Rabu, 05 Desember 2012

Sistem Kaderisasi Rasulullah

Sistem Kaderisasi Rasulullah

Proses kaderisasi merupakan hal yang sangat penting dalam dakwah kampus. Kaderisasi mempunyai fungsi produksi dan regenerasi. Proses kaderisasi dalam dakwah yang baik akan memproduksi dan mencetak kader yang baik pula. Secara kualitas dan kuantitas mempunyai kekuatan yang dapat mewujudkan visi dan misi dakwah. Karena pengkaderan tidak hanya berkaitan dengan perekrutan anggota saja tapi di samping itu perlu ada konsepan dalam pola pembinaan anggota baru sehingga menjadi anggota bagus yang siap diberi amanah dimanapun. Proses kaderisasi dakwah kampus harus mampu membentukan pemikiran, kepribadian, dan perilaku islami yang diharapkan.

Proses kaderisasi merupakan tugas mulia yang tidak mudah dan bukan suatu persoalan yang sederhana. Maka dibutuhkan kinerja bersama untuk mewujudkan regenerasi tangguh itu dengan berbagai pihak yang ada di dalam organisasi tersebut dan dibutuhkan mekanisme yang baik dalam rangka mencetak output kader yang diharapkan yakni mempunyai iltizam terhadap dakwah.

Rasulullah Muhammad saw merupakan contoh pemimpin luar biasa yang sangat layak kita contoh sistem kaderisasinya. Melalui tangan dingin nya pengaruh islam menyebar keseluruh pelosok dunia hanya dalam tempo 23 tahun sejak kerasulannya. Kader-kadernya banyak mencatatkan tinta emas dalam sejarah kehidupan manusia. Misalnya, Umar bin Khattab ketika menjadi khalifah pengaruh islam semakin kuat dengan banyaknya daerah kekuasaan islam saat itu. Banyak daerah yang dikuasai seperti kekuasaan Kekaisaran Byzantium dan Persia yang meliputi Palestina, Suriah, Iran, dan Turki.

Kaderisasi menurut islam diartikan sebagai usaha mempersiapkan calon-calon pemimpin hari esok yang tangguh dalam mempertahankan dan mengembangkan identitas khairu ummah, umat terbaik. Ini sesuai dengan seruan Allah dalam Al-Qur’an.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Ali Imran : 110)

Proses kaderisasi membutuhkan keteladanan. Seperti yang dicontohkan Rasulullah, yaitu dengan melakukan apa yang ia katakan. Sehingga kadernya menjadi taat dan melaksanakan apa yang beliau serukan. Allah swt juga telah mengingatkan kunci kaderisasi yang sukses dalam Al-Qur’an.

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. Ash-Shaff : 2-3)

Selanjutnya Rasulullah dalam melakukan kaderisasi selalu teratur dan terencana. Contoh diatas sudah cukup membuktikan bahwa kaderisasi yang beliau bangun selalu terencana dengan sangat baik. Allah swt memberi kunci kaderisasi selanjutnya dalam Al-Qur’an.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”
(Q.S. Ash-Shaff : 4)

Pengkaderan adalah sebagai ruh dari organisasi dan menjadi sarana regenarasi. Disinilah dibutuhkan ilmu manajemen organisasi, hal ini penting untuk menjaga agar kaderisasi tetap berlangsung. Jika manajemen organisasinya lumpuh maka hampur dapat dipastikan kaderisasinya juga akan lumpuh.

Setelah kita melakukan apa yang kita katakan lalu direncanakan dengan rapi maka selanjutnya peran pemimpinlah yang menentukan. Kaderisasi yang sukses tidak lepas dari peran pemimpin yang menjalankan tugas dengan baik. Itulah beberapa kiat yang Rasulullah lakukan dalam melakukan kaderisasi hingga meluasnya islam di seluruh dunia.

Jadi, jika kita integrasikan sistem kaderisasi kampus dengan sistem kaderisasi Rasulullah maka kaderisasi akan terus berjalan dan berkembang. Selanjutnya bila kaderisasi Rasulullah ini dibawa dan diterapkan dalam masyarakat maka akan tercipta masyarakat madani. Karena kita tidak akan kehabisan stok orang-orang hebat, terlatih, ter-tarbiyah dan terkader dengan baik.

Rabu, 07 November 2012

Membiasakan Siswa Beraturan

Membiasakan Siswa Beraturan


Berbicara tentang peraturan sekolah sangat berkaitan erat dengan nilai dan budaya yang melekat dalam lingkungan masyarakat. Tidak benar jika peraturan sekolah bertolak belakang dengan nilai dan etika masyarakat. Aturan sekolah diberlakukan dalam rangka mengatur dan  membiasakan siswa untuk belajar bertanggungjawab dalam berprilaku. Bukan sekadar membatasi gerak siswa namun lebih kepada pembiasaan untuk berprilaku luhur, baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Membiasakan siswa artinya menginternalkan setiap nilai dan norma agar menjadi akhlak yang melekat dalam diri siswa. Paraturan sekolah menjadi salah satu bentuk akomodasi sekolah dalam rangka penanaman karakter siswa. Peraturan sekolah harus menjadi pijakan dalam mencerdaskan karaktersiswa bukan sekadar memaksa dengan aturan dan hukuman.
Hakikat dari adanya peraturan sekolah adalah untuk menjadikan siswa taat dan patuh terhadap peraturan (disiplin) dan dan melakukan pembiasaan-pembiasaan yang lebih baik (mengatur dan membiasakan) dalam beribadah, belajar dan berakhlak terlepas seperti apa lingkungan dan kebiasaan siswa di luar sekolah. Sehingga dalam setiap tempat, waktu dan kondisi, siswa dapat menunjukkan cerminan diri yang baik.
kedisiplinan itu menyahatkan..
Beribadah menyangkut hubungan horizontal dengan Tuhan, belajar menjadi kebutuhan primer siswa untuk berprestasi di sekolah. Sedangkan pembiasaan siswa untuk berakhlak mulia ini lah yang menjadi tugas berat guru. Akhlak siswa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kebiasaan ibadah dan belajar siswa. Lebih luas lagi akhlak memberi warna dalam pergaulan dan pembentukan budaya sekolah pada umumnya.
Penegakan peraturan sekolah tidak boleh terkesan memaksa. Peraturan sekolah terkadang dipandang sebelah mata oleh siswa. Mainset siswa terhadap peraturan cenderung negative dan bersifat memaksa. Keluar dari sekolah seakan keluar dari penjara yang mengekang lagi membosankan. Dunia luar sekolah menjadi tempat pelampiasan untuk bergerak bebas melakukan apapun semaunya. Bukan seperti itu gambaran sekolah yang telah banyak mencetak orang-orang besar di Indonesia. Sekolah harus dipahami sebagai sarana yang asyik untuk happy fun, belajar dan bermain. Sekolah harus menjadi sarana untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman menarik yang belum pernah didapatkan siswa. Sehingga siswa dapat menikmati sekolah.
Dalam rangka menciptakan lingkungan sekolah yang teratur, disiplin dan dinamis membutuhkan peran guru, wali siswa dan pihak-pihak yang terkait. Peran guru adalah menstrasformasikan peraturan menjadi pebiasaan yang menginternal dalam diri siswa. Peraturan sekolah akan lemah jika guru tidak kompak dalam penegakan peraturan atau bahkan malah melanggarnya. Guru sebagai pendidik mempunyai tanggungjawab moral sekaligus menjadi tauladan dalam penegakan kedisiplinan dan pembiasaan yang baik kepada siswa. Guru yang melakukan kesalahan akan sangat mudah untuk diketahui siswa. Sehingga sebagai seorang guru harus memperhatikan norma, etika dan adab dalam setiap tindak, tanduk dan tutur katannya. Seperti pepatah orang jawa bahwa “guru iku diggugu lan ditiru”. Guru harus senantiasa menunjukkan kesan yang baik dan menjadi inspirator siswa untuk melakukan kebaikan.
Terlepas dari kewajiban siswa untuk berdisiplin, peraturan sekolah tidak boleh bersifat mengekang. Artinya, penegakan aturan sekolah perlu mempertimbangkan hak dan kewajiban siswa. Peraturan sekolah tidak harus selalu saklek atau pun fleksibel. Suatu ketika harus bersifat saklek dan tidak dapat ditawar namun suatu ketika dapat pula berubah sesuai kebijakan guru dengan menyesuaikan kondisi. Peraturan sekolah harus tetap mempunyai kekuatan hukum yang menjadi landasan setiap elemen sekolah dalam menciptakan budaya sekolah yang baik dan mendidik siswa.
Penegakan peraturan sekolah yang kaku dan memaksa akan menimbulkan kesan negative pada siswa. Guru dapat menegakkan pearturan dengan cara yang lebih halus dan dapat diterima siswa. Pendekatan yang dapat dilakukan dalam mempermudah penegekan peraturan sekolah adalah dengan pendekatan spiritual, psikologi, personal dan hukuman.
Pendekatan spiritual ini untuk menggugah jiwa dan memahamkan siswa dengan melakukan pendekatan ketaatan kepada Tuhan. Ibadah adalah kewajiban yang harus dibiasakan kepada siswa sejak dini. Ibadah disini dapat diartikan secara luas baik ibadah mahdoh maupun ghoiru mahdoh. Siswa yang taat dalam beribaah cenderung mudah untuk diatur dan dinasehati. Kebiasaan siswa yang taat dalam menjalankan perintah agama akan berdampak pada budi pekerti dan prilakunya.
Pendekatan psikologi adalah dengan memahami psikologi/prilaku anak terhadap lingkungannya, baik lingkungan sekolah maupun luar sekolah. Sekolah sebaiknya mampu mendominasi pengaruh-pengaruh yang lebih besar dalam membiasakan akhlak yang baik kepada siswa dibanding dengan kebiasaan siswa yang tidak baik di lingkungan luar sekolah. Maka, penting bagi guru memahami ilmu  psikologi untuk mengetahui kondisi psikologi anak. Dan tidak semua pelanggaran yang dilakukan oleh siswa bersumber dari siswa itu sendiri, faktor lain dapat menjadi pendorong bagi siswa untuk tidak taat pada peraturan sekolah.
 Pendekatan personal, adalah kedekatan guru dan siswa dalam batas-batas yang wajar. Guru menjadi orang tua siswa di sekolah yang memahami siswa secara personal. Nuansa kekeluargaan dalam lingkungan sekolah akan mendukung nyamannya siswa untuk belajar. Kedekatan guru dan siswa akan berdampak pada kecenderungan siswa untuk patuh dan taat dengan perkataan guru. Kondisi ini memudahkan guru untuk memberikan pengaruh yang baik pada siswa dan meminimalisisr pemberontakan.
Pendekatan hukum/punisment ini adalah pemberian sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. hukuman ini dapat berpengaruh negative dan positif terhadap siswa. Siswa yang baik dapat memaknai hukuman sebagai teguran agar tidak menlanggar lagi. Siswa lain dapat memaknai hukuman dengan pemahaman lain, sehingga tidak bosan untuk melanggar dan dihukum. Hukuman fisik terkadang tidak memberikan pengaruh baik terhadap siswa sehingga sekolah harus cerdas dalam menentukan hukuman dalam setiap pelanggaran.
Sekolah adalah saran untuk membelajarkan siswa dengan sesuatu yang mendidik. Salah satunya adalah membiasakan siswa untuk disiplin mengikuti aturan. Aturan akan terasa mengekang jika guru tidak mampu mentransformasikan aturan sekolah sebagai pembiasaan yang mengintergral dalam diri siswa. Kebiasaan-kebiasaan yang baik di sekolah akn berpengaruh terhadap perkembangan siswa dalam hidup bersama keluarga dan bermasyarakat. Sehingga penanaman nilai kepada siswa sangat penting untuk menancapkan kepribadian yang mulia. Guru juga harus bijak dalam memandang siswa yang bermasalah dan juga harus adil untuk memberikan reward atas setiap keberhasilan siswa.

Minggu, 05 Agustus 2012

.:l Menatap Indahnya Masalah


Hidup manusia tidak mungkin tidak atau tanpa masalah. Masalah akan selalu hadir dalam setiap hari-hari kita. Ketika kita mempunyai masalah pasti kita berfikir untuk menyelesaikannya secepat mungkin. Setelah masalah itu selesai maka seakan beban berat itu telah hilang, terasa ploooong, ada perasaan senang dalam diri kita. Namun terkadang kita merasakan masalah itu tidak bersahabat dengan kita, datang tiba-tiba dalam waktu yang tidak tepat bertubi-tubi banyaknya hingga membuat kita bosan dengan masalah. Seakan-akan yang kita lakukan dalam hidup kita adalah hanya bergerak menghadapi masalah, masalah dan masalah...
Jika sudah demikian maka kita tidak akan bisa menikmati anugrah hidup yang Allah berikan. Tenaga dan fikiran kita akan terforsir hanya untuk menghadapi permasalahan hidup. Sehingga kita perlu mencari sisi menarik dari setiap permasalahan hidup kita agar dapat menikmati setiap detik-detik kehidupan.
“… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melaikan kaum yang kafir”.
Masalah ini adalah bukti adanya kehidupan dalan diri kita, bukti bahwa ada proses berfikir dalam otak kita. ketika kita dapat memandang suatu ketidaknyamanan itu menjadi suatu masalah artinya ada respon dalam diri kita terhadap fenomena yang terjadi dalam lingkungan kita. Semakin mudah kita menyadari adanya masalah itu artinya semakin peka terhadap kondisi lingkungan. Kemampuan inilah yang akan membentuk jiwa sosial dalam diri kita sehingga kita mempunyai kepekaan sosial yang tinggi.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padaahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (2:216)”.
Tidak lulus ujian nasional itu adalah masalah, karena akan sulit terbuka jalan untuk melanjutkan kuliyah di PT negeri. Tapi apakah kita dapat menjamin ketika kita dapat bersekolah di PT negeri maka kita akan sukses? Tidak! karena masih banyak cara untuk melajutkan kuliyah dan menjadi orang sukses. Jika kita menjadi orang yang miskin kemudian banyak hutang di mana-mana, apakah patut bagi kita untuk terus mengeluh saja? Tidak! mengeluh hanya akan membuang-buang waktu saja. Pastinya yang harus kita lakukan adalah terus bekerja keras untuk dapat melunasi hutang dan kemudian membangun ekonomi keluarga. Atau ketika mempunyai penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan, dalam kondisi keluarga yang kurang mampu hingga terasa sulit bagi kita datangnya kesembuhan, apakah kita hanya berdiam diri menunggu kematian? Tidak! Kita masih diuji Allah untuk terus berusaha, berdoa dan berserah diri.
Ingatlah firman Allah bahwa:“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”.
Sering kita terlalu berlebihan dalam memandang masalah. Sesuatu yang kecil menjadi terasa berat dan besar hanya karena cara pandang kita yang salah terhadap masalah. Terlalu banyak berfikir tentang solusi tanpa ada aksi itulah yang menjadikan masalah terasa rumit. Mungkin, masalah yang kecil hanya akan membutuhkan satu langkah penyelesaian saja. Namun, untuk permasalahan hidup yang kompleks akan membutuhkan usaha dan langkah penyelesaian yang lebih banyak. Maka tidak ada pilihan yang dapat kita lakukan selain bersabar, berdiri tegak menghadapi masalah dan step by step berusaha untuk menghadapi masalah tersebut dan doa. Karena lari dari masalah adalah ciri orang yang tidak bertanggungjawab. Lari dari masalah bukan menghasilkan solusi tetapi hanya akan menimbulkan masalah baru.
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung (3:200)”.
Jalan hidup manusia itu laiknya iman yang digambarkan dengan kurva persamaan kuadrat. Jika iman kita naik maka kita dapat bergerak ke atas mencapai titik tertinggi (puncak) dan jika iman kita turun kita dapat jatuh sampai padaa titik terendah. Bagaimana posisi keiman kita itu ditentukan oleh seberapa kuat kita menghadapi masalah daam kehidupan kita. karena masalah itu tidak lain adalah cobaan dan nikmat yang dianugrahkan Allah dalam hidup kita.
Jika kita tidak pernah mempunyai masalah dan selalu merasakan titik aman dalam kehidupan kita, maka secara psikologis berpengaruh terhadap kemampuan diri dalam mempertahankan diri. Posisi nyaman dan tenang akan menjadikan manusia rentan terhadap masalah. Sedikit mempunyai masalah kecil akan dirasakan sebagai pukulan berat. Hingga akan mudah putus asa, down, dan sakit lahir batin. padahal setiap masalah pasti ada solusi yang menyertainya.
temukan solusi mu.....
Ada kalanya kita mempunyai permasalahan menghadapi suatu masalah yang kemudian menuntut kita untuk banyak bersabar. Setiap masalah dalam jalan hidup ini adalah wujud cobaan, dan kasih sayang Allah kepada setiap hambanya. Dari masalah inilah kita mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman hidup. Ketika kita mampu melewati ujian Allah sepahit apapun itu maka sebagai hadiahnya Allah akan menganugrahkan kesabaran dan kualitas diri yang baik dalam diri kita.
Ketika kita mendapatkan cobaan yang berat, terkadang kita berfikir bahwa Allah tidak adil pada kita. Hingga memberikan cobaan dan masalah yang rumit, padahal Allah sudah berfirman:
“Allah tidak akan membebani seseorang sesuai dengan kesanggupannya…(2:286)”.
never ever give up!
Sehingga kita perlu yakin bahwa Allah akan senantiasa membantu kita jika kita mau. Seberapa besar usaha kita meminta pertolongan Allah itulah yang menentukan. Semakin sungguh-sungguh dan banyak meminta maka Allah akan semakin mudah membantu kita, karena Alah senang ketika hambanya berserah diri dan banyak meminta. Sehingga perlu bagi kita untuk berhusnuzan terhdap datangnya cobaan hidup. Bisa saja Allah memberikan cobaan berat karena ingin kita lebih banyak dalam bersyukur. Dapat memandang orang lain yang nasibnya tidak sebaik kita. Atau masalah itu menjadi teguran bagi kita karena semakin melupakan Allah dan terlalu bersibuk diri dengan dunia hingga Allah menginginkan kita untuk kembali mengingat Nya.
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu (2:45)”.
Puncak masalah dalam hidup kita bukanlah menjadi akhir dari hidup kita, karena kita masih mempunyai Allah di atas sana. Dia lah sebaik-baik tempat, sebaik-baik sandaran untuk kita berserah diri menghadirkan kekuatan dalam menghadapi hidup. Jika suatu ketika kita menghadapi masalah besar maka, kuatkanlah hati dan katakanlah bahwa kekuasaan Allah lebih besar. Sehingga masalah dan ujian hidup ini dapat kita jadikan sebagai sarana kita untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dimana Puncak Kesabaran Kita???

Sering kali kita mendengar teman-teman kita yang mengeluhkan bahwa kesabaran saya benar-benar sudah habis atau dalam kondisi tertentu pernah mengatakan kepada orang lain bahwa saya ini kurang sabar apa coba?, dan lain sebagainya. Kata-kata itu mungkin tidak hanya sering kita dengar dari orang lain tetapi secara tidak sadar kita sendiri juga sering mengatakannya. Hingga kita merasa bahwa pada saat itu kesabaran kita telah habis dan merasa ini lah puncak kesabaran untuk menghadapi dinamika hidup yang kita hadapi.

Kesabaran itu tidak dapat habis namun akan terus bertambah. Seperti hukum kekekalan energi, bahwa energi tidak dapat dimusnahkan tetapi dapat diciptakan. Pun kesabaran, kesabaran manusia tidak akan pernah habis. Kesabaran itu dapat diciptakan dengan belajar mengendalikan ego dan keinginan kita. Jika kesabaran itu habis, maka kita tidak akan mampu menghadapi cobaan hidup setelah kehabisan kesabaran. Setiap cobaan dapat terselesaikan seiring dengan kemampuan menjaga kesabaran.

Keharusan bersabar tidak hanya terhadap musibah yang hadir dalam hidup kita, namun dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi maksiat juga membutuhkan kesabaran. Bersabar adalah menerima perlakuan dan aturan Allah atas diri kita sebagai makhluknya. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, sabar adalah menahan jiwa dari berputus asa, meredam amarah yang bergejolak, mencegah lisan berkeluh-kesah, menahan anggota badan dari berbuat kemungkaran.

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR Muslim)

Hadits diatas menggambarkan pesona manusia sebagai sosok seorang mukmin. Tidak mudah untuk mencapai derajad tersebut, karena hanya Allah lah yang Maha Mengetahui atas diri setiap manusia. Apakah kita sudah benar-benar beriman kepada Nya? Ujian kesabaran menjadi salah satu sarana Allah untuk menilai keimanan manusia. Seberapa mampu kita menerima musibah Allah. Seberapa besar kesungguhan kita dalam berserah diri kepada Nya. Seberapa besar usaha yang kita ikhtiarkan dalam mendapatkan keridhaan Nya. Dan seberapa kuat keistiqomahan kita dalam menjalankan ibadah pada kondisi tersebut.


success.....!!!
Salah satu hikmah dalam menjaga kesabaran itu adalah sifat bijak dalam memandang setiap cobaan. Memberikan keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah tidak lepas dari kehendak Allah. Allah lah Sang  sutradara hidup yang maha mengatur segalanya. Dengan demikian maka kita akan selalu berkhusnuzan terhadap kehendak Allah, belajar ikhlas untuk mengambil hikmah dalam setiap musibah. Berusaha menerima keadaan yang ada namun tetap semangat untuk terus berusaha dan berdoa memohon yang terbaik dalam hidup kita. Dan akhirnya mengazamkan diri untuk mempersembahkan prestasi terbaik dalam hidup ini menuju kesuksesan yang hakiki.

Kesabaran manusia akan terus bertambah seiring dengan kemampuan dalam melewati tantangan hidup. Semakin banyak tantangan yang menuntut kita untuk bersabar maka semakin banyak pengalaman kita dalam mencari strategi pmecahan masalah. Tingkat kesabaran itu akan semakin bertambah seiring dengan beratnya lika-liku hidup yang dialami.

Lalu dimana puncak kesabaran kita???

Sabtu, 23 Juni 2012

.:l EmbuN...


kilau embun pagi
pagi yang indah mengusik kesunyian
titik-titik embun membasahi rerumputan
menetes dari pucuk-pucuk dedaunan
jatuh membasahi bumi pertiwi
kilau sinar mu ketika diterpa mentari
membuat warna mu kina berseri

Kamis, 24 Mei 2012

Fenomena Bernama UN

Bulan April kemarin menjadi waktu yang begitu mencekam di lingkungan sekolah tingkat SMP dan SMA sederajat di seluruh tanah air Indonesia. Tetesan air mata mengiringi doa kesuksesan untuk menempuh ujian nasional. Ujian nasional seakan menjadi momok bagi guru, siswa dan orang tua. Semuanya menunggu pengumuman UN (Ujian Nasional) yang tidak lama lagi diumumkan tanggal 26 Mei besok untuk SMA sederajat, 2 Juni untuk SMP sederajat, sedangkan untuk SD tergantung daerahnya..
Hiruk-pikuk UN telah membentuk satu paket fenomena psiko-sosio-kultural UN dalam lingkungan masyarakat, sekolah, dan lembaga pendidikan. Ada yang memandang UN secara wajar, sehingga respon prilaku yang ditimbulkan dalam menghadapi UN pun dengan cara-cara yang rasional. Misalnya, dengan belajar lebih rajin dan drill soal menjelang UN sesuai dengan kisi-kisi UN dan memperbanyak ibadah. Namun, ada juga yang berlebihan pergi ke dukun, meminta mantra dan rajah kepada orang pintar agar lulus. Kemudian di setiap sekolah akan menggembleng para siswanya dengan  berbagai macam soal latihan dan memberikan motivasi untuk mempersiapkan mental siswa menghadapi ujian nasional. Gambaran tersebut merupakan fenomena yang sering terjadi di waktu-waktu menjelang ujian nasional.
Kemudian, dalam pelaksanaan ujian nasional yang telah lalu-lalu tidak pernah luput dari kejadian-kejadian curang dari pihak guru, pengawas maupun siswa. Banyak siswa yang mencontek waktu UN berlangsung. Tidak sekedar lirik kanan-kiri atau bertanya kepada temannya, namun menggunakan cara-cara yang lebih cerdas hingga saling bertukar kunci jawaban tanpa diketahui pengawas. Entah siapa yang mengajari mereka, namun inilah realitanya. Kemudian dari pihak guru maupun pengawas, tidak semuanya memperlakukan siswa sesuai dengan peraturan ujian. Mungkin ada sebagian kecil dari mereka yang menjalankan peraturan dengan baik, memperketat penjagaan UN sehingga siswa tidak berkesempatan untuk melakukan kecurangan. Mengajari siswa untuk jujur dan percaya pada hasil pemikiran diri sendiri. Namun, di luar sana lebih banyak lagi guru yang bekerjasama dengan pengawas untuk memberikan kunci jawaban kepada siswa. Atau melakukan usaha lain untuk membantu siswa dengan alasan kasihan jika tidak lulus. Alasan apapun yang mendasari prilaku curang tersebut tetap merupakan pelanggaran etika, ketidak jujuran akademik.
Tidak kalah hebohnya ketika masa-masa pengumuman kelulusan UN. Dimanapun selalu diwarnai dengan corat-coret sebagai penanda kelulusan, pawai sepeda motor para pelajar, histeria bagi yang lulus maupun tidak lulus, bahkan ada yang sampai bunuh diri karena tidak di luluskan.
Perayaan lulus UN
Selama ini ada pandangan keliru yang menganggap kelulusan siswa itu menentukan masa depan siswa. Tidak lulus UN seakan dianggap telah gagal. Kemudian siswa yang tidak lulus UN adalah siswa yang bodoh dan sebagainya. Semua sekolah berusaha mati-matian untuk mengusahakan tingkat kelulusan 100% dengan cara apapun untuk mempertahankan pestise sekolah. Sehingga sekolah selama tiga tahun seakan hanya mengejar untuk mencapai target lulus.
Padahal tujuan UN bukan sekadar pemenuhan target kelulusan, tapi sebagai tolak ukur mutu pendidikan di sekolah. Kemudian, kelulusan ujian nasiona dapat menunjukkan prestasi Indonesia dalam skala nasional. Selama belum ditemukan barometer yang lebih baik dari pada UN, maka UN tetap menjadi alat evaluasi pendidikan yang terbaik keberhasilan peningkatan mutu pendidikan.
Selama ini proses belajar di sekolah hanya sebatas memenuhi target UTS, UAS, ataupun UN, sehingga menjelang ujian disibukkan dengan program bimbingan belajar dan pelatihan soal-soal yang diuji. Siswa tidak belajar untuk bagaimana untuk menemukan dan memahami ilmu secara komprehensif, namun siswa diajari untuk sekadar menjawab soal dan mendapatkan nilai yang baik pada setiap ulangan dan ujian. Proses belajar ini kurang memberi bimbingan terhadap kreativitas dan pola pikir anak didik, sehingga pengembangan rasa ingin tahu, wawasan, sikap dan moral anak didik sudah terabaikan. Artinya sistem pendidikan sekarang ini telah mengabaikan tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Pada tahun 2010 dan sebelumnya indeks pendidikan Indonesia di tingkat dunia ditentukan oleh kelulusan dan nilai UN. Berdasarkan laporan UNESCO badan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2010 yang membidangi pendidikan dan kebudayaan, indeks pendidikan Indonesia di tingkat dunia menurun padahal secara kuantitatif persentase lulusan pada tahun 2010 mengalami peningkatan. Namun ternyata prestasi pendidikan tidak membaik, tetapi dalam indeks pendidikan dunia terus menurun. Hingga ada evaluasi dari pemerintah untuk memperbaiki sistem kelulusan pelajar. Mulai tahun 2011 nilai UN dan US menjadi penentu kelulusan siswa SD, SMP dan SMA dengan perbandingan 60% : 40% untuk nilai UN dan US. Peraturan ini muncul dengan landasan bahwa penilaian kemampuan siswa mencakup tiga aspek, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat dilakukan oleh guru yang mengetahui secara langsung kondisi siswa. Sehingga dapat di wakili dengan nilai US yang diberikan oleh guru.
Pada 2011 kemarin angka kelulusan UN naik secara signifikan. Hampir setiap daerah mencapai angka kelulusan lebih dari 99,5%. Seperti di Jayapura angka kelulusan anak SMA mencapai 99,9% melebihi Jakarta yang hanya 99,52%. Secara kulitas dapat dilihat lebih bagus dan secara kuantitatif menunjukkan angka kelulusan lebih banyak dr tahun sebelumnya. Namun, jika dilogikakan bukankah ada peluang kecurangan dalam nilai US 40% yang dapat dilakukan oleh guru. Entahlah apakah memang ini menjadi pertanda bahwa ada perbaikan mutu pendidikan di Indonesia??? Ataukah malah sistem ini menperluas peluang kecurangan yang akan menjadikan semakin kaburnya tujuan pendidikan selama ini. Sehingga kita sulit untuk meraba-raba kembali bagaimana kondisi mutu pendidikan di Indonesia.
Yang jelas, ujian nasional (UN) adalah satu bagian terkecil dari proses ujian hidup. Masih terdapat ujian yang lebih besar lagi setelah lulus UN. Namun, bukan berarti ujian nasional tidak ada artinya. Karena saat ini ujian nasional menjadi salah satu penentu indeks prestasi Indonesia dalam skala nasional. Semoga UN tahun ini memberikan dampak yang signifikan terhadap perbaikan proses pembelajaran di Indonesia.

Senin, 07 Mei 2012

Tantangan abad 21 ini....



Tantangan abad 21 ini... Tantangan abad 21 ini menuntut siswa untuk berkembang mempunyai perangkat berfikir dan perangkat ketrampilan untuk menghadapi realitas baru. Abad knowledge area, dimana pengetahuan menjadi kebutuhan yang tidak terbatas untuk mencapai kesejahteraan manusia. Perkembangan ilmu dan teknologi informasi semakin berkembang sehingga tantangan hidup pun menjadi lebih kompleks. Namun, ini juga memberikan dampak kehidupan manusia yang lebih berkualitas. Peluang untuk meningkatkan kapasitas diri terbuka luas bagi siapapun yang ingin bergerak maju. Pun Indonesia sebagai negara berkembang tidak luput dari efek yang mendunia tersebut. Globalisasi ini menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan.
Saat ini, masih sering dijumpai proses belajar yang hanya melakukan transfer fakta dan informasi. Sehingga siswa hanya belajar dari apa yang di sampaikan guru. Belajar tentang fakta merupakan tingkatan terrendah dalam proses belajar. Ilmu yang didapatkan siswa sekedar ilmu praktis dan teoritis tapi kurang aplikatif. Padahal hakikat dari pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Selain meningkatkan intelektualitas tapi juga harus membawa kebermanfaatan. Belajar seharusnya tidak hanya mengajari bagaimana siswa dapat mengerjakan ulangan dan ujian sehingga mendapat nilai tinggi. Tetapi lebih dari bagaimana siswa dapat memanfaatkan dan mengembangkan ilmu yang ada untuk mendapatkan ide baru. Yakni, progresif dan inovatif memandang dunia masa depan.
Banyak realita yang menggambarkan bagaimana pelajar kehilang tujuannya. Jumlah mahasiswa Indonesia saat ini mencapai 4,8 juta orang. Sebesar 18,4% dari jumlah penduduk Indonesia. Masih jauh dari targetan yang disampaikan Muhammad Nuh, Mendiknas yang menargetkan 30% angka partisipasi kasar mahasiswa pada 2014. Meskipun masih jauh dari ideal namun jumlah ini sudah cukup bagus untuk membuat Indonesia berprestasi. Banyaknya akademisi tersebut belum memberikan efek yang signifikan dalam membangun perbaikan dalam kehidupan bernegara. Apa yang salah dengan proses pendidikan sekarang ini???
Kompleksitas hidup dalam beberapa tahun kedepan menjadi tantangan dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Ibarat suatu perusahaan dalam melakukan usaha produksinya. Suatu produk yang dibuat dengan bahan-bahan pilihan, menggunakan teknologi yang bagus dan di buat oleh tangan-tangan yang kompeten maka akan menghasilkan produk yang bagus yang memberikan kebermanfaatan yang lebih. Kemudian ditambah dengan manajemen yang teratur maka secara kuantitas pun mencapai targetan yang di rencanakan oleh perusaan.
Produk dari pendidikan merupakan output kualitas siswa, prestasi dan pengaruhnya dalam masyarakat dan lingkungannya. Proses belajar yang hanya sekedar mencapai target lulus atau mengejar penyampaian materi tidak akan mampu mencetak produk yang bagus. Sehingga grade tujuan proses belajar ini harus ditujukan untuk memcapai kemampuan hight order thinking (HOT) atau kemampuan berfikir tingkat tinggi. Yakni membentuk siswa untuk berfikir secara kritis, kreatif, analitis, aplikatif dan inovatif. Pengembangan hight order thinking ini memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan potensinya. Disamping itu juga pencapaian mutu dan standarisasi pendidikan yang telah ditentukan.
Untuk mengembangkan hight order thinking memang tidak mudah, namun bukan menjadi hal yang tidak mungkin. Hakikat manusia tidak ada yang bodoh, namun proses  perkembangan dirinya yang membuat tertinggal dengan orang lain. Proses pembiasaan siswa untuk berfikir kreatif, kritis, dan analitis menjadi kuncinya. Dalam berbagai disiplin ilmu dan mata pelajaran sekolah dapat dikembangkan kemampuan hight order thinking. Orang yang terbiasa untuk berfikir tingkat tinggi merupakan tipe orang yang solutif dan up to date terhadap perkembangan zaman. Lebih mudah dalam beradaptasi terhadap tantangan perkembangan zaman. Terbiasa untuk menghadapi persoalan yang tidak rutin membuat otak terbiasa untuk berfikir kreatif dan imajinatif.
Pengembangan hight order thinking ini merupakan upaya yang cerdas yang dapat meningkaatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Jika setiap pendidik mampu mengaplikasikan dan mempunyai metode yang tepat dalam mengembangkan kemampuan siswa maka akan sangat mudah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Permasalahan pendidikan ini tidak melulu masalah kelulusan UAN, kebodohan dan ketertinggalan namun lebih kepada inovasi dan prestasi. Sehingga diperlukan inovasi dan ide pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut baik dari para akademisi, pendidik maupun peneliti dibidangnya. 

Kenapa Harus Sekolah?


Kenapa Harus Sekolah???

Menurut KBBI, hakikat dari belajar merupakan usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu atau perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Sedangkan menurut aliran psikologi kognitif belajar dipandang sebagai proses bermakna untuk mengkonstruksi pengetahuan. Sekolah formal merupakan salah satu sarana efektif dalam proses belajar. Kurikulum pendidikan yang ada memfasilitasi pelajar untuk mengembangkan kemampuannya sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan siswa. Di luar pendidikan formal terdapat pendidikan non-formal dan informal. Meskipun demikian, pendidikan formal tetap menjadi acuan yang menentukan kualitas pendidikan suatu bangsa.


Pendidikan belumlah dianggap sebagai kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia. Harus diakui tingkat kesadaran para orang tua dalam memikirkan pendidikan putra putrinya masih biasa-biasa saja. Hanya sedikit masyarakat yang menyadari akan pentingnya pendidikan. Sekolah adalah yang penting bisa baca dan pintar menghitung, seperti kurikulum 1990 yang berslogan pemberantasan buta hurufnya.
. Banyak golongan masyarakat yang menyayangkan jika uang dihabiskan hanya untuk sekolah saja. Mereka lebih mengkhawatirkan jika tidak mempunya harta warisan yang ditinggalkan untuk anaknya. Banyak harta dan jadi orang kaya. Itulah yang menjadi harapan dan dambaan semua orang.  Toh tanpa sekolah tinggi juga banyak orang yang bisa kaya. Jadi petani bisa kaya. Jadi pedagang juga bisa kaya. Kerja serabutan juga masih bisa makan. Jadi pengamen, yang penting bahagia. Lalu kenapa haru sekolah?
Tidak dapat disalahkan jika argumen kebanyakan masyarakat Indonesia adalah seperti itu. Argument ini muncul karena begitulah gambaran wajah pendidikan di Indonesia. Di Yogyakarta misalnya, tiap tahunnya dapat meluluskan ribuan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Sarjana lulus dan mendapat gelar S1. Dan tidak semua yang lulus sarjana tersebut bisa langsung mendapat pekerjaan dan sukses. Akhirnya yang terjadi adalah banyak lulusan mahasiswa yang menganggur.
Para sarjana dan orang-orang berpendidikan harusnya mempunyai tingkat kemampuan yang lebih tinggi dan  lebih sukses dibanding dengan orang yang tidak mengenyam pendidikan. Tetapi inilah realita, banyak orang-orang yang sukses tanpa harus belajar dan kuliah terlebih dahulu. Apalagi jika memang kondisi ekonomi keluarga yang kurang mendukung, sedikit peluang orang akan termotivasi untuk sekolah tinggi-tinggi.
Kondisi di diatas merupakan salah satu permasalahan serius kondisi pendidikan di negara kita. tidak bijak ketika kita menyalahkan pemerintah sepenuhnya atas kondisi tersebut. Namun, ini adalah  PR bersama bagi seluruh masyarakat Indonesia, terutama pihak-pihak yang consent dalam lingkungan pendidikan seperti akademisi, pendidik, orang tua, pelajar dan semua orang yang berkepentingan dalam pendidikan itu sendiri. Semua pihak harus saling mendukung untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3).
Indonesia sebagai negara berkembang memberikan perhatian yang besar terhadap pendidikan. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya usaha pemerintah dalam memajukan kualitas pendidikan Indonesia. Usaha yang telah dilaksanakan pemerintah selama ini antara lain: upaya pengalokasian dana pendidikan sebanyak 20% dari APBN, pemberian BOS, upaya perbaikan kurikulum, pembuatan UU pendidikan, kebijakan UN dan lain sebagainya.
Pendidikan bukanlah proses instan yang dapat dirasakan dampaknya dalam waktu yang dekat. Namun, pendidikan adalah proses yang membawa pengaruh terhadap kapasitas dan kualitas kehidupan manusia. Dalam waktu 12 tahun masa belajar di sekolah SD, SMP dan SMA bukanlah menjadi waktu yang singkat. Waktu inilah yang akan membentuk kepribadian siswa.
Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka akan semakin meningkatkan kapasitas dirinya dalam berbagai hal. Proses belajar di sekolah memberikan kesempatan siswa untuk menambah ilmu pengetahuan. Meskipun ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari manapun namun dengan adanya kurikulum dalam pendidikan formal membentuk pemahaman siswa tersetruktur dan terpadu. Sehingga perkembangan siswa dapat diamati secara bertahap.
 Kedua, mengembangkan potensi dan ketrampilan siswa. Potensi dan ketrampilan setiap individu berbeda-beda. Kemampuan ini tidak akan berkembang jika tidak di up-grade dan difasilitasi dengan baik. Sehingga sekolah menjadi sarana dalam mengembangkan diri dan memberi peluang siswa dalam menemukan pengalaman dari aktivitas belajar.
Ketiga, membangun kepekaan sosial dalam membentuk kesadaran untuk menentukan orientasi masa depan sehingga nantinya mempunyai etos kerja yang bagus dan mempunyai kesadaran dalam membangun masyarakat, bangsa, negara dan agama. 

Paparan diatas hanya sedikit gambaran dari manfaat belajar di sekolah. Seberapa besar pengaruh aktivitas belajar dalam perkembangan diri adalah tergantung bagaimana pembelajar itu sendiri memanfaatkan kesempatan yang ada dalam memperoleh pengalaman. Kesadaran diri inilah yang memberikan motivasi besar untuk melakukan perubahan. 
Pastinya ada perbedaan kualitas hidup orang yang terpelajar dengan orang yang tidak pernah mengenyam bangku persekolahan. Dari pola pikir, tujuan hidup dan paradigma berfikir itulah yang akan menggerakkan manusia dalam bertindak. Sehingga kedaran belajar ini harus senantiasa dibudayakan dalam masyarakat. Belajar dalam arti meluas ataupun sempit yang menjadi kebutuhan manusia untuk menghadapi tantangan perkembangan zaman dan meningkatkan kulaitas hidup dalam bernegara dan beragama.

Kamis, 03 Mei 2012

Pentingnya Menata Hati


Pentingnya Menata Hati

hati-hati, dengan hati...
hati-hati, dengan hati...
            Baik buruk prilaku manusia adalah ditentukan oleh apa yang ada di dalam hatinya. Jika hatinya bersih dan suci, tidak ada penyakit hati di dalamnya maka maka akan terpancar dengan indah dan santunnya akhlaknya. Namun jika hari kotor dan penuh noda, maka secara otomatis akan terlihat dari prilakunya yang tidak beraturan dan liar.
            Setiap hati manusia memiliki dua potensi yaitu potensi untuk terbentuk menjadi hati yang bersih dan potensi untuk menjadi hati yang penuh dengan kekotoran dan mati. Potensi ini akan muncul sesuia dengan apa yang diinginkan oleh si pemilik hati. Jika kita berusaha menjaga hati ini dengan baik, yaitu dengan menundukkan hawa nafsu kita maka kita akan menjadi pemenangnya. Hati nurani kita bisa menguasai ego yang ada di dalam diri kita. Namun jika kita hanya mengikuti apa yang kita inginkan tidak memandang baik buruknya, serta akibat yang ditimbulkan  artinya nurani kita telah terkalahkan oleh nafsu dan ego yang di motori oleh syetan.
            Hati itu merupakan tempat tersimpanya semua rahasia perasaan batiniah manusia. Tidak ada orang yang dapat mengetahui apa yang tersimpan di hati orang lain. Apa yang ada dihati hanya diri kita dan Allah sajalah yang tau. Isi hati setiap manusia tidak dapat diraba dan tidak pula dapat dideteksi. Seakan-akan menjadi sesuatu yang ghaib. Namun, isi hati seorang manusia dapat dianalisa dan terlihat dari tingkah lakunya yang ditampakkannya.
            Secara fisik hati merupkan organ dalam tubuh manusia yang dilindungi oleh cairan empedu yang berfungsi untuk menawarkan racun. Jika hati kita terserang racun yang berupu bakteri atau virus maka cairan empedu tersebut dapat dengan mudah melumpuhkan dan mematikannya. Namun jika virus yang masuk ke dalam hari itu berupa penyakit hati berupa, rasa dengki, pamer atau riya’, sombong, iri hati, hasut dan lain-lain. Apakah cairan empedu itu dapat menghilangkannya? Tentu saja tidak. Bahkan seorang dokter spesialis hatipun tidak dapat mengobati penyakit hati tersebut. Sampai sekarang dunia kedokteran  belum mampu menemukan obat khusus untuk mengobati penyakit hati.    
            Keras dan lembunya hati manusia itu tergantung bagaimana manusia melatih dan menjaga hatinya. Hati yang keras dan mati tidak akan dapat menerima kebenaran yang ada dihadapannya. Kecuali ada hidayah dari Allah yang diberikan kepada sang pemilik hati. Hidayah itupun tidak mudah serta merta bisa datang kepada kita. Namun pirlu factor internal dalam diri kita untuk menemukan hidayah tersebut.
            "Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya." (Al-An'am : 122)
            Allah akan menerima ibadahnya seorang hamba yang hatinnya bersih dari penyakit hari. Maka untuk mencapai kesempurnaan dalam beribadah kita perlu selalu mengkondisikan hati kita dalam keadaan tenang. Kita bisa merasakan ketika kita beribadah kepada Allah dalam keadaan gugup, banyak pikiran dan tidak konsentrasi. Bisa dipastikan kita akan kelupaan entah jumlah rakaatnya, ataupun bacaannya. Tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Karena yang ada diotak hanya bayangan-bayangan semu tentang apa yang akan kita lakukan, memikirkan urusan-urusan duniawi. Secara tidak langsung kita telah menduakan Allah dengan sesuatu yang lain. N’uzzubillah.
            Sholat adalah aktivitas ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Artinya kita menghadap Allah. Jika manusia senantiasa mencoba dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah pun akan semakin dekat dengan makhluknya. Sehingga akan sangat sia-sia sekali jika dalam sholat, kita tidak menghadirkan Allah di sana. Dan gerakan-gerakan serta bacaan sholat itu hanya sekedar formalitas saja. Sehingga pengkondisian hati untuk selalu menghadirkan Allah adalah sangat penting. Menyangkut pahala dan nilai dalam sholat itu sendiri.
            Sangat sulit untuk dapat menjaga ketenangan dan menghindarkan hari untuk terhindar dari penyakit hati. Setiap indra dan tubuh manusia miliki potensi untuk memunculkan perbuatan dosa. Dari mulai mata, tangan, telinga, mulut dan lainnya. Ada beberapa cara untuk selalu menjaga hati, antara lain: selalu membaca al-Qur’an dengan disertai memahami dan mentadaburi maknanya, sholat malam dengan penuh kekhusyukan, selalu berkumpul dengan orang-orang sholeh yang dapat senantiasa mengajak kita kepada kebaikan, selalu berdzikir kepada Alllah setiap waktu.
“…Sesungguhnya hanya dengan mengingat Allahlah hati akan menjadi tenang.”

Pendidikan, Mencetak Orang Pinter yang Bener


Pendidikan, Mencetak Orang Pinter  yang  Bener


          Pendidikan merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang dirumuskan maka membutuhkan perencanaan yang matang. Karena pendidikan merupakan unsur pembangunan yang mutlak dibutuhkan.
           Tujuan pendidikan Indonesia telah termaktup dalam UUD 1945. Yaitu penyelenggaraan pendidikan adalah dalam rangka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dahulu pendidikan hanyalah dipandang sebagai sarana untuk dapat menguasai bahasa. Hanya sekedar dapat menghitung dan menulis, memberantas buta huruf. Itulah tujuan paradigma pendidikan dalam periode lama. Namun, dalam paradigm ini manusia seakan-akan hanya dicetak untuk sekedar tau tidak menuntut manusia, produk pendidikan menjadi manusia yang mampu mengembangkan ilmu.
        Akhirnya, muncullah paradigma baru dalam pendidikan. Pendidikan diarahkan dalam rangka menyiapkan masa depan bangsa di era global yang kompetitif. (Renstra Pendidikan.Nasional 2005-2009). Yaitu dengan memberdayakan semua warga Negara Indonesia menjadi manusia yang berkualitas, sehingga dapat proaktif dalam menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
          Tujuan pendidikan paradigma baru ini telah sedikit demi sedikit tercapai. Produk pendidikan Indonesia sekarang bukan hanya mencetak manusia yang cerdas tapi juga dapat mengikuti derasnya arus global. Meskipun belum sampai ketaraf bersaing dengan dunia global.
            Dalam dunia yang semakin menggelobal seperti sekarang. Derasnya arus globalisasi merupakan tantangan setiap bangsa di setiap penjuru dunia. Karenanya produk dari pendidikan itu sendiri harus berupa produk yang siap memanfaatkan kepinteranya untuk kemaslahatan.
            Perencanaan pendidikan Indonesia dengan kurikulum yang semakin bagus. Menjadikan banyak mencetak generasi masa depan yang pinter, kompetitif dan intelek. Ini dapat kita lihat dari prestasi Indonesia dalam berbagai kompetisi dengan Negara lain. Indonesia bisa memanpakkan diri dan mampu bersaing.
   Dari prestasi Indonesia mulai mampu bersaing dengan negara lain. Dalam bidang akademik, olimpiade misalnya para saintis dari Indonesia mampu mempersembahkan hasil yang cukup membanggakan. Calon saintis-saintis kecil mulai bermunculan. Dalam sea games tahun ini Indonesia menduduki level prestasi teratas dengan mendapatkan emas, perak dan perunggu terbanyak. Ini membuktikan bahwa Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara Asia dalam olahraga.
            Banyak produk pendidikan Indonesia yang berkualitas. Tetapi tidak semua yang berkualitas itu dapat mengabdikan dirinya, kepinterannya, dan idenya itu untuk kemaslahatan dan membangun bangsa. Malainkan untuk kemaslahatan diri sendiri. Itulah masalah yang membutuhkan pemikiran yang dalam.
               Manusia pintar yang benar adalah produk dari pendidikan. Manusia yang pintar tetapi tidak benar, suka terhadap kerusakan juga merupakan produk pendidikan. Lalu apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia?
             Dalam berbagai media masa tak henti-hentinya diwacanakan tentang tingkah manusia Indonesia yang kelakuannya tidak manusiawi. Membunuh, korupsi, pemerkosaan dan kelakuan keji lainnya. Ini menunjukkan bahwa masih ada produk pendidikan Indonesia yang moralnya tidak beres. Padahal kebanyakan yang melakukan hal tersebut adalah orang-orang yang berpendidikan dan berintelektual.
             Perencanaan pendidikan Indonesia sekarang lebih baik. Muatan tidak hanya menuntut manusia untuk menjadi manusia yang intelek, bertaqwa, kompetitif dan berkembang. Namun akan lebih baik lagi jika dalam pelaksanaannya lebih menekankan terhadap prestasi moral dan pembentukan pribadi yang matang (pendidikan karakter). Mulai dari tingkat pendidikan dasar, menengah dan atas diupyakan untuk berlatih loyal, mengembangkan rasa peduli terhadap sesame dan semangat untuk berkorban.
           Jika sudah demikian akan sangat mudah dalam mengembangkan kemampuan intelektualnya. Sehingga terbentuklah manusia-manusia Indonesia yang bener dan pinter. Calon-calon generasi pembangun bangsa. Pemimpin bangsa yang loyal dan mengutamakan ilmunya untuk kemaslahatan.