Senin, 04 Maret 2013

PENGELOMPOKAN LEARNING STYLE UNTUK MENANAMKAN
 PENDIDIKAN KARAKTER*

Review
            Education  is the one of  the  nation  success parameter. The nation  that have a good education will be proud by international. All of expert can created  with education . Education also can created  the scientific, astronaut,  politics, and  the other professions .  Based on the concern of The education rule “Sisdiknas” 2003 about  some of the aim of national education in Indonesia is to expand  the potentials  of students to became an human that has intelligent,  personality, and a good behavior, so characters building must be implemented on education.
            Characters building on the students can be implemented with characters education. In Indonesia, character education was there since  the years ago, but didn’t effective yet. So, it must be evaluated by all of  education’s  side. Characters education will be achieve by student if the teacher have an emotional approaching with student. Transferring  morality and spiritual message will be easier if the teacher knowing student’s learning style. By knowing and understanding’s teacher to student’s learning style, hopefully that student can achieving the message and can be adhering on the student’s self. For the example, visual’s student will be easier to achieve morality and spiritual message about  a good character that must be have by their self with slide in the projector or visual media, but it doesn’t effective to auditory student. Based on the case, we offering an innovation  with topic, “ Learning Style Classification to implemented character building”
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan tonggak keberhasilan suatu Negara. Keberhasilan suatu negara terletak pada keberhasilan pemimpin dalam memimpin rakyatnya. Rakyat yang berkependidikan belum cukup untuk menjadikan suatu negara menjadi kuat dan berhasil di mata dunia. Namun keberhasilan itu bisa dilihat dari seberapa tinggi derajad dan martabat negara tersebut.
  Akhir-akhir ini Indonesia mengalami beberapa kebobrokan di bidang kepemerintahan yaitu sebagai contoh kasus Gayus Tambunan, kasus Melinda dee, dan berbagai kasus korupsi yang lain. Hal ini mengindikasikan sikap dan karakter yang menyimpang. Seorang Gayus dulunya juga merupakan siswa yang mengenyam bangku sekolah, yang seharusnya memiliki jiwa dan berbudi pekerti yang luhur. Namun nampaknya karakter pemuda bangsa yang menjadi harapan negara tersebut telah luntur. Kasus-kasus tersebut memunculkan sebuah pertanyaan mengenai penanaman budi pekerti yang seharusnya melekat disetiap diri peserta didik. Jika ditinjau lebih lanjut, kasus tersebut sangat bertentangan dengan visi dan misi pendidikan dalam tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian dan berakhlak mulia. Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin,  karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Dengan adanya ketimpangan tersebut maka muncul pendidikan karakter.
Sebenarnya pendidikan karakter sudah ada sejak awal pendidikan di  Indonesia. Sesuai dengan pendapat Bagus Mustakim (2011:2), pembentukan karakter bangsa merupakan tujuan pendidikan nasional yang telah ada dalam UU No.4 tahun 1950, UU No.12 tahun 1954, UU No.2 tahun 1989, sampai UU. No.20 tahun 2003. Namun dengan  perkembangan ilmu, sosial, dan politik yang semakin kompleks maka sekarang ini memang dibutuhkan kajian pendidikan karakter yang lebih mendalam. Tidak hanya pendidikan karakter yang dikaji namun juga pendidikan yang berkarakter dalam menanamkan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
1.2 Tujuan dan Manfaat
 1.2.1 Tujuan
 Tujuan dari penyampaian gagasan ini adalah untuk mengembangkan keilmuan dan membantu dalam mencari inovasi pengembangan pendidikan karakter bagi siswa.
1.2.1 Manfaat
Membentuk prilaku siswa yang berkarakter dan menciptakan  budaya sekolah yang sehat untuk menunjang pencapaian tujuan pembelajaran menuju bangsa yang bermartabat.

GAGASAN
2.1 Kondisi Pendidikan di Indonesia
Paradigma baru pendidikan diarahkan dalam rangka menyiapkan masa depan bangsa di era global yang kompetitif. (Restra Pendidikan.Nasional 2005-2009). Yaitu dengan memberdayakan semua warga Negara Indonesia menjadi manusia yang berkualitas, sehingga dapat proaktif dalam menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Tujuan pendidikan paradigma baru ini telah sedikit demi sedikit tercapai. Produk pendidikan Indonesia sekarang bukan hanya mencetak manusia yang cerdas tapi juga dapat mengikuti derasnya arus global. Dari prestasi Indonesia mulai mampu bersaing dengan negara lain. Dalam bidang akademis,olimpiade misalnya para saintis dari Indonesia mampu mempersembahkan hasil yang cukup membanggakan. Calon saintis-saintis kecil mulai bermunculan. Dalam sea games tahun ini Indonesia menduduki level prestasi teratas dengan mendapatkan emas, perak dan perunggu terbanyak. Ini membuktikan bahwa Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara Asia dalam oalgraga.
Banyak produk pendidikan Indonesia yang berkualitas. Tetapi tidak semua yang berkualitas itu dapat mengabdikan dirinya, kepinterannya, dan idenya itu untuk kemaslahatan dan membangun bangsa. Malainkan untuk kemaslahatan diri sendiri. Itulah masalah yang membutuhkan pemikiran yang dalam.
            Pendidikan yang mengandalkan intelektual saja, tidak menjamin bisa membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik jika tidak diimbangi dengan akhlak, kepribadian dan karakter yang baik.  Dalam berbagai media masa tak henti-hentinya diwacanakan tentang tingkah manusia Indonesia yang kelakuanya tidak manusiawi. Membunuh, korupsi, pemerkosaan dan kelakuan keji lainnya. Ini menunjukkan bahwa masih ada produk pendidikan Indonesia yang moralnya tidak beres. Padahal kebanyakan yang melakukan hal tersebut adalah orang-orang yang berpendidikan dan berintelektual. Ini menujukkan bahwa pendidikan karakter merupakan kebutuhan mendasar dalam pendidikan.
Perlunya pendidikan karakter dan budipekerti adalah untuk menyeimbangi pendidikan intelektual supaya jika saatnya nanti diberi amanah untuk memimpin negeri, para generasi mampu mempunyai karakter yang baik sehingga mampu menyelesaikan permasalahan di Indonesia tanpa merugikan rakyatnya.
Pendidikan karakter kebangsaan telah lama dicanangkan, bahkan sejak era Presiden Soekarno. Namun, ia mengakui, dalam perjalanannya banyak mengalami pasang surut. Terdapat tiga pendapat yang berkembang tentang pendidikan karakter. Pertama, bahwa pendidikan karakter bangsa diberikan berdiri sendiri sebagai suatu mata pelajaran. Pendapat kedua, pendidikan karakter bangsa diberikan secara terintegrasi dalam mata pelajaran PKn, pendidikan agama, dan mata pelajaran lain yang relevan. Pendapat ketiga, pendidikan karakter bangsa terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran.
Dalam bebrapa tahun terakhir ini mulai digebcarkan lagi penerapan pendidikan karakter. karakter tidak masuk dalam kurikulum namun diintegrasikan kesemua mata pelajaran. Karena penanaman pendidikan karakter bukan tanggung jawab beberapa mata pelajaran seperti Agama dan PKn. selama ini upaya pengintergrasian pendidikan karakter yang utuh disiapkan melalui RPP yang berkarakter. Namun, dalam penerapannya belum maksimal. Materi yang banyak dan kondisi siswa yang beragam membuat guru kesusahan dalam penanaman pendidikan karakter. Sehingga pergatian guru kepada seluruh siswa terbatas. Kesempatan guru untuk mengenali dan memahami karakter siswa terbatas.

2.2 Pengembangan Pendidikan Karakter dengan Pendekatan Gaya Belajar
Penanaman pendidikan karakter membutuhkan proses dan waktu yang lama. Padahal pembentukan moral bangsa yang baik adalah kebutuhan yang mendesak. Sehingga diperlukan suatu inovasi pendidikan yang efektif dalam pengembangan pendidikan karakter. Yang efektif dalam mencapai prestasi moral dan mengembangkan kemampuan intelektualnya.
Menurut Cohen dalam Degeng (1989), terdapat tiga kemungkinan variasi pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu kurikulum terpadu (integrated curriculum), hari terpadu (integrated day), dan pembelajaran terpadu (integrated learning).
Disini penulis mencoba menawarkan bentuk pembelajaran dengan mengefektifkan system pembelajaran yang ada. untuk mendukung perkembangan kecerdasan kognitif siswa dan membangun karakter siswa. Dengan membuat pembelajaran terpadu (integrated learning) yaitu pengelompokan learning style untuk mengembangkan pendidikan karakter.
2.2.1 Gaya Belajar  (Learning Style)
Gaya belajar adalah cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi dari lingkungan dan memproses informasi tersebut. Setiap siswa mempunyai kencenderungan gaya belajar berbeda-beda. Sehingga dalam belajar juga membutuhkan perlakuakn dan proses yang berbeda. Pembelajaran akan efektif  dan bermakna bagi siswa jika guru mampu menyampaikan pembelajaran dengan pendekatan gaya belajar siswa. Sehingga seorang guru harus mampu memahami gaya belajar setiap siswa.
Menurut Howard Gardner gaya belajar siswa dibagi menjadi empat yaitu gaya belajar  Auditory, Visual, Reading dan Kinesthetic.
Auditory, orang yang memiliki gaya belajar Auditory, belajar dengan mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan.
Visual, orang yang memiliki gaya belajar menggunakan penglihatan sebagai sara utama untuk belajar. Sehingga bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham.
Reading, orang yang memiliki gaya belajar Reading, belajar dengan menitikberatkan pada tulisan atau catatan. Karakteristik ini benar-benar menempatkan bacaan atau tulisan sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan.
Kinesthetic, orang yang memiliki gaya belajar, Kinesthetic mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Sehingga dalam pembelajarannya lebih baik jika menggunakan proses yang disertai kegiatan fisik dan menggunakan alat peraga.
2.2.2 Pembentukan Pendidikan karakter
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. 
Pendidikan karakter dalam 4 pilar pendidikan UNESCO adalah learing to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Pilar ketiga dan keempat berkaitan langsung dengan karakter manusia. Proses pencapaian learing to know dan learning to do akan dipengaruhi oleh karakter manusia.
Penanaman pendidikan karakter melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Pendidikan karakter yang diterapkan dengan sistematis akan membentuk pribadi yang cerdas emosinya. Daniel Goleman menyatakan keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80%  dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20%  ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Artinya kecerdasan emosi ini adalah bekal dalam menghadapi tantangan untuk berhasil secara akademis.
Proses penanaman pendidikan karakter adalah secara bertahap. Dari membangun kecerdasan emosi siswa kemudian melatih siswa untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Sehingga terbentuk watak, dan kepribadian yang yang berkarakter. Akhirnya terbentuklah prilaku- prilaku yang baik seperti disiplin , tekun, tanggung jawab, ketelitian, kerja sama , toleransi , percaya diri dan keberanian.
Berdasarkan penelitian Bobbi dePotter, kegagalan siswa dalam mencerna informasi dalam belajar adalah tidak sesuainya gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Ini sesuai dengan kondisi sekolah-sekolah di Indonesia yang menggelompokkan siswa berdasarkan prestasinya tanpa memandang kecerdasan dan gaya belajar yang dimiliki siswa. Meskipun dalam kelas tersebut siswa mempunyai tingkat IQ yang sama namun akan sulit bagi guru dalam mengakomodir siswa karena kondisi yang heterogen.
Kondisi kelas yang heterogen menjadi masalah bagi guru untuk melakukan pendekatan dan melakukan pembinaan kepada siswa. Maka perlu dibangun hubungan emosional antara guru dan siswa. Guru  harus memahami karakter siswa, kecenderungan gaya belajar dan kecerdasan siswa. Untuk memudahkan guru dalam membangun hubungan emosional dapat dilakukan dengan pendekatan gaya belajar siswa. Sehingga akan efektif jika pengelompokan siswa adalah berdasarkan gaya belajarnya.
Output dari proses pembelajaran adalah perkembangan dari ranah kognitif, afektif dan psikomotorik siswa selain itu juga karakter siswa. Yang perlu diperhatikan dalam penanaman pendidikan karakter adalah perubahan dan pembentukan karakter tidak bisa dilakukan dalam waktu sesaat. Karena pembentuka karakter membutuhkan proses. Dan minimnya waktu belajar siswa di sekolah-sekolah. Sehingga sistem Classification Learning Styles akan lebih membantu dalam mengefektifkan penanaman pendidikan karakter.
Keuntungan yang didapatkan guru jika system klasifikasi siswa berdasarkan kecenderungan gaya belajar adalah:
Pertama, guru akan mudah dalam menentukan strategi pembelajaran yang akan disampaikan karena siswa yang ada dikelas tersebut memiliki kecenderungan gaya belajar yang sama. Sehingga pembelajaran kan lebih bermakna. Kemampuan kognitif dan kecerdasan siswa akan lebih cepat berkembang.
Kedua, memudahkan guru untuk membangun hubungan emosional dengan semua siswa yang ada dikelas tersebut dengan cara pendekatan gaya belajar yang mereka sukai. Siswa yang merasa puas dengan pembelajarannya akan menghormati gurunya dan akan terjalin kedekatan emosional antara guru dan siswa. Kedekatan siswa dan guru secara emosional akan mempengaruhi proses penanaman karakter dan pemberian instruksi kepada siswa. Meskipun secara fitrah setiap siswa mempunyai karakter dan prilaku yang sudah melekat dalam dirinya namun lingkungan juga berpengaruh dalam pembentukan karakter.
Ketiga, guru akan lebih mudah dalam mengembangkan potensi kecerdasan siswa karena telah memahami kecerdasan yang dimilikinya. Berdasarkan penelitian Howard Gardner, gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki siwa tersebut. Maka siswa yang mempunyai gaya belajar yang sama maka cebderung memiliki kecerdasan yang sama.
Keempat, memberikan ruang bagi guru untuk memberikan keteladanan. Suksesnya pendidikan karakter tidak terlepas dari peran guru sebagai stake holder yang menjadi kunci sukses tidaknya penanaman karakter siswa untuk memberikan keteladanan dan budaya sekolah mealui pembiasaan dalam kehidupan keseharian di sekolah.
Dalam proses belajar tidak dapat dipisahkan antara proses mengajar dan mendidik. Karena pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. (Ki Hajar Dewantoro). Pembelajaran dengan system pengelompokan berdasarkan gaya belajar tersebut akan efektif dalam pengembangan kecerdasan yang dimiliki siswa. Karena berdasarkan penelitian Howard Gardner, gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki siswa tersebut. Selain itu menjadi sarana yang baik bagi guru untuk membangun hubungan emosional dengan siswa. Membangun kedekatan, memahami karakter dan melakuakn usaha untuk menanamkan prilaku yang baik.

2.3 Pihak Pendukung Pendidikan Karakter
Pihak-pihak yang dipertimbangkan dapat membantu mengimplementasikan gagasan dan uraian peran atau kontribusi masing-masingnya,
1.    BSNP ( Badan Standar Nasional Pendidikan)
BSNP dapat merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar tentang karakter lebih spesifik kemudian dijadikan standar isi pendidikan, yaitu dengan menyusun kompetensi akademik dan karakter dalam standar isi yang intregatif.
2.    Kepala Sekolah
a.    menentukan kebijakan system pendidikan di sekolah yaitu tentang  kurikuluum pendidikan karakter
b.    memfasilitasi berupa training, bisa keluar atau sekolah bisa mengadakan
c.    melakukan kontroling dan monitoring terhadap jalannya implementasi inovasi pendidikan karakter
3.    Guru
a.    menjadi stake holder ( pengendali sikon) dan penerapannya
b.    mendorong siswa untuk lebih meng-eksplor kreativitas tetapi bermoralitas
c.    memfasilitasi siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda sehingga dapat diarahkan ke hal-hal yang positif
4.    Keluarga
a.    mendukung program sekolah berupa kerjasama dengan pihak sekolah tentang penanganan untuk membentuk karakter siswa
b.    dilibatkan dalam bentuk training pendidikan karakter
c.    menjadi orangtua yang lebih demokratis bukan otoriter
5.    Lingkungan sekitar sebagai pendukung program pemerintah tentang pelaksanaan pendidikan karakter

2.4 Langkah Strategis Penanaman Pendidikan karakter
Sebagai langkah awal adalah setiap tahun dilakukan MIR (multiple intelligent resech) untuk mengetahui gaya belajar masing-masing siswa. Karena kecerdasan siswa setiap tahun dapat berubah. Kemudian kelas dibagi berdasarkan kecenderungan gaya belajar. Dengan masing-masing kelas maksimal 30 siswa agar pembelajaran dapat kondusif. Sekolah dapat membagi menjadi dua tipe kelas yaitu kelas visual dan audio. Karena mayoritas siswa dapat dikelompokkan ke dalam kedua kelas tersebut. Perlakuan guru dalam kedua kelas tersebut akan berbeda, disesuaikan dengan gaya belajarnya.
Strategi yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan pendidikan karakter pada kelas visual dan auditori adalah sebagai berikut:
2.4.1 Kelas Visual
Dalam kelas visual strategi yang dapat dilakuakn oleh gur adalah sebagai berikut:
1.        Pemutaran klip/film penuh hikmah di awal pembelajaran sebagai motivasi.
2.        Guru menyampaiakan pembelajaran dengan asosiasi visual
3.        Memberi rekomendasi siswa untuk membaca buku-buku yang menarik minat siswa.
4.        Memperhatikan “seni bahasa” dalam berbicara.
5.        Menggunakan media sebagai sarana pembelajaran seperti OHP, slide power point,
6.        Pemutaran film untuk menanamkan karakter siswa.
7.        Memberikan tauladan dengan menonolkan tingkah laku dan kebiasaan yang dilakukan oleh guru.
8.        Membuat kesepakatan tertulis tentang kontrak belajar reward dan punishment dalam belajar.
9.        Memberikan proyek-proyek yang sesuai dengan kecerdasan siswa.
10.    Melakuakn demonstrasi dalam pembelajaran.
11.    Menggunakan metode-metode pembelajaran kooperativ learning untuk membiasakan berbicara dalam kelompok.
12.    Menjelaskan dengan peta, gambar, skema, tabel atau bahkan siklus.
13.    Guru sedikit memberikan catatan namun lebih efektif jika siswa diberikan bahan atau diminta mencari bahan belajar sendiri.
2.4.2 Auditori
Dalam kelas visual strategi yang dapat dilakuakn oleh gur adalah sebagai berikut:
1.    Menyampaikan cerita atau sejarah yang penuh hikmah untuk memotivasi siswa di awal pembelajaran.
2.    Penyajian kelas banyak dengan diskusi dan kerja kelompok.
3.    Meminimalisir kegiatan mencatat
4.    Menggunakan media audio dalam pembelajaran misalnya dengan power point, macromedia flash.
5.    Pemutaran film unutk menanamkan karakter siswa.
6.    Metode pembelajaran yang dapat dilakukan adalah ekspositori, ceramah, diskusi dan dapat dikembangkan dengan metode yang baya melibatkan siswa untuk berbicara dan mendengarkan.
7.    Menggunakan musik.
8.    Menggunakan metode-metode belajar cooperative learning untuk membiasakan siswa kerjasama dan dudukdengan tertib.
9.    Guru memfasilitasi anak dengan rekaman dan kaset yang berisi materi pembelajaran.
Pendidikan karakter akan berhasil jika proses tersebut selalu terintegral dalam budaya-budaya belajar, lingkungan sekolah dan lingkungan bermain. Salah satu tempat yang efektif dalam penanaman karakter siswa adalah sekolah. Upaya yang dapat dilaksanakan adalah dengan mengincludkan dalam proses KBM pada setiap mata pelajaran, menciptakan budaya sekolah, dalam kegiatan ekstra kurikuler. Selain itu perlu dilakukan pemantauan sekolah terhadap kebiasaan siswa di rumah. Sehingga orang tua juga berperan untuk bekerjasama dengan guru membentuk prilaku siswa.

KESIMPULAN
Pembelajaran akan bermakna jika gaya mengajar guru sama dengan gaya belajar siswa. Kondisi ini akan memudahkan guru untuk mencapau tujuan pembelajaran. Pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang menghasilkan dampak instruksional (dampak kognitif, afektif dan psikomotorik) dan dampak pengiring (pembentukan prilaku dan karakter) pada siswa. Maka dalam system pembelajaran harus dilakukan pengelompokan siswa berdasarkan kecenderungan gaya belajarnya. Dengan demikian akan mudah bagi guru untuk membangun kedekatan emosional dengan siswa. Maka akan mudah bagi guru untuk mengendalikan siswa, memberikan nasehat dan instruksi kepada siswa. Sehingga memberikan ruang yang lebih untuk menanamkan pendidikan karakter.
 *oleh susanti dan rofiqoh Y.A

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar

Komentar anda kami tunggu...