PENGELOMPOKAN LEARNING STYLE UNTUK MENANAMKAN
PENDIDIKAN KARAKTER*
Review
Education is the one of
the nation success parameter. The nation that have a good education will be proud by
international. All of expert can created
with education . Education also can created the scientific, astronaut, politics, and
the other professions . Based on
the concern of The education rule “Sisdiknas” 2003 about some of the aim of national education in
Indonesia is to expand the
potentials of students to became an
human that has intelligent, personality,
and a good behavior, so characters building must be implemented on education.
Characters building on the students
can be implemented with characters education. In Indonesia, character education
was there since the years ago, but
didn’t effective yet. So, it must be evaluated by all of education’s
side. Characters education will be achieve by student if the teacher
have an emotional approaching with student. Transferring morality and spiritual message will be easier
if the teacher knowing student’s learning style. By knowing and understanding’s
teacher to student’s learning style, hopefully that student can achieving the
message and can be adhering on the student’s self. For the example, visual’s
student will be easier to achieve morality and spiritual message about a good character that must be have by their
self with slide in the projector or visual media, but it doesn’t effective to
auditory student. Based on the case, we offering an innovation with topic, “ Learning Style Classification
to implemented character building”
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pendidikan merupakan tonggak
keberhasilan suatu Negara. Keberhasilan suatu negara terletak pada keberhasilan
pemimpin dalam memimpin rakyatnya. Rakyat yang berkependidikan belum cukup
untuk menjadikan suatu negara menjadi kuat dan berhasil di mata dunia. Namun
keberhasilan itu bisa dilihat dari seberapa tinggi derajad dan martabat negara
tersebut.
Akhir-akhir ini Indonesia mengalami beberapa kebobrokan di bidang
kepemerintahan yaitu sebagai contoh kasus Gayus Tambunan, kasus Melinda dee,
dan berbagai kasus korupsi yang lain. Hal ini mengindikasikan sikap dan
karakter yang menyimpang. Seorang Gayus dulunya juga merupakan siswa yang
mengenyam bangku sekolah, yang seharusnya memiliki jiwa dan berbudi pekerti
yang luhur. Namun nampaknya karakter pemuda bangsa yang menjadi harapan negara
tersebut telah luntur. Kasus-kasus tersebut memunculkan sebuah pertanyaan
mengenai penanaman budi pekerti yang seharusnya melekat disetiap diri peserta
didik. Jika ditinjau lebih lanjut, kasus tersebut sangat bertentangan dengan
visi dan misi pendidikan dalam tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk
manusia Indonesia yang berkepribadian dan berakhlak mulia. Menurut Ki Hajar
Dewantara pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi
pekerti (kekuatan batin, karakter),
pikiran (intellect), dan tubuh anak. Dengan adanya ketimpangan tersebut maka
muncul pendidikan karakter.
Sebenarnya
pendidikan karakter sudah ada sejak awal pendidikan di Indonesia. Sesuai dengan pendapat Bagus
Mustakim (2011:2), pembentukan karakter bangsa merupakan tujuan pendidikan
nasional yang telah ada dalam UU No.4 tahun 1950, UU No.12 tahun 1954, UU No.2
tahun 1989, sampai UU. No.20 tahun 2003. Namun dengan perkembangan ilmu, sosial, dan politik yang
semakin kompleks maka sekarang ini memang dibutuhkan kajian pendidikan karakter
yang lebih mendalam. Tidak hanya pendidikan karakter yang dikaji namun juga
pendidikan yang berkarakter dalam menanamkan dan membentuk karakter serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
1.2 Tujuan dan
Manfaat
1.2.1 Tujuan
Tujuan
dari penyampaian gagasan ini adalah untuk mengembangkan keilmuan dan membantu
dalam mencari inovasi pengembangan pendidikan karakter bagi siswa.
1.2.1 Manfaat
Membentuk
prilaku siswa yang berkarakter dan menciptakan budaya sekolah yang sehat untuk menunjang
pencapaian tujuan pembelajaran menuju bangsa yang bermartabat.
GAGASAN
2.1 Kondisi Pendidikan di Indonesia
Paradigma baru pendidikan diarahkan dalam rangka menyiapkan masa
depan bangsa di era global yang kompetitif. (Restra Pendidikan.Nasional
2005-2009). Yaitu dengan memberdayakan semua warga Negara Indonesia menjadi
manusia yang berkualitas, sehingga dapat proaktif dalam menjawab tantangan
zaman yang selalu berubah.
Tujuan pendidikan paradigma baru ini telah sedikit demi sedikit
tercapai. Produk pendidikan Indonesia sekarang bukan hanya mencetak manusia
yang cerdas tapi juga dapat mengikuti derasnya arus global. Dari prestasi
Indonesia mulai mampu bersaing dengan negara lain. Dalam bidang
akademis,olimpiade misalnya para saintis dari Indonesia mampu mempersembahkan
hasil yang cukup membanggakan. Calon saintis-saintis kecil mulai bermunculan.
Dalam sea games tahun ini Indonesia menduduki level prestasi teratas dengan
mendapatkan emas, perak dan perunggu terbanyak. Ini membuktikan bahwa Indonesia
mampu bersaing dengan negara-negara Asia dalam oalgraga.
Banyak produk pendidikan Indonesia yang berkualitas. Tetapi tidak
semua yang berkualitas itu dapat mengabdikan dirinya, kepinterannya, dan idenya
itu untuk kemaslahatan dan membangun bangsa. Malainkan untuk kemaslahatan diri
sendiri. Itulah masalah yang membutuhkan pemikiran yang dalam.
Pendidikan yang
mengandalkan intelektual saja, tidak menjamin bisa membawa Indonesia menjadi
negara yang lebih baik jika tidak diimbangi dengan akhlak, kepribadian dan
karakter yang baik. Dalam berbagai media masa tak henti-hentinya diwacanakan tentang
tingkah manusia Indonesia yang kelakuanya tidak manusiawi. Membunuh, korupsi,
pemerkosaan dan kelakuan keji lainnya. Ini menunjukkan bahwa masih ada produk
pendidikan Indonesia yang moralnya tidak beres. Padahal kebanyakan yang
melakukan hal tersebut adalah orang-orang yang berpendidikan dan
berintelektual. Ini menujukkan bahwa pendidikan karakter merupakan kebutuhan
mendasar dalam pendidikan.
Perlunya
pendidikan karakter dan budipekerti adalah untuk menyeimbangi pendidikan
intelektual supaya jika saatnya nanti diberi amanah untuk memimpin negeri, para
generasi mampu mempunyai karakter yang baik sehingga mampu menyelesaikan
permasalahan di Indonesia tanpa merugikan rakyatnya.
Pendidikan
karakter kebangsaan telah lama dicanangkan, bahkan sejak era Presiden Soekarno.
Namun, ia mengakui, dalam perjalanannya banyak mengalami pasang surut. Terdapat
tiga pendapat yang berkembang tentang pendidikan karakter. Pertama, bahwa
pendidikan karakter bangsa diberikan berdiri sendiri sebagai suatu mata
pelajaran. Pendapat kedua, pendidikan karakter bangsa diberikan secara
terintegrasi dalam mata pelajaran PKn, pendidikan agama, dan mata pelajaran
lain yang relevan. Pendapat ketiga, pendidikan karakter bangsa terintegrasi ke
dalam semua mata pelajaran.
Dalam bebrapa
tahun terakhir ini mulai digebcarkan lagi penerapan pendidikan karakter.
karakter tidak masuk dalam kurikulum namun diintegrasikan kesemua mata
pelajaran. Karena penanaman pendidikan karakter bukan tanggung jawab beberapa
mata pelajaran seperti Agama dan PKn. selama ini upaya pengintergrasian pendidikan
karakter yang utuh disiapkan melalui RPP yang berkarakter. Namun, dalam
penerapannya belum maksimal. Materi yang banyak dan kondisi siswa yang beragam
membuat guru kesusahan dalam penanaman pendidikan karakter. Sehingga pergatian
guru kepada seluruh siswa terbatas. Kesempatan guru untuk mengenali dan
memahami karakter siswa terbatas.
2.2 Pengembangan Pendidikan Karakter dengan
Pendekatan Gaya Belajar
Penanaman
pendidikan karakter membutuhkan proses dan waktu yang lama. Padahal pembentukan
moral bangsa yang baik adalah kebutuhan yang mendesak. Sehingga diperlukan
suatu inovasi pendidikan yang efektif dalam pengembangan pendidikan karakter.
Yang efektif dalam mencapai prestasi moral
dan mengembangkan kemampuan intelektualnya.
Menurut Cohen
dalam Degeng (1989), terdapat tiga kemungkinan variasi pembelajaran terpadu
yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan
progresif yaitu kurikulum terpadu (integrated curriculum), hari terpadu
(integrated day), dan pembelajaran terpadu (integrated learning).
Disini penulis mencoba menawarkan bentuk pembelajaran dengan
mengefektifkan system pembelajaran yang ada. untuk mendukung perkembangan
kecerdasan kognitif siswa dan membangun karakter siswa. Dengan membuat pembelajaran
terpadu (integrated learning) yaitu pengelompokan
learning style untuk mengembangkan pendidikan karakter.
2.2.1 Gaya Belajar (Learning Style)
Gaya
belajar adalah cara yang cenderung dipilih seseorang untuk menerima informasi
dari lingkungan dan memproses informasi tersebut. Setiap siswa
mempunyai kencenderungan gaya belajar berbeda-beda. Sehingga dalam belajar juga
membutuhkan perlakuakn dan proses yang berbeda. Pembelajaran akan efektif dan bermakna bagi siswa jika guru mampu
menyampaikan pembelajaran dengan pendekatan gaya belajar siswa. Sehingga
seorang guru harus mampu memahami gaya belajar setiap siswa.
Menurut Howard Gardner gaya belajar siswa
dibagi menjadi empat yaitu gaya belajar Auditory,
Visual, Reading dan Kinesthetic.
Auditory, orang yang memiliki gaya belajar Auditory,
belajar dengan mengandalkan pendengaran untuk bisa memahami sekaligus
mengingatnya. Karakteristik model belajar ini benar-benar menempatkan
pendengaran sebagai alat utama untuk menyerap informasi atau pengetahuan.
Visual, orang yang memiliki gaya belajar menggunakan
penglihatan sebagai sara utama untuk belajar. Sehingga bukti-bukti konkret
harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham.
Reading, orang yang memiliki gaya belajar Reading,
belajar dengan menitikberatkan pada tulisan atau catatan. Karakteristik ini
benar-benar menempatkan bacaan atau tulisan sebagai alat utama untuk menyerap
informasi atau pengetahuan.
Kinesthetic, orang yang memiliki gaya belajar, Kinesthetic
mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan
informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Sehingga dalam pembelajarannya
lebih baik jika menggunakan proses yang disertai kegiatan fisik dan menggunakan
alat peraga.
2.2.2
Pembentukan Pendidikan karakter
Karakter
adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk
hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan
negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat
keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia
buat.
Pembentukan
karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas
tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah
mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan
akhlak mulia.
Pendidikan karakter dalam 4 pilar pendidikan
UNESCO adalah learing to know, learning to do, learning to be dan learning to
live together. Pilar ketiga dan keempat berkaitan langsung dengan karakter
manusia. Proses pencapaian learing to know dan learning to do
akan dipengaruhi oleh karakter manusia.
Penanaman
pendidikan karakter melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan
(feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek
ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Pendidikan karakter yang
diterapkan dengan sistematis akan membentuk pribadi yang cerdas emosinya.
Daniel Goleman menyatakan keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata
80% dipengaruhi oleh kecerdasan emosi,
dan hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan
otak (IQ). Artinya kecerdasan emosi ini adalah bekal dalam menghadapi tantangan
untuk berhasil secara akademis.
Proses
penanaman pendidikan karakter adalah secara bertahap. Dari membangun kecerdasan
emosi siswa kemudian melatih siswa untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang
baik. Sehingga terbentuk watak, dan kepribadian yang yang berkarakter. Akhirnya
terbentuklah prilaku- prilaku yang baik seperti disiplin , tekun, tanggung
jawab, ketelitian, kerja sama , toleransi , percaya
diri dan keberanian.
Berdasarkan penelitian Bobbi dePotter,
kegagalan siswa dalam mencerna informasi dalam belajar adalah tidak sesuainya
gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Ini sesuai dengan kondisi
sekolah-sekolah di Indonesia yang menggelompokkan siswa berdasarkan prestasinya
tanpa memandang kecerdasan dan gaya belajar yang dimiliki siswa. Meskipun dalam
kelas tersebut siswa mempunyai tingkat IQ yang sama namun akan sulit bagi guru
dalam mengakomodir siswa karena kondisi yang heterogen.
Kondisi kelas yang heterogen menjadi masalah
bagi guru untuk melakukan pendekatan dan melakukan pembinaan kepada siswa. Maka
perlu dibangun hubungan emosional antara guru dan siswa. Guru harus memahami karakter siswa, kecenderungan
gaya belajar dan kecerdasan siswa. Untuk memudahkan guru dalam membangun
hubungan emosional dapat dilakukan dengan pendekatan gaya belajar siswa.
Sehingga akan efektif jika pengelompokan siswa adalah berdasarkan gaya
belajarnya.
Output dari proses pembelajaran adalah
perkembangan dari ranah kognitif, afektif dan psikomotorik siswa selain itu
juga karakter siswa. Yang perlu diperhatikan dalam penanaman pendidikan
karakter adalah perubahan dan pembentukan karakter tidak bisa dilakukan dalam
waktu sesaat. Karena pembentuka karakter membutuhkan proses. Dan minimnya waktu
belajar siswa di sekolah-sekolah. Sehingga sistem
Classification Learning Styles akan lebih membantu dalam mengefektifkan
penanaman pendidikan karakter.
Keuntungan yang didapatkan guru jika system
klasifikasi siswa berdasarkan kecenderungan gaya belajar adalah:
Pertama, guru akan mudah dalam menentukan
strategi pembelajaran yang akan disampaikan karena siswa yang ada dikelas
tersebut memiliki kecenderungan gaya belajar yang sama. Sehingga pembelajaran
kan lebih bermakna. Kemampuan kognitif dan kecerdasan siswa akan lebih cepat
berkembang.
Kedua, memudahkan guru untuk membangun hubungan
emosional dengan semua siswa yang ada dikelas tersebut dengan cara pendekatan
gaya belajar yang mereka sukai. Siswa yang merasa puas dengan pembelajarannya
akan menghormati gurunya dan akan terjalin kedekatan emosional antara guru dan
siswa. Kedekatan siswa dan guru secara emosional akan mempengaruhi proses
penanaman karakter dan pemberian instruksi kepada siswa. Meskipun secara fitrah
setiap siswa mempunyai karakter dan prilaku yang sudah melekat dalam dirinya
namun lingkungan juga berpengaruh dalam pembentukan karakter.
Ketiga, guru akan lebih mudah dalam
mengembangkan potensi kecerdasan siswa karena telah memahami kecerdasan yang
dimilikinya. Berdasarkan penelitian Howard Gardner, gaya belajar siswa
tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki siwa tersebut. Maka siswa
yang mempunyai gaya belajar yang sama maka cebderung memiliki kecerdasan yang
sama.
Keempat, memberikan ruang bagi guru untuk
memberikan keteladanan. Suksesnya pendidikan karakter tidak terlepas dari peran
guru sebagai stake holder yang menjadi kunci sukses tidaknya penanaman karakter
siswa untuk memberikan keteladanan dan budaya sekolah mealui pembiasaan dalam
kehidupan keseharian di sekolah.
Dalam proses belajar tidak dapat dipisahkan
antara proses mengajar dan mendidik. Karena pendidikan adalah daya upaya untuk
memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect),
dan tubuh anak. (Ki Hajar Dewantoro). Pembelajaran dengan system
pengelompokan berdasarkan gaya belajar tersebut akan efektif dalam pengembangan
kecerdasan yang dimiliki siswa. Karena berdasarkan penelitian Howard Gardner,
gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki siswa
tersebut. Selain itu menjadi sarana yang baik bagi guru untuk membangun
hubungan emosional dengan siswa. Membangun kedekatan, memahami karakter dan
melakuakn usaha untuk menanamkan prilaku yang baik.
2.3 Pihak Pendukung Pendidikan Karakter
Pihak-pihak
yang dipertimbangkan dapat membantu mengimplementasikan gagasan dan uraian
peran atau kontribusi masing-masingnya,
1.
BSNP
( Badan Standar Nasional Pendidikan)
BSNP dapat merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar
tentang karakter lebih spesifik kemudian dijadikan standar isi pendidikan,
yaitu dengan menyusun kompetensi akademik dan karakter dalam standar isi yang
intregatif.
2.
Kepala
Sekolah
a.
menentukan
kebijakan system pendidikan di sekolah yaitu tentang kurikuluum pendidikan karakter
b.
memfasilitasi
berupa training, bisa keluar atau sekolah bisa mengadakan
c.
melakukan
kontroling dan monitoring terhadap jalannya implementasi inovasi pendidikan
karakter
3.
Guru
a.
menjadi
stake holder ( pengendali sikon) dan penerapannya
b.
mendorong
siswa untuk lebih meng-eksplor kreativitas tetapi bermoralitas
c.
memfasilitasi
siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda sehingga dapat diarahkan ke hal-hal
yang positif
4.
Keluarga
a.
mendukung
program sekolah berupa kerjasama dengan pihak sekolah tentang penanganan untuk
membentuk karakter siswa
b.
dilibatkan
dalam bentuk training pendidikan karakter
c.
menjadi
orangtua yang lebih demokratis bukan otoriter
5.
Lingkungan
sekitar sebagai pendukung program pemerintah tentang pelaksanaan pendidikan
karakter
2.4 Langkah Strategis Penanaman Pendidikan
karakter
Sebagai langkah awal adalah setiap tahun
dilakukan MIR (multiple intelligent resech) untuk mengetahui gaya
belajar masing-masing siswa. Karena kecerdasan siswa setiap tahun dapat
berubah. Kemudian kelas dibagi berdasarkan kecenderungan gaya belajar. Dengan
masing-masing kelas maksimal 30 siswa agar pembelajaran dapat kondusif. Sekolah
dapat membagi menjadi dua tipe kelas yaitu kelas visual dan audio. Karena
mayoritas siswa dapat dikelompokkan ke dalam kedua kelas tersebut. Perlakuan
guru dalam kedua kelas tersebut akan berbeda, disesuaikan dengan gaya
belajarnya.
Strategi yang dapat dilakukan guru untuk
mengembangkan pendidikan karakter pada kelas visual dan auditori adalah sebagai
berikut:
2.4.1 Kelas Visual
Dalam kelas visual strategi yang dapat
dilakuakn oleh gur adalah sebagai berikut:
1.
Pemutaran klip/film penuh hikmah di awal pembelajaran
sebagai motivasi.
2.
Guru menyampaiakan pembelajaran dengan asosiasi
visual
3.
Memberi rekomendasi siswa untuk membaca
buku-buku yang menarik minat siswa.
4.
Memperhatikan “seni bahasa” dalam berbicara.
5.
Menggunakan media sebagai sarana pembelajaran
seperti OHP, slide power point,
6.
Pemutaran film untuk menanamkan karakter siswa.
7.
Memberikan tauladan dengan menonolkan tingkah
laku dan kebiasaan yang dilakukan oleh guru.
8.
Membuat kesepakatan tertulis tentang kontrak
belajar reward dan punishment dalam belajar.
9.
Memberikan proyek-proyek yang sesuai dengan
kecerdasan siswa.
10.
Melakuakn demonstrasi dalam pembelajaran.
11.
Menggunakan metode-metode pembelajaran kooperativ
learning untuk membiasakan berbicara dalam kelompok.
12.
Menjelaskan dengan peta, gambar, skema, tabel atau bahkan siklus.
13.
Guru sedikit memberikan catatan namun lebih efektif jika
siswa diberikan bahan atau diminta mencari bahan belajar sendiri.
2.4.2 Auditori
Dalam kelas visual strategi yang dapat
dilakuakn oleh gur adalah sebagai berikut:
1.
Menyampaikan cerita atau sejarah yang penuh
hikmah untuk memotivasi siswa di awal pembelajaran.
2.
Penyajian kelas banyak dengan diskusi dan kerja
kelompok.
3.
Meminimalisir kegiatan mencatat
4.
Menggunakan media audio dalam pembelajaran
misalnya dengan power point, macromedia flash.
5.
Pemutaran film unutk menanamkan karakter siswa.
6.
Metode pembelajaran yang dapat dilakukan adalah
ekspositori, ceramah, diskusi dan dapat dikembangkan dengan metode yang baya
melibatkan siswa untuk berbicara dan mendengarkan.
7.
Menggunakan musik.
8.
Menggunakan metode-metode belajar cooperative
learning untuk membiasakan siswa kerjasama dan dudukdengan tertib.
9.
Guru memfasilitasi anak dengan rekaman dan
kaset yang berisi materi pembelajaran.
Pendidikan karakter akan berhasil jika proses
tersebut selalu terintegral dalam budaya-budaya belajar, lingkungan sekolah dan
lingkungan bermain. Salah satu tempat yang efektif dalam penanaman karakter
siswa adalah sekolah. Upaya yang dapat dilaksanakan adalah dengan mengincludkan
dalam proses KBM pada setiap mata pelajaran, menciptakan budaya sekolah, dalam
kegiatan ekstra kurikuler. Selain itu perlu dilakukan pemantauan sekolah
terhadap kebiasaan siswa di rumah. Sehingga orang tua juga berperan untuk
bekerjasama dengan guru membentuk prilaku siswa.
KESIMPULAN
Pembelajaran akan bermakna jika gaya mengajar
guru sama dengan gaya belajar siswa. Kondisi ini akan memudahkan guru untuk
mencapau tujuan pembelajaran. Pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran
yang menghasilkan dampak instruksional (dampak kognitif, afektif dan
psikomotorik) dan dampak pengiring (pembentukan prilaku dan karakter) pada
siswa. Maka dalam system pembelajaran harus dilakukan pengelompokan siswa
berdasarkan kecenderungan gaya belajarnya. Dengan demikian akan mudah bagi guru
untuk membangun kedekatan emosional dengan siswa. Maka akan mudah bagi guru
untuk mengendalikan siswa, memberikan nasehat dan instruksi kepada siswa.
Sehingga memberikan ruang yang lebih untuk menanamkan pendidikan karakter.
*oleh susanti dan rofiqoh Y.A