Senin, 11 Maret 2013

3 Jam Menunggu...

3 Jam Menunggu, Yang Membawa Hikmah

Cukup mengecewakan karena kelalaian petugas kami menunggu tiga jam lamanya dan ternyata tidak bisa periksa hari ini. Dokternya tidak ada, namun tidak segera dikomunikasikan kepada kami. Al hasil, lusa harus datang kembali untuk periksa. Tapi di sisi lain ternyata ada pelajaran berharga yang saya dapatkan hari ini.
Sewaktu kami mengantri di depan ruang e.e.g silih berganti datang pasien dengan berbagai macam kondisinya masuk ke dalam ruang USG sekitar 10 menit an dan kemudian keluar. Ada lagi yang masuk dan kemudian keluar lagi. Saya hanya berpositif thinking mungkin dokter lebih mengutamakan mereka karena kondisi pasien tersebut membutuhkan penanganan sesegera mungkin. Kondisinya memang hanya ada satu petugas yang jaga sehingga agak kerepotan katanya. Kami pun diminta untuk bersabar mengantri...
Masih ingat dengan nasihat yang saya lontarkan beberapa hari yang lalu waktu mengantar anak yang sakit juga, “jika kita menginginkan kesembuhan dan kesehatan yang lebih baik, maka cara mencarinya juga harus dengan cara yang baik. Banyak berdoa dan sabar dalam mengikhtiarkan, yaa… termasuk sabar dalam mengantri, ini salah satu contoh yang paling sederhana saja”.
Setelah 90 menit kami menunggu, suara adzan terdengar merdu memanggil semua orang yang berada  di lingkungan rumah sakit untuk segera beranjak shalat. Akhirnya jam 15.05 kami menuju mushala rumah sakit dan meninggalkan antrian kami. Ternyata menjalankan shalat tepat waktu itu membuat hati lebih tenang. Tidak khawatir lagi untuk menunggu antrian sampai sore.
Bagi saya pemandangan dan hawa di rumah sakit selalu tidak menarik. Penuh dengan bau obat dan bau pengap. Ketika menuju mushala untuk shalat, ada pemandangan yang membuat saya merasa prihatin waktu itu. Di emperan rumah sakit dekat WC, dingin dan pengap ada seorang anak laki-laki yang tertidur lemas di atas bangsal.
Memprihatinkan sekali, rumah sakit segini besarnya.. tetapi tidak ada tempat yang lebih layak untuk menampung satu orang pasien yang sesegera mungkin membutuhkan perawatan. Suami istri itu menunggui anaknya dengan wajah memelas. Tetapi mereka tetap setia berdiri di samping bangsal sambil sesekali memijit-mijit tangan dan kaki si anak. Ketika caek berdiri mereka duduk glangsaran di lantai tanpa beralaskan tikar. Dan di samping lalu lalang ada banyak orang yang lewat.
Lama saya amati mereka, namun sepertinya belum ada perawat atupun dokter yang mendekat untuk sekadar memeriksa kondisi pasien. 3 jam saya menunggu untuk periksa saya merasa terlantar sekali. Tapi ternyata ada kondisi yang lebih parah lagi. Apakah karena pihak keluarga tidak ada uang sehingga mereka tidak mendapatkan fasilitas ruangan yang layak? Ataukah karena ruang inap yang sudah penuh?
Yang jelas, pemandangan tadi itu masih nyata adanya di salah satu rumah sakit besar di Yogyakarta. Pihak rumah sakit seharusnya memberikan fasilitas dan pelayanan yang layak untuk semua pasiennya. Bahkan jika belum ada uang sekalipun, karena nyawa seseorang itu lebih penting dibandingkan dengan seberapapun banyaknya harta.
Dimana bukti profesionalisme seorang dokter dan perawat saat itu. Sepertinya sudah banyak dokter dan perawat yang melupakan sumpah kode etiknya. Saya yakin setiap rumah sakit mempunyai manajemen yang jelas terkait dengan biaya dan akomodasi untuk pasiennya. Namun, atas nama kemanusiaan segala sesuatu harus dipertimbangkan baik-baik. Bukan hanya fisilitas dan gedung yang layak yang menunjukkan kualitas dari sebuah rumah sakit tetapi pelayanan itu yang lebih penting. Karena setiap warga Indonesia berhak atas pelayanan kesehatan.
Kembali ke ruang e.e.g untuk mengantri, ternyata di luar ruang sudah sepi dan tidak ada lagi orang yang mengantri. Beberapa menit berlalu tidak ada tanda-tanda ada pasien periksa. Kemudian masuk seorang bapak-bapak dengan kursi rodanya ditemani suster dan keluarga yang mengantar. Lumayan lama… dan akhirnya pun meninggalkan ruangan itu, pintu pun tertutup kembali. Hmmm… saya merasa semakin merasa aneh. Akhirnya saya menemui petugas yang ada di dalam ruangan USG. Ternyata dokter yang bertugas tidak ada sehingga pemeriksaan ditunda di hari lusa. Sempat saya protes namun hasilnya sama saja.
Dua kejadian yang membuat saya agak jengkel waktu itu... Dari kejadian yang saya alami sendiri, petugas jaga yang tidak professional dalam menangani pasien hingga tiga jam lamanya kami terlantar. Dan juga karena pihak rumah sakit yang menelantarkan pasien di trotoar seenaknya saja.
Namun, dari kejadian ini ada hikmah yang membuat saya trenyuh.. Melihat bapak ibuk yang menunggui anaknya tadi, mereka begitu setia menunggui, menyuapi, memijit meskipun capek berdiri. Kesedihan mereka tidak di tampakkan didepan anaknya. Matanya terlihat sayu dan memelas tapi berusaha untuk tetap terlihat tegar.
 Ingat2lah... dalam kondisi apapun orang tua adalah orang yang paling setia mendampingi kita. baik di waktu lapang maupun sempit. Jadi janganlah kita membebani mereka bahkan menyakiti mereka. Pengorbanan mereka untuk anaknya melebihi kemampuan yang mereka miliki, karena bagi mereka seorang ana itu bak harta yang paling berharga di dunia.
Lalu pengorbanan apa yang sudah kita lakukan untuk mereka selama ini??? hanya kita yang tau… yang terpenting adalah sesegera mungkin mari kita persembahkan doa, pelayanan dan kebahagiaan yang terbaik untuk kedua orang tua kita. 

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Komentar anda kami tunggu...