Bagian 1
*Sejarah perkembangan ilmu filsafat
Kajian dalam
filsafat adalah segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Terdapat dua
pendapat filsuf Pemenides dan Heraklitos yang menjadi cikal bakal perkembangan
filsafat hingga sekarang. Menurut Permenides segala sesuatu yang ada dan yang
mungkin ada bersifat tetap dan menurut Heraklitos segala sesuatu yang ada dan
yang mungkin ada bersifat berubah. Kedua filsafat ini meliputi segala sesuatu
yang menempatkan material diurutan paling bawah, formal, normative dan
spiritual teratas. Setelah bertahun-tahun Plato menggembangkan ide Permenides
dalam konsep idealism nya dan ide Heraklitos dikembangkan oleh murid Plato,
Aristoteles dengan gagasan realism nya.
Idealism kemudian
dikembangkandengan gagasan rasionalism yang bersifat analitik apriori oleh Rene
Descartes. Dimana segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada selalu mempunyai
koherensi. Realism dikembangkan lagi oleh David Hume dengan gagasan besarnya
tentang empirisme yang bersifat sintetik apriori. Dimana segala sesuatu yang
ada dan yang mungkin ada selalu mempunyai korelasi.
Pada
perkembangan filsafat modern Immanuel Kant mensinergikan ide besar empirisme
dan rasionalisme. Proses sinergi dilakukan dengan melibatkan intuisi pengalaman
dalam ruang dan waktu. Agar menjadi ilmu logika turun dan pengalaman naik. Konsep
keilmuan yang dicetuskan Immanuel Kant adalah sintesis apriori. Sintetik
apriori adalah proses berfikir tertinggi yang melibatkan judgement
(memutuskan, berpendapat) berada dalam teori bloom dan evaluai. Menurut Immanuel
Kant pengambilan keputusan adalah bagian kecerdasan
Dalam sejarah
perjalanan ilmu filsafat muncul seorang filsuf yang tidak menyukai cara
berfikir filsafat yang di gagas oleh para filsuf terdahulu. Auguste Comte menentang
ilmu filsafat yang ada terlalu teoritis, njlimet, dan kurang praktis dan
aplikatif. Auguste Comte menggagas
konsep positivism yang menjadi tonggak perkembangan pluralism. Dimana
menempatkan spiritual dibawah tradisional dan kemajuan teknologi dan tradisional
di antara spiritual dan kemajuan teknologi dan informasi. Maka sekarang
penguasa dunia adalah negara yang mampu mengembangkan teknologi, informasi dan
komunikasi. Menekankan pada pengembangan ilmu sains dan melupakan hakikat dari
keseimbangan alam.
Dampak dari
pemikiran positivism, Auguste Comte adalah adanya power now yang tidak
dapat dihentikan. Dimana empat pilar power
now tersebut adalah neo capitalism, neo hedonism, neo pragmatism dan
neo utilitalian. Power now yang ada berpengaruh besar dari masa ke
masa di setiap elemen masyarakat dari mulai archaic (masyarakat batu),
masyarakat trimbal, tradisional, feudal, modern, post modern, dan post post
modern (kontemporer). Melihat power now yang ada sekarang maka tidak ada
solusi yang dapat dilakukan untuk meminimalisir pengaruhnya kecuali dengan
meningkatkan spiritualitas (dzikir) mengingat Tuhan setiap waktu.
Perkembangan
filsafat secara umum menjadikan pluralism dan monoisme. Pluralism berkembang
dari teori Heraklitos yang mengagung-angungkan kehidupan dunia. Degan berbagai
ilmu dan temuan tanpa batas. Dan monoism berkembang dari teori permenides, yang
memandang kedalam akherat daripada kehidupan dunia. Berkat filsafat bermunculan
berbagai disiplin ilmu antara lain gorgrafi, geologi, ontologi, epistimologi
dan yang lainnya. Untuk menyeimbangkan kehidupan ini perlu mensinergikan antara
pluralism dan monoism. Menerima dampak pluralism sebagai sarana mengikuti
perkembangan ilmu dan tantangan majunya tingkat kehidupan dan tetap melandaskan
segala sesuatu dengan spiritualism untuk mencapai kebahagiaan dunia dan
akherat.

0 komentar:
Posting Komentar
Komentar anda kami tunggu...