Kamis, 24 Mei 2012

Fenomena Bernama UN

Bulan April kemarin menjadi waktu yang begitu mencekam di lingkungan sekolah tingkat SMP dan SMA sederajat di seluruh tanah air Indonesia. Tetesan air mata mengiringi doa kesuksesan untuk menempuh ujian nasional. Ujian nasional seakan menjadi momok bagi guru, siswa dan orang tua. Semuanya menunggu pengumuman UN (Ujian Nasional) yang tidak lama lagi diumumkan tanggal 26 Mei besok untuk SMA sederajat, 2 Juni untuk SMP sederajat, sedangkan untuk SD tergantung daerahnya..
Hiruk-pikuk UN telah membentuk satu paket fenomena psiko-sosio-kultural UN dalam lingkungan masyarakat, sekolah, dan lembaga pendidikan. Ada yang memandang UN secara wajar, sehingga respon prilaku yang ditimbulkan dalam menghadapi UN pun dengan cara-cara yang rasional. Misalnya, dengan belajar lebih rajin dan drill soal menjelang UN sesuai dengan kisi-kisi UN dan memperbanyak ibadah. Namun, ada juga yang berlebihan pergi ke dukun, meminta mantra dan rajah kepada orang pintar agar lulus. Kemudian di setiap sekolah akan menggembleng para siswanya dengan  berbagai macam soal latihan dan memberikan motivasi untuk mempersiapkan mental siswa menghadapi ujian nasional. Gambaran tersebut merupakan fenomena yang sering terjadi di waktu-waktu menjelang ujian nasional.
Kemudian, dalam pelaksanaan ujian nasional yang telah lalu-lalu tidak pernah luput dari kejadian-kejadian curang dari pihak guru, pengawas maupun siswa. Banyak siswa yang mencontek waktu UN berlangsung. Tidak sekedar lirik kanan-kiri atau bertanya kepada temannya, namun menggunakan cara-cara yang lebih cerdas hingga saling bertukar kunci jawaban tanpa diketahui pengawas. Entah siapa yang mengajari mereka, namun inilah realitanya. Kemudian dari pihak guru maupun pengawas, tidak semuanya memperlakukan siswa sesuai dengan peraturan ujian. Mungkin ada sebagian kecil dari mereka yang menjalankan peraturan dengan baik, memperketat penjagaan UN sehingga siswa tidak berkesempatan untuk melakukan kecurangan. Mengajari siswa untuk jujur dan percaya pada hasil pemikiran diri sendiri. Namun, di luar sana lebih banyak lagi guru yang bekerjasama dengan pengawas untuk memberikan kunci jawaban kepada siswa. Atau melakukan usaha lain untuk membantu siswa dengan alasan kasihan jika tidak lulus. Alasan apapun yang mendasari prilaku curang tersebut tetap merupakan pelanggaran etika, ketidak jujuran akademik.
Tidak kalah hebohnya ketika masa-masa pengumuman kelulusan UN. Dimanapun selalu diwarnai dengan corat-coret sebagai penanda kelulusan, pawai sepeda motor para pelajar, histeria bagi yang lulus maupun tidak lulus, bahkan ada yang sampai bunuh diri karena tidak di luluskan.
Perayaan lulus UN
Selama ini ada pandangan keliru yang menganggap kelulusan siswa itu menentukan masa depan siswa. Tidak lulus UN seakan dianggap telah gagal. Kemudian siswa yang tidak lulus UN adalah siswa yang bodoh dan sebagainya. Semua sekolah berusaha mati-matian untuk mengusahakan tingkat kelulusan 100% dengan cara apapun untuk mempertahankan pestise sekolah. Sehingga sekolah selama tiga tahun seakan hanya mengejar untuk mencapai target lulus.
Padahal tujuan UN bukan sekadar pemenuhan target kelulusan, tapi sebagai tolak ukur mutu pendidikan di sekolah. Kemudian, kelulusan ujian nasiona dapat menunjukkan prestasi Indonesia dalam skala nasional. Selama belum ditemukan barometer yang lebih baik dari pada UN, maka UN tetap menjadi alat evaluasi pendidikan yang terbaik keberhasilan peningkatan mutu pendidikan.
Selama ini proses belajar di sekolah hanya sebatas memenuhi target UTS, UAS, ataupun UN, sehingga menjelang ujian disibukkan dengan program bimbingan belajar dan pelatihan soal-soal yang diuji. Siswa tidak belajar untuk bagaimana untuk menemukan dan memahami ilmu secara komprehensif, namun siswa diajari untuk sekadar menjawab soal dan mendapatkan nilai yang baik pada setiap ulangan dan ujian. Proses belajar ini kurang memberi bimbingan terhadap kreativitas dan pola pikir anak didik, sehingga pengembangan rasa ingin tahu, wawasan, sikap dan moral anak didik sudah terabaikan. Artinya sistem pendidikan sekarang ini telah mengabaikan tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Pada tahun 2010 dan sebelumnya indeks pendidikan Indonesia di tingkat dunia ditentukan oleh kelulusan dan nilai UN. Berdasarkan laporan UNESCO badan Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 2010 yang membidangi pendidikan dan kebudayaan, indeks pendidikan Indonesia di tingkat dunia menurun padahal secara kuantitatif persentase lulusan pada tahun 2010 mengalami peningkatan. Namun ternyata prestasi pendidikan tidak membaik, tetapi dalam indeks pendidikan dunia terus menurun. Hingga ada evaluasi dari pemerintah untuk memperbaiki sistem kelulusan pelajar. Mulai tahun 2011 nilai UN dan US menjadi penentu kelulusan siswa SD, SMP dan SMA dengan perbandingan 60% : 40% untuk nilai UN dan US. Peraturan ini muncul dengan landasan bahwa penilaian kemampuan siswa mencakup tiga aspek, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat dilakukan oleh guru yang mengetahui secara langsung kondisi siswa. Sehingga dapat di wakili dengan nilai US yang diberikan oleh guru.
Pada 2011 kemarin angka kelulusan UN naik secara signifikan. Hampir setiap daerah mencapai angka kelulusan lebih dari 99,5%. Seperti di Jayapura angka kelulusan anak SMA mencapai 99,9% melebihi Jakarta yang hanya 99,52%. Secara kulitas dapat dilihat lebih bagus dan secara kuantitatif menunjukkan angka kelulusan lebih banyak dr tahun sebelumnya. Namun, jika dilogikakan bukankah ada peluang kecurangan dalam nilai US 40% yang dapat dilakukan oleh guru. Entahlah apakah memang ini menjadi pertanda bahwa ada perbaikan mutu pendidikan di Indonesia??? Ataukah malah sistem ini menperluas peluang kecurangan yang akan menjadikan semakin kaburnya tujuan pendidikan selama ini. Sehingga kita sulit untuk meraba-raba kembali bagaimana kondisi mutu pendidikan di Indonesia.
Yang jelas, ujian nasional (UN) adalah satu bagian terkecil dari proses ujian hidup. Masih terdapat ujian yang lebih besar lagi setelah lulus UN. Namun, bukan berarti ujian nasional tidak ada artinya. Karena saat ini ujian nasional menjadi salah satu penentu indeks prestasi Indonesia dalam skala nasional. Semoga UN tahun ini memberikan dampak yang signifikan terhadap perbaikan proses pembelajaran di Indonesia.

Senin, 07 Mei 2012

Tantangan abad 21 ini....



Tantangan abad 21 ini... Tantangan abad 21 ini menuntut siswa untuk berkembang mempunyai perangkat berfikir dan perangkat ketrampilan untuk menghadapi realitas baru. Abad knowledge area, dimana pengetahuan menjadi kebutuhan yang tidak terbatas untuk mencapai kesejahteraan manusia. Perkembangan ilmu dan teknologi informasi semakin berkembang sehingga tantangan hidup pun menjadi lebih kompleks. Namun, ini juga memberikan dampak kehidupan manusia yang lebih berkualitas. Peluang untuk meningkatkan kapasitas diri terbuka luas bagi siapapun yang ingin bergerak maju. Pun Indonesia sebagai negara berkembang tidak luput dari efek yang mendunia tersebut. Globalisasi ini menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan.
Saat ini, masih sering dijumpai proses belajar yang hanya melakukan transfer fakta dan informasi. Sehingga siswa hanya belajar dari apa yang di sampaikan guru. Belajar tentang fakta merupakan tingkatan terrendah dalam proses belajar. Ilmu yang didapatkan siswa sekedar ilmu praktis dan teoritis tapi kurang aplikatif. Padahal hakikat dari pendidikan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Selain meningkatkan intelektualitas tapi juga harus membawa kebermanfaatan. Belajar seharusnya tidak hanya mengajari bagaimana siswa dapat mengerjakan ulangan dan ujian sehingga mendapat nilai tinggi. Tetapi lebih dari bagaimana siswa dapat memanfaatkan dan mengembangkan ilmu yang ada untuk mendapatkan ide baru. Yakni, progresif dan inovatif memandang dunia masa depan.
Banyak realita yang menggambarkan bagaimana pelajar kehilang tujuannya. Jumlah mahasiswa Indonesia saat ini mencapai 4,8 juta orang. Sebesar 18,4% dari jumlah penduduk Indonesia. Masih jauh dari targetan yang disampaikan Muhammad Nuh, Mendiknas yang menargetkan 30% angka partisipasi kasar mahasiswa pada 2014. Meskipun masih jauh dari ideal namun jumlah ini sudah cukup bagus untuk membuat Indonesia berprestasi. Banyaknya akademisi tersebut belum memberikan efek yang signifikan dalam membangun perbaikan dalam kehidupan bernegara. Apa yang salah dengan proses pendidikan sekarang ini???
Kompleksitas hidup dalam beberapa tahun kedepan menjadi tantangan dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Ibarat suatu perusahaan dalam melakukan usaha produksinya. Suatu produk yang dibuat dengan bahan-bahan pilihan, menggunakan teknologi yang bagus dan di buat oleh tangan-tangan yang kompeten maka akan menghasilkan produk yang bagus yang memberikan kebermanfaatan yang lebih. Kemudian ditambah dengan manajemen yang teratur maka secara kuantitas pun mencapai targetan yang di rencanakan oleh perusaan.
Produk dari pendidikan merupakan output kualitas siswa, prestasi dan pengaruhnya dalam masyarakat dan lingkungannya. Proses belajar yang hanya sekedar mencapai target lulus atau mengejar penyampaian materi tidak akan mampu mencetak produk yang bagus. Sehingga grade tujuan proses belajar ini harus ditujukan untuk memcapai kemampuan hight order thinking (HOT) atau kemampuan berfikir tingkat tinggi. Yakni membentuk siswa untuk berfikir secara kritis, kreatif, analitis, aplikatif dan inovatif. Pengembangan hight order thinking ini memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan potensinya. Disamping itu juga pencapaian mutu dan standarisasi pendidikan yang telah ditentukan.
Untuk mengembangkan hight order thinking memang tidak mudah, namun bukan menjadi hal yang tidak mungkin. Hakikat manusia tidak ada yang bodoh, namun proses  perkembangan dirinya yang membuat tertinggal dengan orang lain. Proses pembiasaan siswa untuk berfikir kreatif, kritis, dan analitis menjadi kuncinya. Dalam berbagai disiplin ilmu dan mata pelajaran sekolah dapat dikembangkan kemampuan hight order thinking. Orang yang terbiasa untuk berfikir tingkat tinggi merupakan tipe orang yang solutif dan up to date terhadap perkembangan zaman. Lebih mudah dalam beradaptasi terhadap tantangan perkembangan zaman. Terbiasa untuk menghadapi persoalan yang tidak rutin membuat otak terbiasa untuk berfikir kreatif dan imajinatif.
Pengembangan hight order thinking ini merupakan upaya yang cerdas yang dapat meningkaatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Jika setiap pendidik mampu mengaplikasikan dan mempunyai metode yang tepat dalam mengembangkan kemampuan siswa maka akan sangat mudah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Permasalahan pendidikan ini tidak melulu masalah kelulusan UAN, kebodohan dan ketertinggalan namun lebih kepada inovasi dan prestasi. Sehingga diperlukan inovasi dan ide pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut baik dari para akademisi, pendidik maupun peneliti dibidangnya. 

Kenapa Harus Sekolah?


Kenapa Harus Sekolah???

Menurut KBBI, hakikat dari belajar merupakan usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu atau perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Sedangkan menurut aliran psikologi kognitif belajar dipandang sebagai proses bermakna untuk mengkonstruksi pengetahuan. Sekolah formal merupakan salah satu sarana efektif dalam proses belajar. Kurikulum pendidikan yang ada memfasilitasi pelajar untuk mengembangkan kemampuannya sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan siswa. Di luar pendidikan formal terdapat pendidikan non-formal dan informal. Meskipun demikian, pendidikan formal tetap menjadi acuan yang menentukan kualitas pendidikan suatu bangsa.


Pendidikan belumlah dianggap sebagai kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia. Harus diakui tingkat kesadaran para orang tua dalam memikirkan pendidikan putra putrinya masih biasa-biasa saja. Hanya sedikit masyarakat yang menyadari akan pentingnya pendidikan. Sekolah adalah yang penting bisa baca dan pintar menghitung, seperti kurikulum 1990 yang berslogan pemberantasan buta hurufnya.
. Banyak golongan masyarakat yang menyayangkan jika uang dihabiskan hanya untuk sekolah saja. Mereka lebih mengkhawatirkan jika tidak mempunya harta warisan yang ditinggalkan untuk anaknya. Banyak harta dan jadi orang kaya. Itulah yang menjadi harapan dan dambaan semua orang.  Toh tanpa sekolah tinggi juga banyak orang yang bisa kaya. Jadi petani bisa kaya. Jadi pedagang juga bisa kaya. Kerja serabutan juga masih bisa makan. Jadi pengamen, yang penting bahagia. Lalu kenapa haru sekolah?
Tidak dapat disalahkan jika argumen kebanyakan masyarakat Indonesia adalah seperti itu. Argument ini muncul karena begitulah gambaran wajah pendidikan di Indonesia. Di Yogyakarta misalnya, tiap tahunnya dapat meluluskan ribuan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Sarjana lulus dan mendapat gelar S1. Dan tidak semua yang lulus sarjana tersebut bisa langsung mendapat pekerjaan dan sukses. Akhirnya yang terjadi adalah banyak lulusan mahasiswa yang menganggur.
Para sarjana dan orang-orang berpendidikan harusnya mempunyai tingkat kemampuan yang lebih tinggi dan  lebih sukses dibanding dengan orang yang tidak mengenyam pendidikan. Tetapi inilah realita, banyak orang-orang yang sukses tanpa harus belajar dan kuliah terlebih dahulu. Apalagi jika memang kondisi ekonomi keluarga yang kurang mendukung, sedikit peluang orang akan termotivasi untuk sekolah tinggi-tinggi.
Kondisi di diatas merupakan salah satu permasalahan serius kondisi pendidikan di negara kita. tidak bijak ketika kita menyalahkan pemerintah sepenuhnya atas kondisi tersebut. Namun, ini adalah  PR bersama bagi seluruh masyarakat Indonesia, terutama pihak-pihak yang consent dalam lingkungan pendidikan seperti akademisi, pendidik, orang tua, pelajar dan semua orang yang berkepentingan dalam pendidikan itu sendiri. Semua pihak harus saling mendukung untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3).
Indonesia sebagai negara berkembang memberikan perhatian yang besar terhadap pendidikan. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya usaha pemerintah dalam memajukan kualitas pendidikan Indonesia. Usaha yang telah dilaksanakan pemerintah selama ini antara lain: upaya pengalokasian dana pendidikan sebanyak 20% dari APBN, pemberian BOS, upaya perbaikan kurikulum, pembuatan UU pendidikan, kebijakan UN dan lain sebagainya.
Pendidikan bukanlah proses instan yang dapat dirasakan dampaknya dalam waktu yang dekat. Namun, pendidikan adalah proses yang membawa pengaruh terhadap kapasitas dan kualitas kehidupan manusia. Dalam waktu 12 tahun masa belajar di sekolah SD, SMP dan SMA bukanlah menjadi waktu yang singkat. Waktu inilah yang akan membentuk kepribadian siswa.
Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka akan semakin meningkatkan kapasitas dirinya dalam berbagai hal. Proses belajar di sekolah memberikan kesempatan siswa untuk menambah ilmu pengetahuan. Meskipun ilmu pengetahuan dapat diperoleh dari manapun namun dengan adanya kurikulum dalam pendidikan formal membentuk pemahaman siswa tersetruktur dan terpadu. Sehingga perkembangan siswa dapat diamati secara bertahap.
 Kedua, mengembangkan potensi dan ketrampilan siswa. Potensi dan ketrampilan setiap individu berbeda-beda. Kemampuan ini tidak akan berkembang jika tidak di up-grade dan difasilitasi dengan baik. Sehingga sekolah menjadi sarana dalam mengembangkan diri dan memberi peluang siswa dalam menemukan pengalaman dari aktivitas belajar.
Ketiga, membangun kepekaan sosial dalam membentuk kesadaran untuk menentukan orientasi masa depan sehingga nantinya mempunyai etos kerja yang bagus dan mempunyai kesadaran dalam membangun masyarakat, bangsa, negara dan agama. 

Paparan diatas hanya sedikit gambaran dari manfaat belajar di sekolah. Seberapa besar pengaruh aktivitas belajar dalam perkembangan diri adalah tergantung bagaimana pembelajar itu sendiri memanfaatkan kesempatan yang ada dalam memperoleh pengalaman. Kesadaran diri inilah yang memberikan motivasi besar untuk melakukan perubahan. 
Pastinya ada perbedaan kualitas hidup orang yang terpelajar dengan orang yang tidak pernah mengenyam bangku persekolahan. Dari pola pikir, tujuan hidup dan paradigma berfikir itulah yang akan menggerakkan manusia dalam bertindak. Sehingga kedaran belajar ini harus senantiasa dibudayakan dalam masyarakat. Belajar dalam arti meluas ataupun sempit yang menjadi kebutuhan manusia untuk menghadapi tantangan perkembangan zaman dan meningkatkan kulaitas hidup dalam bernegara dan beragama.

Kamis, 03 Mei 2012

Pentingnya Menata Hati


Pentingnya Menata Hati

hati-hati, dengan hati...
hati-hati, dengan hati...
            Baik buruk prilaku manusia adalah ditentukan oleh apa yang ada di dalam hatinya. Jika hatinya bersih dan suci, tidak ada penyakit hati di dalamnya maka maka akan terpancar dengan indah dan santunnya akhlaknya. Namun jika hari kotor dan penuh noda, maka secara otomatis akan terlihat dari prilakunya yang tidak beraturan dan liar.
            Setiap hati manusia memiliki dua potensi yaitu potensi untuk terbentuk menjadi hati yang bersih dan potensi untuk menjadi hati yang penuh dengan kekotoran dan mati. Potensi ini akan muncul sesuia dengan apa yang diinginkan oleh si pemilik hati. Jika kita berusaha menjaga hati ini dengan baik, yaitu dengan menundukkan hawa nafsu kita maka kita akan menjadi pemenangnya. Hati nurani kita bisa menguasai ego yang ada di dalam diri kita. Namun jika kita hanya mengikuti apa yang kita inginkan tidak memandang baik buruknya, serta akibat yang ditimbulkan  artinya nurani kita telah terkalahkan oleh nafsu dan ego yang di motori oleh syetan.
            Hati itu merupakan tempat tersimpanya semua rahasia perasaan batiniah manusia. Tidak ada orang yang dapat mengetahui apa yang tersimpan di hati orang lain. Apa yang ada dihati hanya diri kita dan Allah sajalah yang tau. Isi hati setiap manusia tidak dapat diraba dan tidak pula dapat dideteksi. Seakan-akan menjadi sesuatu yang ghaib. Namun, isi hati seorang manusia dapat dianalisa dan terlihat dari tingkah lakunya yang ditampakkannya.
            Secara fisik hati merupkan organ dalam tubuh manusia yang dilindungi oleh cairan empedu yang berfungsi untuk menawarkan racun. Jika hati kita terserang racun yang berupu bakteri atau virus maka cairan empedu tersebut dapat dengan mudah melumpuhkan dan mematikannya. Namun jika virus yang masuk ke dalam hari itu berupa penyakit hati berupa, rasa dengki, pamer atau riya’, sombong, iri hati, hasut dan lain-lain. Apakah cairan empedu itu dapat menghilangkannya? Tentu saja tidak. Bahkan seorang dokter spesialis hatipun tidak dapat mengobati penyakit hati tersebut. Sampai sekarang dunia kedokteran  belum mampu menemukan obat khusus untuk mengobati penyakit hati.    
            Keras dan lembunya hati manusia itu tergantung bagaimana manusia melatih dan menjaga hatinya. Hati yang keras dan mati tidak akan dapat menerima kebenaran yang ada dihadapannya. Kecuali ada hidayah dari Allah yang diberikan kepada sang pemilik hati. Hidayah itupun tidak mudah serta merta bisa datang kepada kita. Namun pirlu factor internal dalam diri kita untuk menemukan hidayah tersebut.
            "Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya." (Al-An'am : 122)
            Allah akan menerima ibadahnya seorang hamba yang hatinnya bersih dari penyakit hari. Maka untuk mencapai kesempurnaan dalam beribadah kita perlu selalu mengkondisikan hati kita dalam keadaan tenang. Kita bisa merasakan ketika kita beribadah kepada Allah dalam keadaan gugup, banyak pikiran dan tidak konsentrasi. Bisa dipastikan kita akan kelupaan entah jumlah rakaatnya, ataupun bacaannya. Tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Karena yang ada diotak hanya bayangan-bayangan semu tentang apa yang akan kita lakukan, memikirkan urusan-urusan duniawi. Secara tidak langsung kita telah menduakan Allah dengan sesuatu yang lain. N’uzzubillah.
            Sholat adalah aktivitas ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Artinya kita menghadap Allah. Jika manusia senantiasa mencoba dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah pun akan semakin dekat dengan makhluknya. Sehingga akan sangat sia-sia sekali jika dalam sholat, kita tidak menghadirkan Allah di sana. Dan gerakan-gerakan serta bacaan sholat itu hanya sekedar formalitas saja. Sehingga pengkondisian hati untuk selalu menghadirkan Allah adalah sangat penting. Menyangkut pahala dan nilai dalam sholat itu sendiri.
            Sangat sulit untuk dapat menjaga ketenangan dan menghindarkan hari untuk terhindar dari penyakit hati. Setiap indra dan tubuh manusia miliki potensi untuk memunculkan perbuatan dosa. Dari mulai mata, tangan, telinga, mulut dan lainnya. Ada beberapa cara untuk selalu menjaga hati, antara lain: selalu membaca al-Qur’an dengan disertai memahami dan mentadaburi maknanya, sholat malam dengan penuh kekhusyukan, selalu berkumpul dengan orang-orang sholeh yang dapat senantiasa mengajak kita kepada kebaikan, selalu berdzikir kepada Alllah setiap waktu.
“…Sesungguhnya hanya dengan mengingat Allahlah hati akan menjadi tenang.”

Pendidikan, Mencetak Orang Pinter yang Bener


Pendidikan, Mencetak Orang Pinter  yang  Bener


          Pendidikan merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang dirumuskan maka membutuhkan perencanaan yang matang. Karena pendidikan merupakan unsur pembangunan yang mutlak dibutuhkan.
           Tujuan pendidikan Indonesia telah termaktup dalam UUD 1945. Yaitu penyelenggaraan pendidikan adalah dalam rangka untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dahulu pendidikan hanyalah dipandang sebagai sarana untuk dapat menguasai bahasa. Hanya sekedar dapat menghitung dan menulis, memberantas buta huruf. Itulah tujuan paradigma pendidikan dalam periode lama. Namun, dalam paradigm ini manusia seakan-akan hanya dicetak untuk sekedar tau tidak menuntut manusia, produk pendidikan menjadi manusia yang mampu mengembangkan ilmu.
        Akhirnya, muncullah paradigma baru dalam pendidikan. Pendidikan diarahkan dalam rangka menyiapkan masa depan bangsa di era global yang kompetitif. (Renstra Pendidikan.Nasional 2005-2009). Yaitu dengan memberdayakan semua warga Negara Indonesia menjadi manusia yang berkualitas, sehingga dapat proaktif dalam menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
          Tujuan pendidikan paradigma baru ini telah sedikit demi sedikit tercapai. Produk pendidikan Indonesia sekarang bukan hanya mencetak manusia yang cerdas tapi juga dapat mengikuti derasnya arus global. Meskipun belum sampai ketaraf bersaing dengan dunia global.
            Dalam dunia yang semakin menggelobal seperti sekarang. Derasnya arus globalisasi merupakan tantangan setiap bangsa di setiap penjuru dunia. Karenanya produk dari pendidikan itu sendiri harus berupa produk yang siap memanfaatkan kepinteranya untuk kemaslahatan.
            Perencanaan pendidikan Indonesia dengan kurikulum yang semakin bagus. Menjadikan banyak mencetak generasi masa depan yang pinter, kompetitif dan intelek. Ini dapat kita lihat dari prestasi Indonesia dalam berbagai kompetisi dengan Negara lain. Indonesia bisa memanpakkan diri dan mampu bersaing.
   Dari prestasi Indonesia mulai mampu bersaing dengan negara lain. Dalam bidang akademik, olimpiade misalnya para saintis dari Indonesia mampu mempersembahkan hasil yang cukup membanggakan. Calon saintis-saintis kecil mulai bermunculan. Dalam sea games tahun ini Indonesia menduduki level prestasi teratas dengan mendapatkan emas, perak dan perunggu terbanyak. Ini membuktikan bahwa Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara Asia dalam olahraga.
            Banyak produk pendidikan Indonesia yang berkualitas. Tetapi tidak semua yang berkualitas itu dapat mengabdikan dirinya, kepinterannya, dan idenya itu untuk kemaslahatan dan membangun bangsa. Malainkan untuk kemaslahatan diri sendiri. Itulah masalah yang membutuhkan pemikiran yang dalam.
               Manusia pintar yang benar adalah produk dari pendidikan. Manusia yang pintar tetapi tidak benar, suka terhadap kerusakan juga merupakan produk pendidikan. Lalu apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia?
             Dalam berbagai media masa tak henti-hentinya diwacanakan tentang tingkah manusia Indonesia yang kelakuannya tidak manusiawi. Membunuh, korupsi, pemerkosaan dan kelakuan keji lainnya. Ini menunjukkan bahwa masih ada produk pendidikan Indonesia yang moralnya tidak beres. Padahal kebanyakan yang melakukan hal tersebut adalah orang-orang yang berpendidikan dan berintelektual.
             Perencanaan pendidikan Indonesia sekarang lebih baik. Muatan tidak hanya menuntut manusia untuk menjadi manusia yang intelek, bertaqwa, kompetitif dan berkembang. Namun akan lebih baik lagi jika dalam pelaksanaannya lebih menekankan terhadap prestasi moral dan pembentukan pribadi yang matang (pendidikan karakter). Mulai dari tingkat pendidikan dasar, menengah dan atas diupyakan untuk berlatih loyal, mengembangkan rasa peduli terhadap sesame dan semangat untuk berkorban.
           Jika sudah demikian akan sangat mudah dalam mengembangkan kemampuan intelektualnya. Sehingga terbentuklah manusia-manusia Indonesia yang bener dan pinter. Calon-calon generasi pembangun bangsa. Pemimpin bangsa yang loyal dan mengutamakan ilmunya untuk kemaslahatan.

Memainkan Peran Pemuda


           Memainkan Peran Pemuda


Datang dari barat…
Datang dari timur…
Mahasiswa…
Petikan lagu di atas merupakan lagu wajib yang sering dikumandangkan mahasiswa-mahasiswa yang sedang turun di jalan. Bukan tidak memiliki arti apa-apa namun di dalamnya mengandung filosofi yang dalam. Mengandung semangat kepemudaan. Mahasiswa diberbagai daerah belahan bumi Indonesia adalah satu yang bertanggung jawab sebagai pengontrol dan satpam pemerintah. Mengawasi dan mengkritisi kebijakan pemerintah demi kesejahteraan rakyat. Dan selalu stand by untuk menjadi pahlawan yang menegakkan kebenaran dan keadilan. Itulah sosok mahasiswa.
            Mahasiswa pada zaman dulu ketika rakyat Indonesia haus akan keadilan adalah sosok pahlawan penyalur aspirasi wong cilik, mereka dipandang sebagai kaum intelektual yang dapat di contoh keteladanannya karena perjuangannya untuk rakyat. Semangat nasionalisme kebangsaan yang tinggi. Meskipun gerak mereka untuk mengkritisi kebijakan pemerintah sangat dibatasi. Sekarang, gerak-gerik mahasiswa memiliki kebebasan yang luas. Aksi dan media bisa digunakan sebagai sarananya.
Pemuda punya hak sepenuhnya untuk mengkritisi kebijakan yang ditetapkan pemerintah. Kebebasan bukanlah suatu hal yang tidak beraturan. Kebebasan ini perlu diimbangi dengan norma dan etika. Potensi pemuda adalah sebagai kaum intelektual, para directure of change. Yang memiliki semangat yang membara karena darah mudanya. Obsesi dan ego adalah hal yang melekat pada pribadi mahasiswa. Namun, sebagai orang yang memiliki intelektual tinggi mahasiswa seharusnya bisa menunjukkan sikap bijaksana, lapang dada dan kedewasaan yang tinggi.
Di sisi lain mahasiswa  adalah sosok penting penerus bangsa. Perannya bertanggung jawab dalam menentukan  maju atau mundurnya Indonesia ini di hari esok. Hanya mahasiswa yang bisa mengharumkan negeri ini dengan prestasinya, dengan ide-ide segarnya. Dengan perannya Indonesia dapat bersaing dengan dunia internasional. Megikuti arus globalisasi yang semakin hari semakin mendunia.
Negeri ini tidak membutuhkan pemuda yang suka bermalas-malasan, yang hanya mengisi hari-harinya untuk hura-hura dan bersenang-senang saja. Tapi negeri ini membutuhkan pemuda yang memiliki semangat darah juang yang tinggi, mencetak prestasi mengharumkan bangsa. Yang mampu mengajak kepada kebaikan, berguna bagi masyarakat dan agama. Dimanapun peran kita mari kita maikan peran bersama untuk menciptakan lingkungan kampus, masyarakat dan pemerintah yang bertanggungjawab.
Wahai pemuda, sadarilah dipundakmu melekat nasib bangsa kekedepan.
***

Tanda Kesyukuran


Tanda Kesyukuran

Pernahkan terfikirkan oleh kita, berapa banyak nikmat yang telah diberikan kepada kita? Bagaimana kita bisa menghitung nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Dan apa yang harus kita lakukan untuk mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Apakah kita sudah termasuk hamba-hamba Allah yang bersyukur ataukah malah sebaliknya kufur terhadap nikmat Allah. Na’uzubillah…
            Terkadang kita merasa butuh Allah ketika kita sedang menghadapi dan mendapatkan berbagai macam masalah, dan cobaan. Dan merasa berat dengan apa yang telah ditimpakan Allah kepada kita. Mata jadi sering menagis, hati jadi sering mudah tersinggung, dan ibadahpun jadi lebih khusyuk. Kita seakan-akan sangat membutuhkan bantuan Allah pada saat itu. Selalu ingat Allah ketika kita membutuhkan energi kekuatan dariNya.
            Atau terkadang kita malah merasa bahwa Allah tidak adil sama kita. KarenaNya kita ditimpakan musibah tersebut. Merasa menjadi orang yang paling menderita.. Apalagi jika Allah memberikan musibah yang bertubi-tubi itu datang kepada kita. Seakan-akan ingin rasanya kita meninggalkan masalah tersebut atau menghindar dari masalah tersebut. Dan menganggapnya tidak pernah ada dalam kehidupan kita. Hingga kita berfikiran bahwa Allah sudah tidak tidak perduli lagi. Dan menyalahkan Allah atas diciptakannya kita kedunia ini.
            Orang hidup itu tidak akan pernah ada yang tidak mempunyai masalah. Setiap orang pasti mengalaminnya. Hanya tergantung dari bagaimana kita bisa menghadapai masalah tersebut dengan sabar dan bijaksana. Masalah dan musibah yang diberikan Allah kepada hambanya adalah wujud dari sayang Allah kepada kita. Sebagai latihan bagi kita untuk dapat meningkatkan kualitas diri kita. Maka selalu berkhusnuzan kepada Allah dalam segala hal adalah wajib.
Allah telah menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa musibah yang di timpakan kepada seorang hamba adalah sesuai dengan kekuatan yang ia miliki. Allah lebih tau tentang tentang segala-galanya. Jadi jangan pernah khawatir ketika kita mendapatkan musibah atau cobaan. Tapi tetaplah optimis, dan sandarkan semuanya kepada Allah. Yakinkan diri bahwa segala sesuatu itu pasti ada hikmah dan jalan keluarnya. Dan hanya kepada Allahlah kita berlindung. Jika sudah demikian maka yang dapat kita lakukan adalah bertawakal kepadaNya.
            Jika kita mampu menghadapi masalah tersebut berarti kita telah lulus dari ujian. Jadi kita dapat mengambil hikmah apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan Allah kepada kita. Karena mungkin, dengan cara melalui masalah tersebut kita bisa lebih pandai lagi dalam bersyukur. Hingga menbuat hati kita menjadi tenang dan tentram. Karena selalu merasa bahwa ada Allah yang akan selalu menbantu kita. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin untuk Allah jika itu sudah menjadi kehendaknya.
            Sebaliknya jika kita memandang masalah tersebut dari sudut pandang yang negative maka yang akan muncul hanyalah rasa sakit. Yang berawal dari hati kita dan akhirnya akan menyerang tubuh kita pula. Bahkan jika masalah yang kita alami difikirkan terus-menerus tanpa kita berusaha untuk menyandarkan diri kepada yang Kuasa. Yang timbul adalah stress. Selalu merasa kurang dan tidak dapat mencari celah untuk mensyukuri nikmat Allah. Sehingga hati tidak dapat merasa tenang. Akhirnya adalah tidak dapat merasakan indahnya hidup. Padahal hidup ini hanya sekali.
            Jika kita dapat merekam kembali ingatan kita. Betapa Allah telah memberikan banyak kenikmatan dan kemudahan. Yang tidak dapat kita kalkulasikan dengan angka berapa jumlahnya. Dari awal kita ada di dalam kandungan, kita dilahirkan kedunia, hingga besar seperti sekarang.
            Allah memberi fasilitas udara gratis, air yang banyak dan melimpah, kekayaan alam yang dapat kita manfaatkan untuk hidup manusia, orang tua yang menyayangi kita, teman-teman kita, keimanan dan petunjukNya, semua nikmat Allah tidak dapat disebutkan satu persatu karena banyaknya. Baik itu nikmat yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani kita, rohani kita ataupun, nikmat yang lain.
            “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”(Ar-Rahman:13).

            Patutkah kita menyalahkan Allah lagi?
            Jika kita dapat merenungkan dengan baik, Allah itu sebenarnya selalu menuntun manusia untuk dapat memahami dan menghargai sesuatu. Melalui cobaan sakit misalnya, jika kita dapat merasakan betapa tidak enaknya sakit itu. Sehingga dapat membuat kita sadar bahwa nikmat kesehatan itu harganya mahal sekali. Sehingga ketika kita dalam keadaan sehat dapat mensyukuri nikmat kesehatan tersebut. Padahal sehat hanyalah salah satu nikmat dari Allah. Itupun sudah sangat berarti sekali bagi kita.
            Orang yang banyak mendapatkan cobaan dan permasalahan dalam hidupnya akan memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan orang yang jarang mempunyai masalah. Masalah melatih kita untuk bersabar. Melatihkita untuk dapat berfikir tentang bagaimana cara kita menghadapi masalah tersebut, bagaimana cara kita mencari solusi terbaik. Dan membuat kita menjadi orang yang kuat, tidak mudah mengeluh dan putus asa. Karena sudah terbiasa menghadapi sesuatu yang berat. Jadi masalah dapat menjadikan kita menjadi lebih bijaksana dan dewasa dalam menghadapi berbagai hal.
            Jika kita dalam keadaan sempit, kekurangan materi. Bersyukurlah dengan apa yang telah kita punya. Maka Alllah akan menambah nikmat tersebut tanpa kita sadari.
            Sebagaimana firman Allah (dalam surat Ibrahim, 7): Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
            Jika kita merasa kurang ini, kurang itu, dan kurang, kurang dan kurang…
Berfikirlah bahwa masih banyak orang yang lebih kurang lagi dan lebih menderita dari pada kita. Tapi mereka bahagia dan dapat bersyukur kepada Allah. Lalu kenapa kita tidak? Orang yang tidak dapat mensyukuri nikmat yang Allah berikan adalah orang yang kufur. Didalam hatinya selalu gundah karena selalu merasa kurang, kurang dan kurang terus …
            Rasulullah bersabda: Llihatlah orang-orang yang ada di bawah kalian dan janganlah melihat orang-orang yang atas kalian karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak mengganggap rendah nikmat Allah yang telah di anugrahkan kepada kalian” (HR.Bukhari dan Muslim).
Lalu bagaimanakah cara kita untuk mengungkapkan rasa syukur kita? Dengan mengucapkan kalimat hamdalah, Alhamdulillahhirabbil’alamin (Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam) ketika mendapat kenikmatan adalah salah satu wujud dari kesyukuran kita.
            Cara mengungkapkan syukur dengan lesan saja tidak menjamin bahwa kita telah bersyukur karena hati manusia itu tidak dapat berbohong. Syukur dapat diwujudkan dengan mensyukuri apa yang Allah berikan kepada kita dengan diiringi dengan menggunakannya untuk melakukan kebaikan dan amalan. Memanfaatkan sarana yang kita untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah. Harta kita untuk beramal semampu kita, waktu kita untuk melakukan hal-hal yang mendatangkan pahala. Sebagimana dalam hadits nabi disebutkan:“Dua kenikmatan yang menbuat manusia lalai adalah nikmat waktu luang dan nikmat kesehatan”.
            Tulisan ini semoga dapat dijadikan evaluasi bersama sekaligus mengingtkan kepada kita betapa banyak nikma-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Hingga kita tidak menyadarinya bahwa semua itu adalah sangat penting bagi kita. Dan kita sering lupa untuk selalu mensyukurinya. 

Kecurangan di Lingkungan Para Pelajar


Kecurangan di Lingkungan Para Pelajar


Dalam perjalanan sejarah Indonesia, tidak lepas dari permasalahan yang disebut korupsi. Perbuatan curang opnum-opnum yang tidak bertanggungjawab ini bukan hanya mengakibatkan kerugian bangsa yang tidak terhitung jumlahnya tetapi juga menjadi virus utama yang menyebar dan membudaya dalam otak-otak kalangan atas yang memiliki kedudukan.
Kecurangan dalam bentuk korupsi tidak hanya terbatas kepada orang-orang yang duduk dalam kekuasaan yang tinggi saja, diparlemen misalnya, orang yang duduk dalam jajaran anggota DPR maupun MPR. Namun ini juga telah menular kepada perangkat-perangkat negara dikalangan bawah. Seperti kepala dusun, lurah dan lainnya.
Kecurangan dikalangan pejabat adalah korupsi untuk uang, sedangkan kecurangan dikalangan pelajar adalah menyontek untuk nilai. Ini adalah dua budaya yang berasal dari dua lingkungan yang berbeda namun sangat berkitan. Kecurangan-kecurangan yang kecil akan membentuk kebiasaan buruk dan akhirnya berani untuk melakukan kecurangan yang beasr.
 Dalam proses belajar, nilai bukanlah satu-satunya pengukur yang utama. Nilai hanya menunjukkan kemampuan siswa dalam ranah kognitifnya. Tidak dapat mengukur kemampuan afektif dan psikomotorik siswa.  Namun nilai merupakan parameter yang menunjukkan tingkat pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran.
Menyontek merupakan tindak kejahatan sepele di kalangan pelajar yang paling mewabah dalam pendidikan di Indonesia. Perbuatan yang menipu dan membohongi kemampuan diri sendiri. Tidak hanya dalam masa-masa ujian kelulusan saja atau ujian kenaikan kelas seperti pada saat-saat sekarang namun juga dalam ulangan harian biasa. Perbuatan ini menunjukkan sikap tidak percaya diri atas kemampuan yang dimiliki. Tujuannya adalah untuk mendapatkan penghargaan atas nilai yang tidak terlalu buruk, sehingga tidak dicap sebagai siswa yang tertinggal dari temannya dan selamat dari teguran guru dan orang tua.  Inilah sikap yang terbentuk dikalangan pelajar saat ini. Lebih suka mencontoh hasil pemikiran orang lain, bukan menciptakan hasil pemikiran sendiri.
Budaya merupakan perbuatan yang terbentuk oleh kebiasaan masyarakat yang ada didalamnya. Jika budaya ini telah mengakar kuat dalam jiwa maka akan sangat sulit untuk menghilangkannya. Begitu pula menyontek jika perbuatan ini telah membudaya dalam diri pelajar maka akan sangat susah untuk menghilangkanya sampai ia belajar pada tingkat mahasiswa. Karena didalam diri pelajar tersebut telah terbentuk sikap dan kebiasaan yang tidak menghargai kemampuan dirinya. Menimbulkan sikap malas dan bergantung kepada orang lain.
      Tujuan dari pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tidak akan terealisasi, jika  banyak pelajar generasi penerus bangsa belajar hanya untuk main-main saja, tidak serius untuk belajar. Jika dulu pelajar tidak menyontek atau curang ketika ulangan karena takut dan malu jika dimarahi gurunya didepan kelas. Namun sekarang pelajar tidak takut dan malu lagi akan hal tersebut. Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia dapat tercapai jika pelajarnya seperti demikian.
        Budaya menyontek terjadi bukan hanya karena ada keinginan, namun juga karena peluang kesempatan yang mendorong perbuatan tersebut. Kepercayaan diri merupakan kunci dalam proses belajar. Itu artinya para pendidik perlu mengevaluasi diri, sudahkan ia mengajari dan mengarahkan siswa pada sikap mandiri, percaya diri, serta memahamkan siswa tentang arti dari sebuah belajar dan ilmu? Ataukah malah mengajari mereka untuk berbuat curang dalam ujian?
          Kondisi diatas merupakan PR besar bagi para guru dan pendidik di Indonesia. Kebiasaan menyontek dan kecurangan lainnya tidak dapat dikatakan sebagai perilaku yang sepele. Jika perbuatan ini terus dibiarkan maka akan semakin membudaya perbuatan curang dalam lingkungan sekolah dan akademik. Efeknya adalah sangat berbahaya bagi pribadinya dan orang lain. Akan muncul insan-insan Indonesia yang mempunyai kebiassaan curang. Perusak massa depan bangsa.
Dalam proses belajar perlu ditekankan penanaman sikap percaya diri dan objektif dalam diri pelajar sehingga akan terbentuk sikap penghargaan terhadap kemampuan diri sendiri dan menghilangkan sikap ketergantungan terhadap orang lain. Dalam lingkungan sekolah juga perlu diciptakan suasana kompetitif yang sehat dan objektif. Memang tidak mudah untuk menciptakan suasana tersebut. Namun hal ini dapat dilakukan dengan benar-benar menerapkan aturan dan tatatertib yang ada. selain melatih untuk bersikap disiplin penerapan tata tertib juga melatih siswa untuk patuh dan konsekuen terhadap aturan.
Tindakan strategis yang dapat dilakukan seorang guru dan tenaga pendidikan diberbagai tingkatan adalah dengan menciptakan kondisi yang sehat dalam setiap ulangan harian maupun ujian dengan tidak menciptakan peluang bagi pelajar untuk menyontek. Tindakan kecil ini merupakan latihan untuk membiasakan diri bagi palajar dan mahasiswa untuk memanfaatkan kecerdasan otaknya untuk berfikir dan menciptakan idenya sendiri. Bukan hanya mencontoh hasil pemikiran orang lain. Senantiasa memupuk semangat siswa untuk menguasai ilmu. Jika sudah demikian akan terbentuk pemahaman dalam diri pelajar bahwa yang terpenting dalam belajar adalah untuk mendapatkan pemahaman ilmu bukan untuk nilai.
Jika kondisi kompetitif yang objektif ini sedikit demi sedikit diterapkan diberbagai sekolah di Indonesia maka akan terbentuklah budaya yang baik dikalangan pelajar dan mahasiswa. Sikap percaya diri merupakan kunci dalam suatu pembelajaran dan pendidikan. Jika telah terbentuk kebiasaan dan kesadaran untuk menghargai diri sendiri maka akan muncul sikap percaya diri yang tinggi dan terbentuk insan pendidikan yang matang. Generasi yang siap membangun bangsa dengan kebesaran jiwanya.
Cepat atau lambat budaya belajar ini terbentuk adalah tergantung dari masyarakat didalamnya. Penciptaan budaya ini adalah tanggungjawab dari seluruh tenaga kependidikan di Indonesia. Semua memainkan peran dalam pendidikan sehingga semua juga ikut dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan pendidikan di Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.