3 Jam Menunggu, Yang Membawa Hikmah
Cukup mengecewakan karena kelalaian petugas kami menunggu tiga jam lamanya
dan ternyata tidak bisa periksa hari ini. Dokternya tidak ada, namun tidak
segera dikomunikasikan kepada kami. Al hasil, lusa harus datang kembali untuk
periksa. Tapi di sisi lain ternyata ada pelajaran berharga yang saya dapatkan
hari ini.
Sewaktu kami mengantri di depan ruang e.e.g silih berganti datang
pasien dengan berbagai macam kondisinya masuk ke dalam ruang USG sekitar 10
menit an dan kemudian keluar. Ada lagi yang masuk dan kemudian keluar lagi.
Saya hanya berpositif thinking mungkin dokter lebih mengutamakan mereka
karena kondisi pasien tersebut membutuhkan penanganan sesegera mungkin.
Kondisinya memang hanya ada satu petugas yang jaga sehingga agak kerepotan
katanya. Kami pun diminta untuk bersabar mengantri...
Masih ingat dengan nasihat yang saya lontarkan beberapa hari yang
lalu waktu mengantar anak yang sakit juga, “jika kita menginginkan kesembuhan
dan kesehatan yang lebih baik, maka cara mencarinya juga harus dengan cara yang
baik. Banyak berdoa dan sabar dalam mengikhtiarkan, yaa… termasuk sabar dalam
mengantri, ini salah satu contoh yang paling sederhana saja”.
Setelah 90 menit kami menunggu, suara adzan terdengar merdu
memanggil semua orang yang berada di
lingkungan rumah sakit untuk segera beranjak shalat. Akhirnya jam 15.05 kami
menuju mushala rumah sakit dan meninggalkan antrian kami. Ternyata menjalankan
shalat tepat waktu itu membuat hati lebih tenang. Tidak khawatir lagi untuk
menunggu antrian sampai sore.
Bagi saya pemandangan dan hawa di rumah sakit selalu tidak menarik.
Penuh dengan bau obat dan bau pengap. Ketika menuju mushala untuk shalat, ada
pemandangan yang membuat saya merasa prihatin waktu itu. Di emperan rumah sakit
dekat WC, dingin dan pengap ada seorang anak laki-laki yang tertidur lemas di
atas bangsal.
Memprihatinkan sekali, rumah sakit segini besarnya.. tetapi tidak
ada tempat yang lebih layak untuk menampung satu orang pasien yang sesegera
mungkin membutuhkan perawatan. Suami istri itu menunggui anaknya dengan wajah
memelas. Tetapi mereka tetap setia berdiri di samping bangsal sambil sesekali
memijit-mijit tangan dan kaki si anak. Ketika caek berdiri mereka duduk glangsaran
di lantai tanpa beralaskan tikar. Dan di samping lalu lalang ada banyak orang
yang lewat.
Lama saya amati mereka, namun sepertinya belum ada perawat atupun
dokter yang mendekat untuk sekadar memeriksa kondisi pasien. 3 jam saya
menunggu untuk periksa saya merasa terlantar sekali. Tapi ternyata ada kondisi
yang lebih parah lagi. Apakah karena pihak keluarga tidak ada uang sehingga
mereka tidak mendapatkan fasilitas ruangan yang layak? Ataukah karena ruang
inap yang sudah penuh?
Yang jelas, pemandangan tadi itu masih nyata adanya di salah satu
rumah sakit besar di Yogyakarta. Pihak rumah sakit seharusnya memberikan
fasilitas dan pelayanan yang layak untuk semua pasiennya. Bahkan jika belum ada
uang sekalipun, karena nyawa seseorang itu lebih penting dibandingkan dengan seberapapun
banyaknya harta.
Dimana bukti profesionalisme seorang dokter dan perawat saat itu.
Sepertinya sudah banyak dokter dan perawat yang melupakan sumpah kode etiknya. Saya
yakin setiap rumah sakit mempunyai manajemen yang jelas terkait dengan biaya
dan akomodasi untuk pasiennya. Namun, atas nama kemanusiaan segala sesuatu
harus dipertimbangkan baik-baik. Bukan hanya fisilitas dan gedung yang layak
yang menunjukkan kualitas dari sebuah rumah sakit tetapi pelayanan itu yang
lebih penting. Karena setiap warga Indonesia berhak atas pelayanan kesehatan.
Kembali ke ruang e.e.g untuk mengantri, ternyata di luar ruang
sudah sepi dan tidak ada lagi orang yang mengantri. Beberapa menit berlalu
tidak ada tanda-tanda ada pasien periksa. Kemudian masuk seorang bapak-bapak
dengan kursi rodanya ditemani suster dan keluarga yang mengantar. Lumayan lama…
dan akhirnya pun meninggalkan ruangan itu, pintu pun tertutup kembali. Hmmm…
saya merasa semakin merasa aneh. Akhirnya saya menemui petugas yang ada di
dalam ruangan USG. Ternyata dokter yang bertugas tidak ada sehingga pemeriksaan
ditunda di hari lusa. Sempat saya protes namun hasilnya sama saja.
Dua kejadian yang membuat saya agak jengkel waktu itu... Dari
kejadian yang saya alami sendiri, petugas jaga yang tidak professional dalam
menangani pasien hingga tiga jam lamanya kami terlantar. Dan juga karena pihak
rumah sakit yang menelantarkan pasien di trotoar seenaknya saja.
Namun, dari kejadian ini ada hikmah yang membuat saya trenyuh..
Melihat bapak ibuk yang menunggui anaknya tadi, mereka begitu setia menunggui,
menyuapi, memijit meskipun capek berdiri. Kesedihan mereka tidak di tampakkan
didepan anaknya. Matanya terlihat sayu dan memelas tapi berusaha untuk tetap
terlihat tegar.
Ingat2lah... dalam kondisi
apapun orang tua adalah orang yang paling setia mendampingi kita. baik di waktu
lapang maupun sempit. Jadi janganlah kita membebani mereka bahkan menyakiti
mereka. Pengorbanan mereka untuk anaknya melebihi kemampuan yang mereka miliki,
karena bagi mereka seorang ana itu bak harta yang paling berharga di dunia.
Lalu pengorbanan apa yang sudah kita lakukan untuk mereka selama
ini??? hanya kita yang tau… yang terpenting adalah sesegera mungkin mari kita
persembahkan doa, pelayanan dan kebahagiaan yang terbaik untuk kedua orang tua
kita.
0 komentar:
Posting Komentar
Komentar anda kami tunggu...