalangan pelajar dan mahasiswa. Sikap percaya diri merupakan kunci dalam suatu pembelajaran dan pendidikan. Jika telah terbentuk kebiasaan dan kesadaran untuk menghargai diri sendiri maka akan muncul sikap percaya diri yang tinggi dan terbentuk insan pendidikan yang matang. Generasi yang siap membangun bangsa dengan kebesaran jiwanya.
Cepat atau lambat budaya belajar ini terbentuk adalah tergantung dari masyarakat didalamnya. Penciptaan budaya ini adalah tanggungjawab dari seluruh tenaga kependidikan di Indonesia. Semua memainkan peran dalam pendidikan sehingga semua juga ikut dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan pendidikan di Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.


                                                                                



0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Komentar anda kami tunggu...